Ngepos via Hape

Kisah Pilu Para Perantau

Banyak orang yang hijrah dari tanah kelahiran hanya untuk mengadu peruntungan di negeri orang. Persaingan di perantauan tidaklah mudah, ada yang mampu melewati tapi ada pula yang tak mampu mengatasi persaingan.

Sementara di tanah kelahiran hampir tidak tersisa sedikit harapan untuk menyambung kehidupan. Hamparan tanah begitu luas dengan diselimuti semak yang tak terurus. Banyak lahan-lahan kosong yang tidak produktif. Tuan tanah sudah terlanjur merantau, sehingga tanah kelahiran tidak terurus.

Kesenjangan pembangunan antara kota dengan pedesaan menjadi faktor penyebab berbondong-bondongnya para penghuni desa pindah ke perkotaan.  Bekal dari desa tidak cukup untuk mempertahankan hidup di perantauan. Mau tak mau orang-orang desa harus beradaptasi dengan kerasnya perkotaan yang dikuasai oleh kaum kapitalis.

Bahkan ada yang dengan terpaksa melepas keperawanan di tangan majikan. Sedikit yang berani melawan dengan mempertaruhkan nyawa. Darsem adalah sedikit orang perantauan yang berani mempertahankan mahkota keperempuanan yang hampir direnggut majikan. Kini nyawa Darsem berada di ujung tanduk yang hanya bisa diselamatkan dengan uang 4,6 milyar. Tak ada uang, Darsem langsung dimatikan.

Tak sedikit para perantau pergi dengan tubuh yang utuh, namun kembali dengan sepenggal tubuh yang tertinggal. Hampir sering ditemukan keringat para perantau mengering di rumah majikan. Banyak para perantau yang terlantar di bawah kolong jembatan. Bahkan ada diantara mereka melahirkan di pinggir jalan yang begitu mudah disaksikan khalayak ramai. Ada pula para mantan kembang desa yang kembali dengan bekas luka bakar di wajah yang dulu begitu menawan di mata kaum adam.

Kisah di atas hanya sekelumit kisah pilu para perantau yang tidak tersentuh pembangunan di kampung halaman. Ketidakadilan dan kesenjangan pembangunan memaksa mereka mengadu keberuntungan dengan taruhan nyawa. Kini siapa yang peduli dengan mereka?? ((1103042252pku))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s