Ngepos via Hape

Terduduk di Atas Kursi Lapuk

Sebelum matahari terbit, aku bergegas menyonsong kamar mandi. Lantunan ayat suci masih menggema di ujung toa mesjid. Tak lama berselang, kumandang azan subuh terdengar riuh. Saat itu juga suara ayam terhenti membangunkan penduduk bumi. Dengan langkah terpontang panting aku kembali menuju kamarku. Tergesa-gesa aku berlari menuju mesjid untuk menunaikan shalat subuh berjamaah

Setiba di mesjid, aku menemukan seorang yang tidak asing lagi dimataku. Ia adalah Suparman, penunggu setia mesjid Taqwa. Suara azan yang tadi terdengar tak lain suara Suparman yang melengking itu. Aku dan Suparman menunggu jamaah lain untuk shalat bersama. Sambil menunggu kami menunaikan shalat sunah.

Namun, setelah menunggu hingga waktu tiba. Jamaah lain tak kunjung datang. Lalu Suparman menggerakan kepalanya ke arahku sebagai tanda untuku agar iqamat. Tampaknya tidak ada lagi yang datang ke mesjid, karena pagi itu langit kurang bersahabat. Hawa dingin menusuk tulung. Gerimis membasahi rerumputan yang tumbuh di halaman mesjid.

Lalu aku mempersilahkan Suparman menjadi imamku. Usiaku dan Suparman terpaut jauh. Aku belum menginjak 18 tahun, sedangkan ia sudah hampir berumur 50 tahun. Pemahaman agama Suparman jauh lebih tinggi dari orang-orang yang seusia dangannya. Suparman orang jawa yang sudah lama tinggal di kampung kami. Di usia yang merangkak senja tersebut, pak parman panggilan akrab kami kepada dia, belum jua menikah. Ia masih melajang. Kadang sebagian orang kampung memanggil dia dengan sebutan bujang lapuak.

*******

Andi tak sabar lagi menunggu hasil pengumuman ujian Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB). Siang ini, pengumuman sudah ditempel di dinding dekat pintu masuk salah satu universitas negeri di Padang. Andi yang sama-sama mengikuti ujian denganku berangkat ke kota Padang sepagi mungkin dengan Vespa antik miliknya. Ia mengajaku ikut dengannya.

Ayo jo ikut denganku ke padang untuk melihat pengumuman” ajak Andi padaku.

Maaf kawan, aku tidak bisa ikut. Tolong kau lihatkan saja nomor ujianku apakah aku lulus atau tidak”Aku tampik saja ajakan Andi karena hari itu aku harus membantu ayahku menjual ikan di pasar.

Baiklah. Nanti aku kabari jo. Aku yakin kita berdua akan lulus ujian seleksi ini”. Sahut Andi dengan bersemangat, sambil mengengkol Vespa bututnya.

Semoga Kawan” Jawabku pada Andi yang dengan seketika kabur dengan Vespanya.

Dalam hatiku terbesit berjuta pertanyaan. Apa yang akan aku lakukan jika aku lulus seleksi? Dengan apa aku membayar uang kuliahku nanti jika aku lulus? Bagaimana dengan keluargaku dan ketiga adik perempuanku? Siapa yang membantu ayah berjualan ikan di pasar? Dan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuat aku semakin bingung.

Jasa Andi kepadaku rasanya tak dapatku balas. Untuk biaya beli formulir ikut SPMB saja Andi yang membayar. Andi dan aku sudah bersahabat semenjak kami duduk di bangku sekolah dasar. Sampai menginjak sekolah menengah tingkat pertama (SMP) kami masih satu sekolah. Namun, pada tingkatan SMA kami berbeda. Ia Sekolah di SMAN di kota padang. Sedangkan aku masuk ke Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang dekat dengan rumah.

Andi anak satu-satunya pak Haji sabar yang berprofesi sebagai anggota DPRD yang merangkap juga sebagai juragan onderdil motor. Pak haji Sabar seorang kaya raya dari kampung kami. Pak Haji tidak hanya punya bengkel motor. Ia mempunyai tanah yang luas dan tempat pelelangan ikan. Semua usaha langsung dikontrol dibawah kendali pak haji, meski sibuk dengan tugas sebagai wakil rakyat, pak haji tidak pernah lupa mengurus usahanya.

