Ngepos via Hape

Prosesi Maantaan Tando (Mengantar Tanda) di Pariaman

Ilustrasi (http://www.duniawedding.com)

Hari ini bakal ramai, keluarga besar datang kerumah untuk menghadiri prosesi maantaan tando (mengantar tanda). Maantaan tando adalah prosesi pra nikah di Sumatra Barat, khususnya Pariaman. Sistem perkawinan di Pariaman berbeda dengan sistem perkawinan di daerah lain yang ruang lingkupnya masih Sumatra Barat. Bagi masyarakat Pariaman dikenal dengan tradisi Bajapuik, sedangkan masyarakat minang lainnya tidak mengenal tradisi bajapuik ini.

Tradisi bajapuik hanya dipraketekan di Pariaman. Dalam tradisi bajapuik, penganten pria “dibeli” oleh penganten perempuan dengan uang japuik. Nominal uang japuik ditentukan berdasarkan status sosial penganten pria. Jika status sosialnya tinggi, maka uang japuiknya akan tinggi pula. Jika uang japuiknya rendah, berarti satatus sosialnya rendah. Begitulah sekilas tentang tradisi bajapuik di Pariaman.

Praktek ini tidak baku, karena ada sebagian masyarakat Pariaman tidak mengikuti aturan ini, disebabkan pengantennya bukan berasal dari daerah Pariaman. Tapi percampuran antara orang pariaman dengan orang non pariaman. Bila perkawinan campur daerah ini terjadi, tradisi bajapuik tidak akan dipraktekan. Kecuali, sudah ada kesepakatan diantara dua pihak, penganten pria dan penganten perempuan untuk mengikuti tradisi bajapuik ini.

Salah satu prosesi tradisi bajapuik tersebut adalah maantaan tando (mengantar tanda). Prosesi mengantar tanda merupakan bentuk penyerahan uang japuik kepada penganten pria. Dalam prosesi ini kedua penganten diwakili oleh masing-masing ninik mamak, kapalo mudo (Kepala Muda) dan mamak (paman) kedua belah pihak. Nantinya, kedua belah pihak akan bermusyawarah untuk menentukan berapa uang japuiknya dan kapan diadakan pernikahan.

Teorinya seperti itu, namun dalam prakteknya uang japuik sudah ditentukan oleh keluarga inti kedua penganten. Jadi, prosesi maantaan tando menjadi acara serimonial untuk mendapatkan kesepakatan kapan akan diadakan pesta pernikahan. Menariknya, kedua belah pihak bersilat lidah dalam mencapai kesepakatan tersebut. Masing-masing pihak beradu argumen dengan berpetatah-petitih atau berbalas pantun. Musyawarah dengan metode berbalas pantun ini akan menghasilkan kesepakatan dari kedua belah pihak. Begitulah kiranya gambaran prosesi maantaan tando di Pariaman. Untuk daerah lain di Minangkabau mungkin sedikit berbeda dengan prosesi disini. Sekian Dulu, jikalau ada kekurangan akan dilengkapi di kemudian hari. Wasalam… ((1102131157trt))

Sumber

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s