Ngepos via Hape

Empat Kunci Menggapai Kebahagiaan

Tulisan ini merupakan implementasi dari Hari Jum’at = Hari Menulis seperti yang pernah saya posting sebelumnya. Dari sekian banyak ibadah jum’at yang pernah dijalani, jarang sekali yang meninggalkan kesan. Artinya, yang disampaikan khatib hanya terlintas disaat jum’at saja karena apa yang disampaikan berlalu seperti angin.

Di kemudian hari pesan moral dari khatib saat khutbah jum’at sering kali terlupakan. Walau demikian tidak tertutup kemungkinan pesan tersebut tersimpan dalam alam bawah sadar dan terlupakan di alam sadar akibat keterbatasan daya ingat.

Berangkat dari sifat pelupa itulah saya mencoba untuk belajar menuliskan apa yang saya terima ketika saat ibadah jum’at. Sehingga secara sadar saya bisa merangkai dalam bentuk kata agar bisa saya baca kembali di kemudian hari. Tulisan kali ini berangkat dari khutbah jum’at di mesjid Taqwa Taratak yang terletak di Kota Pariaman, Sumatra Barat.

*****

Azan berkumandang ketika posisi matahari berada diatas ubun-ubun. Laki-laki muslim berduyun mendatangi mesjid untuk menunaikan ibadah jum’at. Sesampai di mesjid saya menjumpai pedagang obat kaki lima yang menggelar dagangannya di halaman mesjid. Mendengar suara azan tersebut, pedagang obat langsung menutup lapaknya dan bersegera mengikuti ibadah jum’at.

Seperti biasa, khatib naik mimbar dan memulai dangan rukun jum’at yang telah ditentukan sesuai syariat. Kali ini khatib mengangkat tema ketenangan hati. Ketenangan hati merupakan bentuk lain dari sebuah kebahagiaan seorang manusia. Manusia akan merasa bahagia apabila hati mereka tenang dan damai.

Untuk dapat mencapai kebahagiaan/ketenangan hati tersebut ada empat kunci yang perlu agar bisa memasuki kebahagiaan

1. Menjauhi larangan Allah

Menjahui larangan Allah merupakan kunci pertama agar kita bisa menemukan ketenangan hati. Dengan meninggalkan perbuatan dosa maka hati kita akan merasa tenang. Sebagai contoh, perbuataan korupsi atau mencuri merupakan tindakan dosa yang dilarang oleh Allah. Seorang koruptor atau pencuri tidak akan merasa tenang hatinya karena ia akan dihantui ketakutan. Takut bila perbuatan mereka diketahui oleh orang lain dan membuat mereka mendekam di dalam penjara. Sehingga hati mereka merasa gelisah dan selalu dibayangi kecemasan. Melakukan perbuatan yang dilarang oleh Allah SWT tidak hanya berimbas dosa saja, melainkan berdampak terhadap psikologis pelaku.

2. Rumah tangga yang harmonis

Rumahmu adalah surgamu. Istilah tersebut bukanlah isapan jempol belaka. Rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tapi rumah merupakan sarana untuk menggapai kebahagiaan. Keluarga yang harmonis akan lahir dari rumah tangga yang dibangun dengan kasih sayang. Ketenangan hati tidak bisa dirasakan ketika rumah tangga berantakan, orang sekarang menyebut dengan broken home.

Dalam sebuah rumah tangga pastinya ada semacam perbedaan seperti perbedaan pendapat. Bila perbedaan ini tidak bisa disikapi dengan bijak, maka rumah tangga akan mengarah kepada pertengkaran dan bahkan berujung perceraian. Kita tidak akan merasa nyaman pulang ke rumah jika dirumah selalu ada keributan, baik antara suami dengan istri maupun antara anak dengan orang tua.

Percuma punya duit banyak jika di rumah tidak bisa menemukan kebahagiaan, ujung-ujungnya mencari pelarian ke luar rumah. Paling pelarian tersebut hanya mendapatkan kesenangan sesaat, bukan kebahagiaan. Tentunya kebahagiaan direnggut oleh kondisi rumah tangga yang tidak harmonis tersebut. Oleh karena itu, membangun rumah tangga harmonis merupakan kunci kedua menggapai ketenangan hati.

3. Menerima kenyataan (bersyukur)

Kaya dan Miskin merupakan amanah yang diberikan oleh Allah kepada umatnya. Orang kaya bertanggung jawab mengeluarkan hartanya dengan berbagi kepada yang kurang mampu. Orang kaya belum otomatis menemukan kebahagiaan dengan harta kekayaan yang dimiliki. Begitu pula dengan si miskin, belum tentu juga orang miskin itu hidup tidak bahagia. Malahan orang miskin terkadang lebih bahagia dari pada orang kaya.

Si Miskin tidak lagi dipusingakan menjadi miskin karena mereka sudah miskin. Sedangkan si kaya akan merasa takut jatuh miskin sehingga membuat hati mereka tidak tenang. Lain lagi dengan si near poor (orang mendekati miskin) kebahagian orang-orang yang berada digaris kemiskinan ini makin merisaukan dibandingakan dengan si kaya dan si miskin. Si near poor lebih rentan miskin dibandingan dengan orang kaya, terlebih dengan konglomerat yang hampir tidak mungkin jatuh miskin.

Rasa takut itu berangkat dari tidak bersyukur atas apa yang telah diberikan Allah. Orang kaya yang tidak bersyukur tidak akan mendapatkan kebahagiaan walau memiliki harta yang banyak. Si Miskin tidak akan bahagia jika tidak bersyukur dengan karunia non materi yang dilimpahkan Allah SWT. Begitu pula dengan si near poor tidak akan menemukan kebahagiaan apabila tidak mensyukuri apa yang telah diperoleh.

Intinya dalam menemukan kebahagiaan itu kita harus bersyukur atas apa yang diberikan oleh Allah SWT, baik itu sebagai orang kaya, orang miskin maupun menjadi si near poor. Bersyukur dalam keadaan sehat dan bersyukur walau dalam keadaan sakit. Bersyukur di saat senang dan bersyukur pula disaat tertimpa musibah. Apapun kondisi hidup yang dialami, dengan bersyukur kita akan merasakan kebahagiaan.

4. Mendekatkan diri kepada Allah

Kunci terakhir menggapai kebahagiaan adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah. Allah mencintai orang-orang yang dekat kepadaNYA. Beribadah adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah. Ibadah yang diwajibkan kepada umat manusia adalah bagian dari sarana untuk dekat kepada Allah, sehingga semakin dekat kita kepada Allah maka semakin mudah bagi kita untuk bisa bersyukur, membangun rumah tangga yang harmonis dan menjauhi laranganNYA. Dengan mencapai semua itu maka kita akan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya. ((1103260055trt))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s