Ngepos via Hape

Berdirinya Partai Nasional Demokrat

Partai Nasional Demokrat

Semenjak reformasi mahasiswa pada tahun 1998 bergulir, kran politik mengalir deras di Indonesia. Salah satunya adalah munculnya banyak partai baru. Sebelumnya orde baru membatasi sistem kepartaiaan hanya tiga partai. Setelah orde baru lengser, sistem tersebut tidak berlaku lagi. Berbagai macam partai politik hadir dalam kancah perpolitikan di indonesia.

Pemilu tahun 1999, 2004 dan 2009 menjadi ajang bagi partai politik untuk berebut kekuasaan. Bahkan ratusan partai lahir semenjak reformasi ini, akan tetapi hanya puluhan partai yang terverifikasi oleh komisi pemilihan umum untuk mengikuti pemilu. Belakangan partai-partai tersebut tidak hanya diseleksi oleh KPU tapi juga diseleksi oleh alam. Banyak partai gurem yang tidak mampu bertahan.

Seleksi alam tersebut tidak menyurutkan masyarakat untuk mendirikan partai politik. Akhir-akhir ini gerakan masyarakat yang dipelopori oleh surya paloh membentuk Nasional Demokrat (NASDEM). Ormas Nasdem terlahir dari inisiatif dari kader-kader Golkar yang menginginakan perubahan dan kemajuan bangsa. Gencaran pemberitaan Nasdem di media, terutama metro TV membuat ormas pimpinan Surya Paloh ini cukup diperhitungkan di dalam dunia politik Indonesia. Publik menduga bahwa Nasedem bukan hanya sekedar ormas, tapi Nasdem akan berevolusi menjadi partai politik.

Dugaan tersebut tidak dapat dipungkiri setelah beredar foto spanduk Partai Nasional Demokrat di Twitter (Sumber Gambar : klik disini dan disini). Gambar yang memperlihatkan dibawah logo Nasdem tertulis kata “partai Nasdem “. Keberadaan foto ini cukup prematur karena ormas Nasedem sendiri belum menyatakan bahwa Nasdem telah menjadi partai politik.

Pembuatan Spanduk Partai Nasional Demokrat

Lambat laun ormas Nasdem akan bermetamorfosis menjadi partai politik. Gelagat tersebut sudah nampak ketika organisasi masyarakat ini terbentuk. Berangkat dari pasca munas Golkar yang membuat Surya Paloh tersingkir oleh Aburizal Bakrie dalam perebutan kursi ketua umum Partai Golkar. Tak lama berselang, setelah kekalahan itu Surya Paloh mendeklarasikan ormas Nasdem. Deklarasi itu seakan bentuk dari kekecewaan politik Surya Paloh dalam perebutan ketua umum partai Golkar.

Kehadiran Partai Nasdem semakin menambah perbendaharaan partai politik di negeri ini. Pemilu berikutnya yang diadakan pada tahun 2014 memang masih tiga tahun lagi. Waktu tiga tahun bukanlah waktu yang singkat menggalang energi untuk pertarungan di pemilu 2014. Strategi Nasdem melaunching diri menjadi partai politik jauh hari sebelum pemilu 2o14 adalah langkah untuk membangun pencitraan, sebagaimana pencitraan selama ini dengan label ormasnya.

Kita tunggu, apakah gambar-gambar spanduk yang beredar di twitter tersebut adalah bagian dari persiapan berdirinya partai Nasional Demokrat. ((1103282302trt))

(Sumber Gambar : klik disini dan disini)
Iklan

4 thoughts on “Berdirinya Partai Nasional Demokrat

  1. Sempalan gokar ha ha ha. . .

    Kalau media tv, lbh sering, atau cuman muncul d televisi pendiri. Spt Kata iklan “hemat beb!”

    Mau jadi parpol atau tidak, yg jelas sudah membangun kekuatan baru.

    Suka

  2. Mereka mau coblos PND (Partai Nasional Demokrat) dan lainnya, asal calo-calo terutama yang bersuku Batak itu diberantas habis dan selamanya dari terminal bus Puloigaudng. Batak memang perlu dibunuh, kata Aminah.

    Baca tuntas ini:

    Terminal Pulogadung Dikuasai Calo, Polisi Diam Saja
    TEMBILAHAN (RP)- Hati-hati jika anda “pulang kampoang” naik bus dari terminal bus Pulogadung. Anda bisa diperas calo-calo di terminal tersebut. Para penumpang berjanji tidak akan pilih Partai Demokrat, partainya SBY, sebelum calo-calo itu dibersihkan habis dan selamanya dari termilanl tersebut.

    “Aku diplorot celanaku dan dipaksa membayar Rp 85.000 lebih mahal dari tiket resmi oleh calo-calo Batak itu,” ujar Sukardi, usia 59 tahun.

    Bapak tua itu menuturkan kepada RP di kampung halamannya di Tembilahan, kabupaten Indragiri Hilir, provinsi Riau, setelah pulang dari terminal Pulogadung dari mengunjungi putra pertamanya yang tinggal di Jakarta beberapa hari sebelumnya.

    “Saya tidak tahu kalau banyak [calo-calo] Batak disana [di terminal Pulogadung]. Katanya setelah SBY jadi presiden, calo-calo Batak tidak ada lagi. Buktinya masih banyak,” ujar Sukardi.

