Ngepos via Hape

Kenapa mau memakai pakaian seksi, kalau tidak mau dilihat orang lain

Pukulan wanita cantik itu langsung menghantam puncak hidungku. Tak puas dengan satu pukulan, ia mendaratkan lutut seksinya ke zona terlarang. Aku tak siap menghadapi serangan mendadak dari wanita itu. Aku coba menghindar dari pukulan yang ketiga kalinya.Namun naas, aku malah terjatuh ke dalam got yang tak berair.Hari ini nasibku memang apes. Semenjak berangkat dari rumah, aku selalu diikuti oleh makhluk yang bernama “sial”. Kesialan pertama aku alami 100 meter dari rumah. Sebelum berangkat ke pusat kota padang, aku sempatkan mampir di warung pak haji untuk membeli permen karet. Sesampai di warung aku dapati dua anak kecil tersenyum malu melihat ku. Aku pikir anak ini menggoda ku supaya membelikan jajanan di warung pak haji. Tanpa basa basi aku suruh mereka mengambil jajanan yang disukai. Bukannya terima kasih yang didapatkan dari mereka, tapi mereka malah mentertawakanku.

Setelah bayar semua belanjaan kedua anak itu, aku panggil mereka berdua. Mereka mendatangi ku, semakin dekat semakin kencang ketawa mereka.

Lalu aku bertanya. “Kenapa kalian tertawa??”

Maaf uda, pintu surga uda belum tertutup!!” jawab mereka sambil menunjuk ke arah celana ku.

Kontan saja jawaban mereka membuat aku malu, dan menarik resleting celana secepat mungkin. Mereka berdua menjawab pertanyaan dengan keras, sehingga terdengar oleh semua pengunjung warung. Tak terkecuali oleh si Tina anak pak lurah yang pendiam itu. Tina pun ikut tertawa melihat aku dipermalukan kedua anak kecil tadi. Tidak pernah aku melihat Tina tersenyum sebelumnya, kecuali di warung pak haji itu.

Waduh sial benar nasibku. Kalau aku tau dipermalukan seperti itu, tidak aku bayar jajanan kedua anak tersebut. Ya… Sudahlah. Anggap saja pemberian itu sebagai balas jasa kepada kedua anak itu karena aku diingatkan supaya tidak mengumbar “pornografi” di tempat umum. Jika tidak diingatkan, mungkin aku akan berjalan keliling kota padang dengan resleting terbuka. Dan makin banyaklah si Tina lainnya yang akan mentertawakanku. Syukurlah ucapku dalam hati sambil menunggu mobil tumpangan ke kota padang.

*******

Tak lama berselang datang angkutan kota (angkot) yang akan membawa aku ke pusat kota Padang. Kebetulan angkot putih yang dihiasi berbagai pernak-pernik itu lagi sepi penumpang. Hanya aku dan dua nenek-nenek yang naik angkot para anak gaul kota Padang ini.

Di tengah perjalanan, dekat persimpangan lampu merah naik seorang wanita muda nan cantik. Wanita tersebut jauh lebih cantik dari pada si Tina anak pak lurah. Aroma wangi tubuh wanita itu merebak dalam ruangan angkot. Parfum mobil yang tergantung dekat speaker seakan tidak berfungsi semenjak wanita cantik itu naik.

Seragam merah yang melekat di tubuh wanita itu menandakan bahwa ia adalah karyawan swasta di kota Padang. Aku tidak tahu di perusahaan mana ia bekerja, yang aku tahu namanya Rina Susilawati. Aku tahu nama wanita itu dari pin yang melekat di sebalah kiri seragam merah yang menurut ukuran ku cukup ketat dipakai wanita secantik dia. Aku bayangkan seragam itu dipakai oleh kedua nenek-nenek yang satu mobil dengan ku. Tapi bayangan itu langsung sirna, karena kedua nenek-nenek itu tidak akan berani memakai baju sempit yang bagian dadanya terbuka seperti seragam merah itu.