*******

Menjelang senja tiba, aku terduduk disudut kursi lapuk yang dibuat oleh ayahku sepuluh tahun yang lampau. Mataku terpana melihat burung-burung kembali hinggap ke sarangnya yang tergantung di atas pohon mangga nan rimbun. Pikiranku menerawang menanti kabar dari Andi yang terbang dari kota padang dengan vespa kesayangan. Pikiran itu membuatku melayang dengan lamunan bingung dan risau.

Tiba-tiba pak Parman mengagetkan ku, ia menepuk punggungku sambil nyengir gak jelas gitu. Aku bertanya sebagai bentuk basa-basiku. “Dari mana pak parman??”

Dari kebun” Pak parman diam sejenak, lalu melanjutkan ocehannya. “jangan ngelamun senja begini, ntar kamu kemasukan setan. Biarkan hidup mengalir seperti  air. Ndak usah dipikirkan jo” Nasehat pak Parman kepadaku. Setelah puas menceramahiku pak Parman berlalu kembali ke Mesjid yang sekaligus sebagai tempat tinggal pak Parman yang memang jadi marbot di mesjid Taqwa.

Ku hela nafas dalam-dalam. Lalu aku coba menenangkan pikiraanku serileks mungkin. Usaha itu tidak berhasil mengusir keresahanku. Aku semakin galau dan risau. Aku takut jika nanti Andi mengatakan kepadaku bahwa aku lulus. Namun, aku juga tidak berharap jika aku dinyatakan tidak lulus. Dalam hati, aku ingin sekali melanjutkan sekolah ke jenjang perguruan tinggi. Tapi aku tidak mempunyai biaya untuk melanjutkan pendidikanku.

Apalagi aku mengambil jurusan Ilmu Politik di Universitas Indonesia (UI) sebagai pilihan pertama, sebagaimana saran Andi kepadaku. Pilihan kedua aku ambil jurusan hukum di Universitas Andalas (Unand). Pastinya biaya kuliah  UI  tidak akan terjangkau olehku yang hanya anak seorang pedagang ikan kecil-kecilaan ini. Untuk itu, aku ambil jurusan hukum sebagai alternatif yang sekiranya bisa tercukupi apabila digabungkan dengan panghasilan ibu sebagai penjual lontong keliling.

Aku hanya bisa pasrah menerima apapun hasilnya yang akan disampaikan sahabatku Andi. Ditengah kepasarahan itu aku mendengar suara vespa yang biasa ditunggangi Andi. “wah, itu dia si Andi sudah kembali” gumamku.

Dengan membawa secuil senyum, Andi memparkir vespanya di bawah pohon mangga. Tergopoh-gopoh ia mendekatiku dan memeluk ku sambil berteriak…. “Aku lulus jooooo” dengan semangat.

Lulus dimana kamu ndi??” tanyaku

Aku lulus di kedokteran” Jawabnya.

Kedokteran mana??” tanyaku kembali untuk memastikan di universitas mana ia lulus. Masalahnya kedua pilihan Andi adalah jurusan kedokteran. Pilihan pertama di kedokteran UI dan pilihan kedua di kedokteran Unand.

Di fakultas kedokteran Unand”. Sahut Andi kepadaku

Selamat ya ndi. Akhirnya ada juga temanku yang jadi dokter”. hibur ku kepada Andi yang sedang bergembira dengan kelulusanya di fakultas kedokteran.

Kegembiraan Andi makin lengkap ketika ia mengetahui perempuan yang ditaksirnya sewaktu SMA dulu juga lulus di fakultas kedokteran di Universitas yang sama. Tanpa dikomandoi Andi menceritakan tentang perempuan itu kepadaku. Tidak hanya itu, Andi menguraikan target untuk mendapatkan perempuan incaran tersebut sebagai pacar pertamanya. Ia menjelaskan semua kepadaku panjang lebar.  Sampai-sampai Andi lupa mengabari kepadaku status kelulusanku.

Aku tidak mau merusak kegembiran dan gejolak kasmaran sahabatku ini. Biar kupendam keingintahuan apakah aku lulus atau tidak. Toh.. lulus atau tidak lulus adalah dua pilihan yang dilematis bagiku.

-Salam- ((1102190444trt))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s