    Aminah, 15, anak perempuan Sukardi, mengisahkan cerita ayahnya. “Calo-calo Batak itu memaksa setiap penumpang membayar Rp 80.000 – Rp 100.000 lebih mahal dibandingkan harga resmi tiket ke Riau. Beda-beda. Ada yang dicatut Rp 50.000, ada yang sampai Rp 150.000. Ayahku mulanya memprotes, calo itu marah lalu … ,” ujar Aminah, sambil menangis tersedu, kasihan pada ayahnya yang dipermalukan di depan umum tanpa salah apa-apa.

    “Setelah kami masuk melalui pintu utara terminal, kami didorong-dorong, ditarik-ditarik Batak-batak itu ke loket. Kami tidak berani melawan, kecuali Ayah memprotes tapi dengan mulut. Calo-calo Batak itu banyak sekali. Mereka membuntuti terus kami dari belakang,” ujar Aisah, 18, kakak Aminah, dengan geram.

    Beberapa penumpang lainnya dari bus yang tiba di Riau itu mengaku mereka memang dipaksa membayar Rp 50.000 – Rp 150.000 lebih mahal dari harga tiket resminya saat di terminal Pulogadung, dan para penumpang mengiakan peristiwa penelanjangan Sukardi oleh para calo tersebut.

    “Betul, kasihan. Orang tua tadi itu memang ditelanjangi calo-calo Batak di Pulogadung. Banyak yang melihat kejadian itu. Dua polisi berseragam, di terminal itu juga melihat dan diam saja,” ujar Tasrip, 50, warga dari sebuah desa di kecamatan Tembilahan.

    “Polisi diam karena mendapat bagian. Setiap penumpang dicatut Rp 50.000 – Rp150.000, sebagian duit itu pasti untuk polisi,” ujar Tasrip, dan mengatakan dia dipaksa membayar Rp 90 .000 lebih mahal oleh calo-calo tersebut.

    “Mungkin karena Presiden SBY [Susilo Bambang Yudhoyono] tidak tegas, atau mungkin ada pihak-pihak lawannya yang ngrecoki untuk memberi kesan SBY tidak tegas. Harusnya dia [SBY] menindak tegas polisi-polisi korup itu dan memberantas calo-calo itu,” ujar Tasrip.

    Joni, 34, penumpang lainnya yang berjualan di Tanah Abang asal kota Riau bersama banyak penumpang lainnya, mengatakan mereka kapok dan tidak akan pulang melalui terminal Pulogadung kalau SBY tidak minindak tegas kepala polisi Pulogadung. “Calo-calo itu harus diberantas habis dan selamanya dan tidak boleh malah dikasih seragam. Itu sama saja melegalkan calo. Polisi-polisi yang membiarkan harus diberhentikan pula,” ujar Joni, kesal.

    “Aku diperlakukan kayak binatang, diplorot celanaku. Aku sangat malu dibuatnya. Kurang ajar mereka itu semua. Pemilu yang akan datang aku tidak pilih Partai Demokrat [partainya SBY]. Saya akan pilih PKS,” ujar Sukardi, pak tua yang malang itu. “Saya juga akan pilih partai yang lain,” ujar dua putrinya.

    “Saya sejak dulu golput dan akan terus golput, tak ada yang bener, tak ada yang mempedulikan orang-orang kecil seperti kami,” ujar Tasrip. “Saya tidak akan pilih Partai Demokrat, tidak akan pilih PDI-P, tidak akan pilih Gerindra, tidak akan pilih Hanura, tidak semuanya,” ujar Joni, senada dengan Tasrip.

    Ketika ditanya partai apakah yang diharapkan bisa mengatasi masalah. “Ada. Nasdem (Nasional Demokrat) kalau organisasi massa itu menjadi partai. Jadi kita akan pilih Partai Nasional Demokrat,” kata Tasrip.

    “Kalau aku sudah tak percaya lagi sama partai. Lebih baik mereka membuktikan mampu membersihkan calo-calo itu selamanya baru aku percaya. Surya Paloh [pemimpin Nasdem] pasti juga akan berkoalisi dengan SBY jadi percuma. Lebih baik golput terus,” ujar Joni.
    Menurut mereka, ada dua pintu di terminal bus Pulogadung. Pertama, pintu selatan menuju terminal bagian selatan untuk tujuan Jawa Timur dan Madura, dikuasai oleh calo-calo suku Jawa, yang menurut mereka, berperilaku cukup baik, tidak pernah memaksa dan hanya mengarahkan ke loket dan tidak minta uang serupiah pun. Kedua, pintu utara menuju terminal bagian utara untuk tujuan Sumatra, dikuasai calo-calo Batak.

    “Jika penumpang tidak sadar lalu masuk dari pintu utara terminal Pulogadung itu, habislah dia, diperas calo-calo Batak itu,” ujar Tasrip.

    Jalil, 25, penumpang asal Tembilahan pula, yang bersosok tinggi dan kurus, menambahkan: “Calo-calo Batak itu sengaja dipelihara oleh polisi-polisi terminal Pulogadung. Mereka sudah lama disana. Selalu muncul dari sekitar pintu masuk dan pintu gerbang dan juga di dalam terminal itu. Mereka dibiarkan. Calo-calo Batak itu semakin kurang ajar dan semakin berani kepada penumpang, karena polisi terminal Pulogadung ngeper [tidak berani menertibkan calo-calo itu]. Hari ini tertib, seminggu lagi mereka sudah berada disana lagi,” ujar Jalil. (Denny).

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s