Ngepos via Hape

Krisis Minyak di Negeri Minyak

Sudah empat hari bahan bakar minyak (BBM) langka di kota pekanbaru. Antrian tampak panjang di setiap stasiun pengisian bahan bakar (SPBU). Masyarakat rela antri berjam-jam untuk mendapatkan bensin.

Kelangkaan BBM bukan lagi menjadi pemandangan langka di Indonesia. Tidak hanya di daerah Pekanbaru saja kita menyaksikan begitu banyak kendaraan bersusun di SPBU karena kehabisan minyak. Daerah lain di juga mengalami hal serupa. Sekarang saja dalam waktu bersamaan BBM langka pula di daerah kalimantan barat seperti sambas dan pontianak.

Berbagai alasan mengemuka setelah masyarakat disibukkan dengan berjam-jam antri di SPBU. Alasan yang sering terdengar adalah distribusi BBM bermasalah karena alasan teknis, seperti kapal terlambat datang dan alasan-alasan lainnya.

Untuk daerah pekanbaru alasannya kapal yang beroperasi membawa BBM kurang maksimal mendistribusikan karena kapasitas kapal yang kecil. Sementara kebutuhan untuk kota pekanbaru tidak bisa dipenuhi oleh kapal-kapal yang merapat di pelabuhan Dumai yang notabane tempat pemasokan BBM untuk provinsi Riau. Sehingga pasokan BBM dari provinsi tetangga seperti Sumbar dan Kepulan Riau membantu mengurai kelangkaan BBM di Pekanbaru. Seperti itu kabar yang tersiar di beberapa koran lokal pekanbaru.

Di luar persoalan distribusi, fenomena kelangkaan BBM di pekanbaru sungguh terasa aneh untuk dilihat dari kaca mata awam. Kaca mata awam disini dalam arti masyarakat biasa yang tidak ingin dipusingkan dengan urusan distribusi tersebut. Urusan distribusi adalah urusan yang diurus oleh negara, dalam hal ini BP MIGAS yang bertanggung jawab dalam masalah perminyakan. Masyarakat hanya ingin kebutuhan, terutama kebutuhan BBM bisa dipenuhi atau dijaga oleh pemerintah.

Masyarakat sudah memberikan kompensasi berupa pajak dan legitimasi kepada negara untuk mengurus masalah rakyat. Sebagai bentuk timbal baliknya negara bertanggung jawab mengurus masalah rakyat. Masalah minyak adalah masalah kecil dari berbagai persoalan pelik dari negara ini. Seperti diketahui negara kita dulu pernah menjadi negara eksportir minyak yang tergabung dalam OPEC. Kemudian label sebagai eksportir berubah menjadi negara importir minyak.  Artinya dari penjual minyak menjadi pembeli minyak.

Ironis memang, tapi mau dikata apa lagi kalau sudah tidak bisa jual, ya terpaksa beli. Konsumsi minyak untuk Indonesia memang cukup besar. Sementara ladang-ladang minyak tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Dengan terpaksa negara harus beli ke negara luar. Itu baru ditingkat negara, sedangkan di tingkat rakyat tergambar dari langkanya BBM di SPBU.

Gambaran demikian terlihat dari fenomena BBM langka di pekanbaru. Daerah ini merupakan daerah penghasil minyak yang cukup besar di Indonesia. Penghasil minyak yang tinggi tidak menjamin minyak selalu tersedia. Buktinya masih bisa dijumpai masyarakat yang antri panjang disetiap SPBU di kota kayak minyak ini. Krisis minyak di negeri minyak.

Masyarakat menjadi heran, kenapa masih antri membeli minyak di daerah yang banyak mendistribusi minyak. Bukankah daerah ini penghasil minyak terbesar untuk negeri ini. Lalu kenapa bisa terjadi kelangkaan. Mudah-mudahan persoalan kelangkaan BBM ini hanya masalah teknis dan bisa pulih dengan segera. Seperti halnya kelangkaan BBM yang terjadi sesaat setelah terjadi benca gempa di padang yang terjadi karena alasan teknis karena tidak bisa mendistribusikan minyak di tengah bencana. Semoga kelangkaan BBM bisa diatasi dengan segera sehingga tidak menimbulkan kegelisahan di dalam masyarakat. ((1103081949pku))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s