Penting Gak Yaa

Tradisi Bajapuik (3): Kebohongan si Adam dan si Hawa

Cinta memang buta. Bila dua insan manusia telah dimabuk cinta, apapun akan dilakukan. Halangan dan rintangan akan dilewati. Tak peduli lagi dengan segala macam aturan dan norma. Segala macam batasan tersebut akan diruntuhkan demi cinta.

Kisah ini adalah kisah cinta si Adam dan si Hawa. Adam bukan seorang nabi, ia hanya orang kampung yang sedang dilanda asmara. Pelabuhan hati si Adam berada dicelah hati si Hawa yang kebetulan satu kampung. Yang membedakan mereka berdua adalah keberuntungan. Si Adam terlahir sebagai orang kaya. Sedangkan si Hawa keturunan orang miskin semenjak nenek moyangnya.

Sayangnya di kampung mereka berlaku aturan bahwa orang kaya dilarang kawin dengan orang miskin. Tentu peraturan ini membuat mereka seakan tidak mungkin bersatu dalam ikatan pernikahan. Untungnya si Hawa dibesarkan oleh keluarga tetangga yang hidup sederhana, dibilang kaya tidak dan dibilang miskin pun tidak. Sehingga si Hawa mempunyai daya tawar dihadapan orang tua si Adam yang sudah terlanjur kaya. Setidaknya gak miskin-miskan amat deh. Orang tua biologis boleh miskin, tapi orang tua angkat bisa dikatakan tidak miskin, alias sederhana.

Yang membuat si Adam pusing bukan sekedar persoalan miskin dan kaya. Tapi pola pikir orang tuanya terlalu konservatif dan menghambakan tradisi. Tradisi itu bernama tradisi bajapuik. Sebuah tradisi masyarakat yang memungkinkan untuk melakukan “transaksi” ekonomi dalam perkawinan. Penganten pria “dibeli” oleh penganten perempuan. Karena si Adam orang kaya maka harga yang harus dibayar untuk meminang si Adam harus mahal.

Si Adam makin pening. Kekasih hatinya si Hawa tidak akan mampu mengumpulkan uang yang telah disyaratkan oleh orang tuannya sebanyak 50 juta rupiah ditambah dengan “seekor kuda”. Dalam hal karir si Adam termasuk birokrat beruntung. Di usia yang cukup muda si Adam telah menduduki jabatan kepala dinas sebuah instansi pemerintahan lokal. Prestasi si Adam bukan karena kinerjanya, tapi karena bapak si Adam menjabat sebagai walikota.

Salah si Adam mencintai si Hawa anak orang miskin yang kuliah dengan dana beasiswa.  Uang si Hawa dan keluarga angkatnya tidak mungkin sebanyak itu, apalagi untuk membeli “seekor kuda” besi buatan jepang. Jadi mimpi si Adam mempersunting si Hawa semakin pupus dan mustahil.

Si Adam tidak kehabisan akal agar bisa membawa si Hawa ke pelaminan. Bermodalkan posisi sebagai kepala dinas, si Adam meminjam uang instansi untuk menutupi kekurangan tabungannya.  Uang tersebut digunakan si Adam untuk mengelabui kedua orang tuanya supaya si Hawa seolah-olah mampu membayar syarat yang telah diajukan.

Awalnya si Hawa menolak perbuatan si Adam yang membohongi kedua orang tuanya. Dengan sedikit bujuk rayu si Adam, akhirnya hati si Hawa luluh juga. Si Hawa ternyata menelan buah kebohongan yang disodorkan oleh si Adam.

Atas nama cinta, mereka berdua mengawali bahtera rumah tangga dengan kebohongan. Si Adam jadi juga menikahi si Hawa. Walaupun berbeda status sosial, resepsi pernikahan berlangsung meriah dan megah. Banyak undangan dari kalangan pejabat dan pengusaha. Tidak ada satu pun yang tahu dengan apa yang terjadi dengan ulah licik si Adam.

Di belakang pelaminan, si Adam memberikan uang  kepada si Hawa. Dengan uang tersebut nantinya si Hawa seolah-olah sanggup membayar uang japuik yang telah disyaratkan oleh kedua orang tua si Adam sebagai syarat “transaksi ekonomi” dalam pernikahan mereka. Meskipun berbohong, si Adam tetap merasa bahagia karena telah menikahi si Hawa pujaan hatinya.

Cinta membuat si Adam tidak bisa lagi meraba mana yang baik dan mana yang buruk.  Parahnya tradisi bajapuik ikut menyesatkan mereka berdua layaknya pohon khuldi yang menyesatkan nenek moyang umat manusia. ((1103100052pku))

Iklan

2 thoughts on “Tradisi Bajapuik (3): Kebohongan si Adam dan si Hawa

  1. ondeh ajo,, carito di ateh memang banyak tajadi pada zaman kini ko, daerah lainpun banyak yg mancamooh adat kito ko, bahkan nan takuik pacaran jo laki2 padang banyak pulo, iyo itu sisi minusnyo.

    cuman, kalo manuruik ambo, tolong ajo cari ateh dasar apo nenek moyang kito dulu mamakai adat sarupo iko.

    sahinggo kito penerusnyo tau jawaban apo yg harus di kamukoan bilo ado tanyo tentang hal itu.

    ambo lah berusaha mancari salamoko, cuma alun basuo dek ambo lai do, yo elok kito sebagai anak pariaman mancari sejarah asal-usul adat kito, mungkin kalau kito tau n mangarati bisa kito indak ikuik utuk mamburuakkan adat kito,,,

    maaf yo ajo, kalau sasek ambo bakomentar.

    salam

    Suka

    1. Ndak apo-apo uni.. sebaikanya kita mengkritisi apa yang terjadi dalam kebiasaan masyarakat kito.. apalagi hal-hal yang kurang baik.. untuk asa mulo nyo sendiri alun tauh ambo asal usulnyo lai.. menariknyo lihat yang maso kini, biar kedepannya jauh lebih baik…..

      Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s