Ngepos via Hape

jadi wartawan aja biar dapat duit banyak

Ketinggalan berita saya belakangan ini. Isu yang hangat yang menarik perhatian saya adalah isu-isu panas seperti perebutan kekuasaan di tubuh PSSI dan kuasa Allah yang telah merenggut nyawa seorang manusia yang ditakdirkan menjadi artis dan anggota DPR dan isu-isu lainnya.

Ada satu isu yang luput dari perhatian, yaitu isu media. Pertama, kemelut Dipo Alam dengan media. Dipo yang berprofesi sebagai sekretaris Kabinet SBY ini melempar himbauan untuk memboikot media. Alasan memboikot media tersebut karena media bukan lagi mengkritik, tapi sudah menjelek-jelekan pemerintahan SBY. Dipo yang notabane duduk di kursi kekuasaan sebagai pejabat negara gerah dengan prilaku media dalam memberitakan tentang pemerintahan. Kegerahan itu diwujudkan dengan himbauan memboikot media sebagai bagian dari langkah Dipo sebagai rakyat untuk mengontrol peran media sebagai pilar demokrasi.

Kedua, penangkapan empat wartawan oleh polisi Dhamasraya karena diduga melakukan pemerasan kepada seorang pengusaha. Penangkapan ini menimbulkan  tanda tanya di kalangan wartawan di sumbar, apalagi kejadian ini baru pertama kali terjadi di Sumbar.  Benarkah sang wartawan melakukan pemerasan atau sang pengusaha yang melakukan penyuapan kepada wartawan. Kedua hal itu sudah masuk ranah hukum pidana, penyuap di penjara dan pemeras harus di penjara pula. Tapi mana yang benar diantara kedua hal tersebut belum terungkap karena masih ditangani oleh penyidik di kepolisian. Kesan pertama dari kasus ini tergambar bahwa diduga wartawan melakukan pemerasan kepada pengusaha. Benar atau tidaknya tergantung pembuktian selanjutnya

Kedua kasus diatas memiliki persamaan dan korelasi yang erat. Setelah reformasi, peran media sebagai salah satu pilar kekuasaan dalam demokrasi semakin menunjukan kemajuan dibandingkan dengan masa Orde Baru. Dulu media dibredel oleh penguasa, kini tidak ada lagi bredel-bredelan karena media sudah mendapatkan tempatnya sebagai perantara komunikasi antara rakyat dan negara. Disamping kode etik jurnalistik, UU Pers menjadi payung hukum bagi media untuk bekerja menyampaikan berita kepada rakyat dan kode etik sebagai buku panduan bagi kalangan media untuk menjalankan tugas mereka.

Pola hubungan antara media dengan pilar kekuasaan lain seperti rakyat, pengusaha, pemerintahan, legislatif,  dan yudikatif belum menemukan bentuk sesungguhnya. Kadang media ditunggangi oleh kepentingan si  pengusaha yang punya media. Kadang media ditunggai oleh pemerintah sebagai alat propaganda. Semuanya bergantung kepada kepentingan masing-masing. Atas nama kepentingan rakyat, semua pilar kekuasaan yang saya sebutkan diatas bertindak dengan seenaknya saja. Entah rakyat mana yang dibela.

Dalam kasus Dipo dan pemerasan wartawan memperjelas bahwa pola hubungan media dengan pilar kekuasaan lainnya tidak berjalan dengan semestinya. Jika pemerintah dikontrol oleh media, lalu siapa yang mengontrol media?. Banyak orang menyebut yang mengontrol media adalah rakyat. Rakyat yang mana? Suara media itu representasi dari suara tuhan di bumi, seperti kuasa rakyat yang merupakan representasi dari kuasa tuhan.

Rakyat adalah media, dan media adalah rakyat. Media selalu diidentikan dengan rakyat. Suara media adalah suara rakyat. Ketika media keluar dari jalurnya, siapa yang bertanggung jawab. Apakah rakyat atau tuhan?. Mengontrol media tidak semudah mengontrol pemerintah. Tak mengherankan apabila zaman orde baru media dikontrol dengan ketat oleh pemerintah karena mengungkit kebobrokan pemerintah. Ketika yang melakukan kebobrokan adalah media, rakyat kecil hanya bisa gigit jari.

Seorang teman pernah berkata kepada saya, Apakah kamu suka menulis? kalau iya, jadi wartawan aja biar dapat duit banyak!!. Kata-kata itu menggelontor dari mulut si teman karena melihat kenyataan yang terjadi dilingkungan sekitarnya. Itu baru sekedar wartawan di lapangan, bagaimana dengan “wartawan” di kantoran sekaligus merangkap sebagai pemilik. Tentu duit yang dimaksud akan semakin banyak. Siapa sih manusia yang tidak tergiur dengan duit banyak? apalagi ada bujukan setan untuk menerima duit yang tidak halal tersebut.

Saya tidak mengeneralisasi semua wartawan berprilaku seperti itu. Sekiranya masih banyak wartawan yang lebih mementingan idealisme dari pada uang. Wartawan idealis bekerja murni untuk kepentingan orang banyak, bukan untuk kepentingan pribadi yang mudah digoda dengan uang. Keberadaan wartawan idealis tersebut terancam punah. Hasil penelitian asosiasi jurnalis independen menemukan bahwa para jurnalis/wartawan sangat rentan menerima suap karena upah jurnalis jauh dari kata layak. Ketika si kuli tinta berada di ujung kesulitan ekonomi, maka tak heran bila mereka menggadaikan idealisme dengan segopok uang.

Kekuasaan itu ibarat bintang liar yang sulit dikendalikan. Seliar apapun binatang masih bisa untuk dikontrol dengan cara yang terarah. Kita lihat saja contoh binatang liar yang beraksi di arena sirkus. Bintang liar itu bisa menghibur kita karena telah dikontrol sang pawang. Kekuasaan yang melekat pada media tak ubahnya seperti bintang sirkus. Sudah terkontrol, tapi berkemungkinan untuk memangsa penonton dan pawang sirkus. ((1102230147trt))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s