Ngepos via Hape

Kandang Kambing di Kampung Fiksi

Orang memanggil aku Siti. Anakku dua, si bungsu bernama Roni dan kakaknya bernama Indah. Umurku sudah masuk kepala empat. Tepat pada tanggal 4 Maret 2011 ini umurku genap 46 tahun. Kata orang tuaku, aku lahir pada pukul 21.00 WIB.

Di umur yang hampir senja aku harus merawat anak-anak sendirian. Ayah dari dua anakku pergi meninggalkan kami disaat aku berumur 40 tahun. Sudah hampir enam tahun aku berperan sebagai singel parents. Ayah dari anak-anakku berselingkuh dengan wanita muda yang kebetulan tinggal di sebelah rumah orang tuaku. Ironisnya laki-laki bejat itu meninggalkan aku tepat pada tanggal 4 Maret 2005 dimana hari itu aku berulang tahun.

Kini aku menafkahi anak-anak dengan hasil beternak kambing pemberian dari sebuah lembaga amil zakat. Awalnya aku diberi dua ekor kambing. Alhamdullilah kambing-kambing itu sekarang sudah mulai berkembang. Dari kambing-kambing ini aku menggantungkan harapan kedua anak-anakku.

Ketika aku sedang memberi makan kambing di kandang belakang rumah, aku selalu ingat dengan anak-anak. Aku membayangkan kambing-kambing peliharaanku tersebut adalah jelmaan dari ayah anak-anakku. Aku ingin sekali mengutuk laki-laki yang pernah menjadi suamiku itu menjadi seekor kambing. Sayang aku bukan ibu si Malin Kundang yang bisa mengutuk anaknya menjadi batu.

Pernah suatu hari di kandang kambing, aku kesal, setelah ingat dengan pengkhiantan mantan suami ku. Aku pukul dia sekuat tenaga dengan kayu jati yang ada di kakiku. Tak ketinggalan aku juga memukul wanita yang telah mencuri suamiku dengan sekeras-kerasnya.  Tanpa aku sadari, ternyata aku bukan memukul mantan suami dan selingkuhannya. Tapi aku memukul dua ekor kambing ku yang lagi asyik makan rerumputan.

Kandang kambing ini tidak hanya membuat aku berhalusinasi akan kehadiran mantan suamiku. Kandang kambing ini telah menjadi lumbung beras keluargaku. Namun, kandang kambing ini membuat aku malu karena di kandang kambing ini aku diperkosa oleh Wildan seorang kepala desa di kampungku.

Ceritanya berawal dari satu tahun yang lalu, tepat pada malam ulang tahunku yang ke-45. Pada pukul 21.00 WIB aku mendengar ada suara berisik di kandang kambing belakang rumahku. Aku menduga ada orang yang ingin mencuri kambing peliharaanku. Dengan bermodalkan senter aku menyusuri sisi-sisi gelap dari kandang kambing. Tak ada kau seorangpun yang aku jumpai selain kambing peliharaanku.

Untuk meyakinkan aku hitung kembali jumlah kambing di dalam kandang. Setelah yakin kambingku tidak ada yang dicuri, maka aku kembali ke rumah. Sebelum sampai di rumah aku dicegat oleh seorang laki-laki yang membawa parang. Aku perhatikan wajah laki-laki itu dengan cermat. Laki-laki itu tak asing lagi dimataku, ia  Wildan pemimpin di kampungku.

Awalnya aku mengira Wildan kebetulan lewat di depan kandang kambing ku. Ternyata dugaan ku melesat. Wildan menutup mulutku sambil mengancam akan membunuh jika aku berteriak. Tanpa pikir panjang, Wildan membuka celana dalam ku dengan paksa. Aku tidak berani melawan karena di ujung tenggorokan ku sudah menanti sebilah parang tajam.

Aku hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Kandang kambing menjadi saksi bisu betapa kehormatanku dirampas oleh orang terhormat di kampungku. Setelah puas mengganyang area kewanitaanku, Wildan pergi begitu saja meninggalkanku dengan pesan agar aku tidak melaporkan kejadian hina tersebut kepada siapapun. Jika aku melapor maka aku akan dibunuhnya.

Lagi pula kepala polisi di kampungku juga masih ada hubungan saudara dengan Wildan. Mungkin tidak akan ditanggapi jika aku melaporkan Wildan ke polisi atas kasus pemerkosaan. Jangan-jangan aku yang ditangkap polisi dengan pasal pencemaran nama baik.

Sudahlah aku hanya bisa pasrah. Biarlah penderitaan ini aku tanggung sendiri. Ingin aku pergi dari kampung ini bersama anak-anakku, tapi siapa yang akan mengurus kandang kambingku. Karena kandang kambing itulah aku mampu bertahan dengan penderitaanku ini

********

Hari ulang tahun bukanlah hari membahagiakan bagiku. Aku diceraikan oleh suamiku di hari ulang tahunku yang ke-40 pada 4 Maret 2005. Lalu aku diperkosa di malam ulang tahunku yang ke-45 sekitar pukul 21,00 WIB pada tanggal 4 Maret 2001.

Sudah enam tahun aku dan anak-anakku ditinggal oleh suamiku.

Sudah setahun orang yang memperkosaku bebas berkeliaran di depan mataku.

Sulit melupakan dua kejadian buruk yang menimpa persis di hari ulang tahunku. Peristiwa kelam itu menghantui ulang tahunku dikemudian hari. Entah kebetulan atau tidak ulang tahun menjadi momok menakutkan bagiku. Hari ini adalah hari pertama aku melewati memori-memori ketakutan tersebut.

-Sekedar Fiksi di Hari Fiksi Kompasiana- ((1103050109pku))

Iklan

One thought on “Kandang Kambing di Kampung Fiksi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s