Gak Penting Yaa

Keponakan ke-duabelas

Kebijakan satu anak satu keluarga di Cina semenjak tahun 1979 telah berdampak terhadap perlakuan terhadap anak-anak. Setidaknya ada beberapa dampak yang memprihatinkan seperti pembunuhan terhadap bayi, aborsi dan menelantarkan anak-anak. Kadang anak kedua diperlakukan dengan tidak adil dibandingkan dengan anak pertama. Bagi keluarga yang melahirkan anak kedua harus membayar denda kepada pemerintah, bila denda tidak dibayar maka hak anak seperti akta lahir dan identitas lainnya tidak diberikan oleh negara.

Hal itulah yang berlaku di Cina, tapi tidak di Indonesia. Namun, perlakuan terhadap anak di Indonesia tidak bisa dikatakan sudah adil. Negara secara tidak langsung ikut berperan dalam eskploitasi anak, perdagangan anak dan perampasan hak-hak anak. Bagaimanapun anak-anak di Indonesia cukup beruntung dari pada anak-anak yang menjadi korban kebijakan di Cina.

Bicara soal anak, saya jadi teringat dengan para keponakan saya yang saat ini masih anak-anak, bahkan ada beberapa yang sudah beranjak menjadi remaja. Sayangnya saya sering lupa berapa orang keponakan saya. Setelah diingat dan dihitung ternyata saya sudah mempunyai dua belas keponakan. Kedua belas keponakan tersebut lahir dari saudara-saudara saya yang jumlahnya juga dua belas. Artinya, orang tua saya saat ini memiliki dua belas anak dan dua belas cucu.

Lupa jumlah keponakan bukan hal asing bagi saya, karena sebelumnya saya juga suka lupa urutan saudara-saudara saya dalam keluarga inti atau keluarga batih. Itu baru dalam keluarga batih saja, belum lagi dengan keluarga satu persukuan atau saparuik, yaitu orang-orang yang dilahirkan dari satu nenek.

Untung saja orang tua saya bukan terlahir di Cina, tapi di Minangkabau yang menganut sistem matrilineal dimana garis keturunan ditarik dari garis ibu. Sementara ibu saya mempunyai dua saudara perempuan. Dari dua saudara perempuan ibu tersebut lahir empat orang lagi. Berarti keponakan saya bertambah empat orang lagi, yang dikenal dengan keponakan saparuik yaitu anak dari sepupu saya.

Cukup banyak memang, keponakan dari keluarga batih saya sudah berjumlah duabelas orang yang terdiri dari tujuh laki-laki dan lima orang perempuan. Kebalikan dari saudara sekandung saya yang terdiri dari tujuh perempuan dan lima laki-laki. Sedangkan keponakan saparuik terdiri dari satu laki-laki dan tiga perempuan. Tiga dari keempat keponakan tersebut adalah kembar, persisnya kembar tiga.

Kelak para keponakan saya tersebut akan merasa beruntung dan bangga lahir di Indonesia. Mereka merasa bangga sebagai orang Indonesia dimana dalam hati mereka tertanam semangat burung garuda. Bukan seperti generasi mamak dan orang tua mereka yang hidup ditengah degredasi identitas kebangsaan dimana burung garuda hanya melekat di baju saja. (( 1103041528pku))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s