Ngepos via Hape

Sepasang PNS Ingin Menjadi Pengusaha

Dalam sebuah kesempatan, saya bertemu dengan sepasang suami istri yang lagi berlibur di objek wisata pantai yang terletak tak jauh dari rumah saya. Sepasang kekasih itu mempunyai empat (4) orang anak. Semua anaknya perempuan, anak pertama ikut suaminya merantau di tanah Jawa. Sementara anak keduanya sedang berada di rumah. Anak ketiga dan si bungsu ikut serta berlibur bersama orang tua mereka.Si bungsu yang masih duduk dibangku sekolah dasar itu begitu asik bermain ombak dangan kakaknya. Kedua orang tuanya mengamati aktifitas bermain anak-anaknya dari kejauhan. Ditengah pengawasan itu, sang ibu menggantungkan harapan yang besar kepada anak-anaknya. Dia berharap anaknya tidak ditelan oleh ganasnya gelombang kehidupan. Ia menginginkan anak-anaknya selalu memancarkan keceriaan dalam setiap hempasan ombak yang menerpa jiwa mereka.

Berbeda hal dengan bapaknya, pensiunan pegawai BUMN itu malah menampakan raut wajah yang pasrah. Tatapan matanya yang ikut mengawasi anak-anaknya bermain tampak kosong. Beban yang melekat dalam pikirannya seakan tak pernah terkikis oleh waktu. Uang pesangon yang ia terima jauh dari kata cukup untuk membesarkan anak-anaknya. Untung saja istrinya yang bersatatus sebagai pegawai negeri sipil, sehingga mampu menambal kebutuhan keluarga yang kian besar.

Hebatnya mereka tidak pernah mengeluh dengan apa yang telah mereka dapatkan. Mereka sadar bahwa diluar sana masih banyak orang-orang yang hidup dengan keterbatasan. Oleh karena itu mereka selalu mensyukuri apa yang diperoleh. Tapi mereka heran, kenapa sebagian orang-orang yang seprofesi dengan mereka selalu merasa kekurangan, padahal secara materi orang itu sudah berkecukupan. Mungkin hal ini yang mendorong rekan-rakan sejawatnya terjebak dalam prilaku-prilaku koruptif.

Untuk itu, bapak empat anak ini menginginkan anaknya agar tidak mengikuti jejak orang tuanya sebagai PNS. Ia tidak ingin anaknya terjebak dalam lingkaran korupsi yang telah menggerogoti berbagai instansi pemerintahan. Bapak itu berpikiran bahwa menjadi PNS yang jujur tidak akan membawa kesejahteraan. Akumulasi pengalaman yang dirasakan bapak tersebut membuat ia menyimpulkan demikian.

Tak heran bila sang bapak menginginkan anak-anaknya sebagai pengusaha. Meskipun ia dan istrinya berstatus sebagai pegawai negeri sipil, ia tetap berharap anaknya terjun di dunia usaha. Baginya berdagang jauh lebih menguntungkan dari pada menjadi pegawai negeri sipil.

Disini saya dibuat takjub dengan kerangka berpikir sepasang suami istri ini. Saya jadi teringat dengan Karl Marx yang pikirannya selalu menentang arus zamannya. Kedua orang tua ini tak ubahnya seperti Karl Marx, meski Marx tidak sepakat dengan Borjuis (Kelas Pedagang), tapi semangat menenatang zaman Marx begitu melekat pada suami istri ini. Pandangan mereka begitu berbeda dangan orang tua kebanyakan, yakni orang tua yang menginginkan anaknya menjadi pegawai negeri sipil.

Menjadi PNS bukanlah satu-satunya jalan hidup. Tapi kenapa orang-orang berbondong ingin masuk sebagai pegawai negeri sipil. Kita tahu bahwa hampir 70% dana APBD di setiap daerah dihabiskan untuk belanja pegawainya. Jika semua warganya menjadi PNS, dari mana pendapatan yang akan diperoleh. Oleh karena itu, berpikirlah menjadi pengusaha seperti halnya sepasang pegawai negeri sipil itu.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s