Ngepos via Hape

Singgah di Mesjid Muhammadiyah dan Mesjid Ahmadiyah

Dalam tulisan jum’at menulis kali ini tidak bernuansa tema khutbah seperti sebelumnya. Tulisan sebelumnya banyak mengangkat tentang isi khutbah yang disampaikan oleh khatib. Untuk tulisan kedua dalam jum’at menulis tidak akan menyinggung isi khutbah. Pada kesempatan ini saya mencoba berbagi rasa dan aura yang saya dapatkan di hari jum’at ini.

Tepatnya disebuah mesjid yang terletak tak jauh dari perempatan jalan arah bandar buat kota padang. Sekitar 500 meter dari perempatan lampu merah itu berdiri tegak mesjid yang dihiasi lambang muhammadiyah. Sebuah ormas pembaharuan yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan dari Yogyakarta.

Seperti biasanya mesjid muhammadiyah cukup banyak di daerah Sumatra Barat. Salah satunya berada di sekitar daerah bandar buat. Namun, cara pengurus mesjid ini menarik infak dan sedekah dari jama’ah terlihat unik dari pada mesjid muhammadiyah lainnya, terutama disaat ibadah jumat.

Di mesjid lain saya menjumpai pengurus mesjid menyediakan semacam wadah dari bambu (bakul) untuk digilir diantara jama’ah jumat. Ada pula dengan memanfaatkan baskom kecil sebagai tempat menaruh uang. Sedikit lebih canggih, pengurus mesjid terkadang membuat tempat sumbangan dari kaca dan aluminium.

Mesjid muhammadiyah di bandar buat ini berbeda dengan mesjid-mesjid lainnya dalam hal tempat menarik sumbangan. Pengurus mesjid tidak menggunakan bakul, baskom dan lemari kaca. Pengurus malah memanfaatkan mobil mainan anak-anak sebagai wadah tempat sumbangan jama’ah. Mobil mainan itu mirip dengan mobil truck kontanier dengan box di belakangya. Sedikit sentuhan kreatif, mobil mainan itu diberi lobang di bagian atas untuk memasukan uang sumbangan. Lalu pintu belakang mobil mainan tersebut digembok layaknya mobil sungguhan.

Saya cukup geli melihat mobil itu melintas diantara jema’ah mesjid. Jama’ah memasukan amal infak dan sedekah mereka ke dalam mobil mainan itu. Dalam pikirku kreatif juga pengurus mesjid disana. Ingin sekali saya memfoto mobil mainan tersebut agar bisa disandingkan dalam tulisan ini. Sayang, rasanya kurang tepat untuk mengambil gambar disaat khutbah berlangsung. Sehingga saya putuskan berbagi melalui tulisan saja.

Lain mesjid Muhammadiyah, lain pula mesjid Ahmadiyah. Sebelumnya saya disini tidak akan membahas terkait dengan masalah akidah, iman, dan ajaran Ahmadiyah. Disini saya mencoba membagi rasa kepada semuanya berkenan dengan kunjungan pertama saya di mesjid Ahmadiyah.

Awalnya saya dan seorang teman tidak bermaksud singgah di mesjid Ahmadiyah untuk menunaikan shalat magrib. Entah kenapa Tuhan mengarahkan kami untuk mampir disana. Sebelumnya sudah hampir tiga mesjid kami lewati sepanjang perjalanan. Namun, kami tidak berhenti di ketiga mesjid itu. Kami malah berhenti di mesjid Ahmadiyah, sebelum perempatan.

Berhubung sudah kebelet pipis, akhirnya perjalanan kami labuhkan di mesjid mubarak sambil shalat berjamaah. Kami tidak mengira bahwa kami singgah di mesjid Ahmadiyah. Sesampai disana barulah kami tahu bahwa ini adalah mesjid jama’at ahmadiyah.

Kejadian bentrok di Cikeusik yang lampau membuat kami sedikit terusik. Kami merasa canggung untuk bergabung dengan jama’at ahmadiyah. Begitu juga dengan mereka yang agak was-was dengan pendatang baru seperti kami. Saya mencoba bersikap seperti biasanya. Namun, dalam pikiran selalu menerawang tentang polemik ahmadiyah. Teman saya sudah mulai tampak gelisah takkala shalat jama’ah belum jua dimulai. Padahal di mesjid lain sudah terdengar shalat magrib sudah hampir selesai.

Ternyata imam shalat belum datang, kami dengan hening menunggu. Sempat terlintas dalam pikiran kapan shalat jama’ah dimulai. Setelah menunuggu beberapa waktu, akhirnya imam datang dan langsung menunaikan shalat berjamaah. Shalat jamaat Ahmadiyah seperti shalat umat muslim lainnya. Tidak ada yang beda, shalat Magrib tetap ditunaikan sebanyak tiga rakaat.

Selesai shalat saya mencoba untuk memperhatikan dan membaca pamflet yang tertempel di pengumuman mesjid. Disana terpampang pernyataan sikap warga ahmadiyah berkait dengan polemik ahmadiyah di Indonesia. Disamping pengumuman itu berderat berbagai kliping yang membahas tentang ahmadiyah. Bahkan ada sebuah artikel dengan foto SBY yang menyikapi persoalan kisruh ahmadiyah di Cikeusik.

Ada satu lembar pengumuman yang membuat saya menjadi penasaran dan terheran-heran. Saya heran karena saya tidak tau maksud dari pengumuman itu yang bertuliskan “Dilarang Menjadi Imam Shalat di Daerah Kekuasaan Orang Lain”. Tulisan ini merujuk kepada hadis yang diriwayatkan oleh muslim dan …. (saya lupa nama yang satunya lagi).

Pengumuman yang bertulis larang menjadi imam di teritorial kekusaan orang lain itu tidak hanya terpajang di papan pengumuman, melainkan juga tertempel di dalam mesjid. Sampai sekarang saya bertanya-tanya apa maksud dari perkataan tulisan diatas. Terlebih lagi dengan merujuk kepada salah satu hadist. Saya sendiri tidak tahu persis bobot hadist ini. Bagiamanapun, perjalanan singgah di mesjid muhammadiyah dan ahmadiyah memberikan kesan tersendiri bagi saya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s