Rina persis duduk di depanku, sementara aku duduk di kursi serep. Setiba di kompleks Singgalang, naik segerombolan anak abege berseragam SMA yang membuat semua kursi angkot langsung terisi. Kecuali kursi serep di samping ku. Aku merasa jadi pria paling ganteng diatas angkot itu, karena semua abege SMA yang naik berkelamin perempuan.

Dari semua kaum hawa itu, hanya Rina yang menarik perhatian ku. Tampaknya semua penumpang (termasuk nenek-nenek) juga melirik ke arah Rina, mungkin karena pakaian yang ia pakai lebih kecil dari ukuran tubuhnya, alias minim (maaf, aku tidak bisa menggambarkan secara detail. Takutnya kena UU Pornografi. Pokoknya seksi deh…).

Sepanjang perjalanan, sulit bagiku memalingkan wajah dari si Rina. Mungkin dia duduk persis dihadapanku, jadi aku tidak bisa lirik kanan kiri lagi karena didepanku sudah ada pemandangan yang berbeda dari pemandangan kota Padang.

Entah kenapa, si Rina mulai gelisah. Mukanya memerah bagaikan buah naga. Ia tidak nyaman lagi duduk di ujung kursi angkot dan ingin cepat sampai ke tujuan. Aku terus perhatikan tingkah dan gerak-geriknya. Semakin aku perhatikan, ia semakin risau. Sesekali ia memandang sinis ke arah ku. Sepertinya ia marah karena aku selalu memperhatikan pakaiannya. Aku cuek aja, hati ku berkata  “Salah sendiri. Kenapa mau memakai pakaian seksi, kalau tidak mau dilihat orang lain“.

minggir bang” teriak Rina kepada sopir angkot.

gak bisa buk. disini gak boleh berhenti.” sahut si Sopir.

gak apa-apa. pokoknya berhenti” pinta Rina sambil menggedor kaca mobil.

sebentar. di depan ada polisi. ntar saya kena tilang” Kata si Sopir.

Akhirnya Rina mengalah, sopir angkot memberhentikan mobil angkotnya di depan Toko Buku. Karena aku duduk di dekat pintu, maka aku turun pula untuk memberi jalan kepada penumpang. Sial lagi nasib ku, aku dipukul dan ditendang oleh si Rina hingga membuat ku terjatuh ke dalam got.  Tanpa alasan, ia menghajar aku seperti menghajar tukang copet. Setelah puas melihat aku terjatuh, ia pergi meninggalkan ku dengan segudang pertanyaan.

Kenapa dia memukul aku tanpa alasan?? Siapakah si Rina??  Apakah ia seorang pelacur yang beroperasi di siang hari di kota Padang?? Atau, mungkin ia seorang malaikat yang berwujud manusia??

Kalau masalah alasan, pasti semua penumpang tahu bahwa aku dipukul karena terlalu sering memperhatikan si Rina, apalagi dengan pakaian yang dikenakannnya itu menggoda kaum adam untuk berbuat dosa. Penumpang juga tahu bahwa aku telah membuat si Rina menjadi resah dengan pakaian minimnya. Terserah siapa si Rina –Pelacur atau malaikat–, yang penting aku sudah mendapatkan gambaran surga, tentunya surga dunia.

Jika aku boleh menilai, Rina bagaikan seorang malaikat berwujud pelacur. Dari seorang Rina, para abege SMA di angkot tadi dapat belajar bahwa jangan pernah sekali-kali memakai pakaiaan minim di tempat umum. Rina mengingatkan kita bahwa ia masih mempunyai rasa malu walaupun ia “telanjang” di depan umum. Mungkin keadaan (aturan perusahaan) yang membuat ia seperti itu. Jika ia dikasih pilihan sebagai karyawan atau pengusaha, maka ia akan memilih sebagai pengusaha yang akan melarang cara berpakaian serba minim. Sekali lagi, keadaanlah yang membuat ia seperti itu. Seperti halnya pelacur dijerumuskan keadaan yang membuat mereka menelan kanyataan pahit.

–Sekian– ((1102210258trt))

NB: Mohon Maaf, jika ada persamaan Nama, karakter dan tempat dalam cerita ini. Cerita ini hanya fiksi belaka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s