Ngepos via Hape

Satu Meja Tiga Pengemis

Sembilan tahun silam, Panam hanya sebuah daerah di Pekanbaru yang dikelilingi semak belukar. Kini disepanjang jalan Panam berjejer pertokoan megah. Kendaraan seakan tidak pernah berhenti lalu lalang. Ketika malam tiba jalanan panam dipenuhi berbagai macam pedagang. Mayoritas berjualan aneka makanan dan minuman.

Tak ketinggalan rumah makan padang ala kaki lima yang mengisi sudut kosong jalanan Panam. Di malam minggu yang dingin ini aku terdampar di salah satu rumah makan padang. Tak ada yang menemani kecuali sepi. Kesepianku disambut dengan senyum ramah pelayan rumah makan.

Tanpa pikir panjang, aku pilih menu makanan yang menemani malam mingguku. Lalu memilih kursi untuk menyantap hidang yang aku pesan. Hampir semua meja terisi penuh, kecuali disalah satu meja yang menyisakan satu kursi kosong. Sebagai bentuk sopan santun, aku minta izin duduk satu meja dengan pelanggan yang lebih dulu mengisi meja tersebut. Permohonan izinku tidak direspon.

Akupun kaget, ternyata orang yang satu meja denganku seorang tuna netra. Tentu saja permohonanku tidak di respon karena ia tidak melihat aku duduk di depannya. Disamping tuna netra itu duduk seorang anak kecil yang lagi menikmati makanannya.

Sesekali aku menyimak perbincangan mereka. Ternyata tuna netra itu adalah bapak dari si anak kecil. Dalam saku baju bapak itu terselip kantong plastik yang berisi uang koin dan beberapa helai uang ribuan. Kantong plastik itu menandakan bahwa anak dan bapak tuna netra tersebut adalah pengemis yang mengais rezeki di sepanjang jalan Panam.

Alhamdulillah, Tuhan memberi kesempatan kepadaku menikmati makanan di malam minggu ini bersama pengemis. Aku duduk satu meja dengan pengemis. Mereka berdua begitu lahap menyantap masakan padang. Aku tidak mau menegur lagi, takutnya akan mengganggu acara makan mereka. Sambil menyuap nasi, aku selalu memperhatikan mereka. Kebahagian memancar di wajah mereka, walaupun mereka hidup dengan serba keterbatasan.

Tak lama berselang datang sepasang pengemis menghampiri meja kami. Sepasang pengemis itu langsung tersipu malu setelah sadar bahwa mereka meminta belas kasihan kepada pengemis juga. Pengemis minta uang kepada pengemis pikir ku melihat kejadian tersebut. Mungkin sepasang pengemis itu lupa bahwa pengemis juga berhak makan di rumah makan padang.

Jarang-jarang aku menemukan seorang pengemis makan di rumah makan padang. Kalaupun ada paling mereka membeli masakan padang yang dibungkus dan kadang satu bungkus dinikmati bersama-sama. Hal demikian yang membuat saya menduga sepasang pengemis tadi khilaf telah menghampiri meja kami.

Tiga menit kemudian, datang sepasang pengemis lagi. Sepasang perempuan uzur yang telah di makan usia. Kali ini mereka tidak mendekati meja kami. Padahal semua meja yang ada di rumah makan itu didatangi oleh kedua nenek-nenek tersebut. Mungkin mereka melihat yang duduk di meja kami adalah bagian dari kaum mereka. Anak yang duduk di depan ku berbisik kepada bapaknya “ndak ado inyoo kamari doh pak” (terj: mereka tidak kesini pak). Sepertinya mereka saling mengenal.

*******

Malam minggu ini sungguh menjadi malam yang cukup berkesan. Aku duduk satu meja dengan pengemis di rumah makan padang. Aku merasa senang karena bisa menyaksikan mereka bahagia dengan sesuap nasi yang menggelontor ke dalam mulut mereka. Duduk semeja dengan pengemis rasanya lebih adem daripada duduk di restoran cepat saji yang ber-AC. Rumah makan padang memang rumah makan semua kalangan. Berbeda dengan restoran cepat saji dari luar negeri yang hanya ditujukan kepada kalangan tertentu saja. Mungkin kita tidak akan pernah menemukan pengemis makan di restoran cepat saji.

Meskipun sempat terjadi insiden Pengemis minta uang kepada pengemis. Bahkan ada sepasang pengemis perempuan yang mengetahui bahwa aku duduk semeja dengan pengemis. Insiden tersebut membuat makan malam ku bersama pengemis kian berwarna.

Namun, ada satu hal yang membuat aku kecewa. Setelah selesai makan, pengemis yang semeja dengan ku itu mengeluarkan sebatang rokok dari saku celananya. Tanpa sungkan ia menghisap rokok tersebut. Aku kecewa, ternyata rokok tidak hanya mempengaruhi orang yang berkantong tebal saja. Tapi sudah menguras kantong-kantong para pengemis.

Jika saja pengemis itu tidak lagi merokok dan menabungkan uang untuk beli rokok. Maka kelak pengemis itu tidak akan lagi menjadi pengemis. Dengan uang tabungan itu si pengemis bisa membuka usaha. Atau setidaknya anak yang memandunya untuk mengemis bisa pula mandiri dengan uang tabungan itu.

Bagaimana pun satu meja dengan pengemis telah memberikan pelajaran hidup yang tidak bisa aku temukan di bangku kuliah.((1103060134pku))

Pekanbaru, 06 Maret 2011. Pukul 21.30 WIB

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s