Ngepos via Hape

Perempuan Tak Berjilbab Dilarang Masuk Mesjid

Sepulang liburan dari Pekanbaru, rombongan kami mampir di sebuah mesjid yang terletak disekitar pusat kota Bangkinang, kabupaten Kampar.  Penduduk kota yang berjuluk Bumi Surimadu ini mayoritas beragama Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Kampar terbiasa memakai pakaian muslimah, di pintu masuk ke mesjid tersebut terpajang papan yang bertuliskan “kawasan wajib berpakaian muslimah”. Keberagamaan masyarakat Kampar cukup kuat sehingga daerah ini dikenal pula dengan julukan Serambi Mekkah dari Provinsi Riau.

Kesan pertama begitu memasuki mesjid megah itu begitu menggoda. Kebersihan mesjid terawat dengan baik dan arsistektur dari bangunannya begitu menawan. Orang-orang yang beribadah didalamnya terasa dimanjakan dengan keindahannya. Hal penting yang tak kalah hebat adalah adanya perpustakaan mini yang tersusun di dinding-dinding mesjid. Meski jumlah buku disana tidak terlalu banyak, setidaknya dengan adanya perpustakan itu kita semakin sadar bahwa mesjid bukan hanya berfungsi sebagai sarana ibadah, tapi juga sebagai pusat peradaban.

Selepas menunaikan kewajiban, saya beranjak menuju pintu keluar mesjid. Tak jauh dari pintu mesjid tersebut terpasang beberapa rak yang berguna untuk meletakan sepatu atau sendal para jemaah. Dekat rak itu duduk seorang laki-laki yang mengenakan sarung dan peci ala Indonesia. Dalam pikiran, saya menduga laki-laki itu bertugas untuk menjaga rak sepatu agar para jemaah tidak bakal kehilangan sendal dan sepatunya. Wajar jika saya menduga demikian, karena sudah beberapa kali saya selalu kehilangan sendal di berbagai rumah tuhan yang pernah saya kunjungi. Apalagi sendal yang masih keturunan dari sendal jepit merupakan kategori sendal yang paling mudah hilang.

Ternyata dugaan saya meleset, laki-laki itu bukan hanya menjaga rak sepatu itu tapi juga mengawasi pintu mesjid agar tidak dimasuki oleh perempuan yang tidak berpakaian muslimah. Peringatan dari papan yang bertuliskan “kawasan wajib berpakain muslimah” tadi bukan isapan jempol belaka. Laki-laki penjaga pintu itu memastikan bahwa peraturan itu harus ditaati dan perempuan yang tidak memakai jilbab atau pakaian muslimah tidak diperbolehkan masuk rumah tuhan, bahkan untuk beribadah sekalipun.

Kepastian tersebut saya peroleh dari salah seorang anggota rombongan yang menyaksikan laki-laki yang duduk dekat pintu itu melarang seorang wanita paruh baya yang tidak memakai pakaian muslimah  masuk kedalam mesjid. Jika ingin tetap masuk, wanita itu harus mengganti pakaiannya atau sekurang-kurangnya memakai mukenah dari luar. Bila wanita itu membawa mukenah maka ia bisa masuk mesjid, tapi apabila wanita itu tidak membawa maka ia harus gigit jari. Tadinya saya kurang percaya dangan validitas laporan ini. Setelah saya melihat wanita yang diusir itu duduk dengan anak perempuannya di perlataran parkir barulah saya tersentak kaget dan sedih.

Ingin saya mengadu langsung kepada tuhan, apakah harus seperti ini kami menjalankan ajaran yang Engkau turunkan kepada Nabi Muhammad. Seorang hambaMU yang ingin beribadah kepadaMu harus diusir dari rumah suciMU. Lalu apa maksud dari ketentuan bahwa pakaian takwa adalah pakaian yang terbaik. Bagaimana pula dengan wanita tua yang diperkenankan untuk membuka hijabnya.

Rasulullah pernah melukiskan bahwa iman bagaikan sesuatu yang tidak berbusana dan takwa adalah pakainnya.  Jika pakaian takwa sudah menghiasi maka seorang miskin bisa tampak bersih dan seorang yang kaya bisa hidup sederhana.  Bila pakaian takwa sudah terpasang maka seorang yang beruntung akan merasa bersyukur dan seorang yang diuji dengan cobaan akan bersabar. Saat pakaian takwa melekat maka ia takut untuk berbuat jahat apalagi korupsi.

Ketika seseorang sudah mengenakan pakaian taqwa maka ia akan mampu menjaga kesuciannya. Jangankan mengumbar aurat, mengumbar senyum saja ia selalu ingat bahwa Allah selalu mengawasi. Untuk itu, pakaian ruhaniah lebih tinggi derjatnya daripada pakaian jasmaniah. Masihkah kita mengedepankan pakaian jasmaniah diatas pakaian ruhaniah.

Apabila jawabannya ia, maka saya ingin kembali ke mesjid itu dengan memakai cadar agar saya bisa masuk ke toilet wanita. Kalau ketahuan, saya akan berkilah, bukankah cadar itu disebut dengan pakaian muslimah. Tapi kenapa wanita paruh baya tadi tidak dikatakan memakai pakaian muslimah, padahal ia mengenakan pakaian terhormat yang tidak mengumbar syahwat. Lalu, saya bertanya “Apakah pakaian cadar yang saya kenakan ini lebih baik dengan pakaian wanita paruh baya itu???” (15.36_05.01.11trt)

Iklan

4 thoughts on “Perempuan Tak Berjilbab Dilarang Masuk Mesjid

  1. Kesucian masih menjadi kulit luar (secarik kain)…Beriman masih diukur dengan jumlah sholat, bukan bagaimana seorang hidup setelah bersholat….

    Peristiwa demi peristiwa kekerasan bernuansa sara terjadi di negeri ini. Dilakukan oleh orang beragama dan beriman cetek. Ini pasti ada kaitan dengan pemahaman tentang beriman dan kesucian…

    Suka

  2. Pakaian takwa memang penting. Tapi pakaian luar juga penting karena memang perintah agama agar lelaki menundukkan pandangan dan wanita menutupi aurat kecuali wajah dan telapak tangan.

    Jangan mempersulit orang untuk beribadah. Tapi juga jangan terlalu menggampangkannya. Ibadah juga ada tata caranya, tidak bisa semau hati kita.

    Sama juga, berbuat baik memang penting. Tapi sholat jelas lebih penting, karena tiang agama. Orang yang rajin sholat tapi kelakuannya rusak jelas salah. Tapi orang baik yang sholatnya bolong-bolong juga lebih salah.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s