Gak Penting Yaa

Memahami Kebimbangan

Lima bulan dari sekarang saya harus mengambil keputusan yang berat untuk bisa melangkah jauh kedepan.  Keputusan antara iya dan tidak, melanjutkan atau cukup berhenti sampai disini saja. Selama ini pikiran dan energi terkuras untuk menghadapi persoalan ini. Persoalan yang tadinya saya dambakan, sekarang berubah menjadi dilematis.

Tujuh tahun yang lampau, saya ingat disaat saya dan ratusan orang lainnya tersenyum diatas penderitaan sendiri. Penderitan pribadi yang terobati dengan kebersamaan. Saya dan teman-taman adalah kelinci percobaan dari sistem pendidikan. Lima belas rekan seperjuangan kami mampu melewati ujian negara. Sementara itu, saya dan seratus lima puluh “kelinci” lainnya terdiam membisu ketika mendengarkan bahwa kami tidak lulus.

Meski diberi kesempatan untuk memperbaiki kebodohan, kami tetaplah seekor “kelinci”. Hanya akal yang membedakan antara kelinci dengan kami. Kelinci adalah bintang tak berakal, sedangkan kami adalah “binatang” berakal. Oleh karena itu, sebagai “bintang” berakal, saya berusaha untuk mengasah akal yang saya peroleh melalui pendidikan. Seperti binatang lainnya, kami harus menghadapi kerasnya kehidupan alam semesta ini.

Sekarang kerasnya hidup itu tampak nyata disaat saya dihadapi oleh dua pilihan yang membuat saya bimbang dan teromabang ambing. Berbagai pertimbangan saya coba untuk memperkuat dalil masing-masing pilihan, akan tetapi dalil kedua pilihan itu begitu kuat. Separuh hati saya kuat untuk melanjutkan pendidikan ini. Sedangkan separuh hati lainnya mencoba untuk melihat realitas secara komprehensif.

Memang pendidikan formal bukanlah segalanya karena pendidikan yang paling baik itu adalah wakut. Orang yang tidak mendapatkan pendidikan (baik formal maupun orang tua) maka ia akan di didik oleh waktu. Logika demikanlah yang membuat separuh hati saya menyadari realitas ini.  Disisi lain saya dipangaruhi oleh kesempatan yang datang kepada saya, kenapa kesempatan itu harus di-sia-sia-kan. Walaupun harus mengorbankan materi yang cukup banyak, saya yakin bahwa investasi itu tidak hanya sekedar fisik tapi juga pendidikan.

Saya sadar, saya bukanlah bagian dari segelintir orang yang diberi rezeki pemahaman yang sangat mengaggumkan. Saya hanya orang bodoh yang berusaha untuk keluar dari lingkaran kebodohan. Semakin saya berusahan untuk keluar, maka saya semakin merasa bodoh.

Di tahun kelinci ini saya harus memilih dua pilihan tersebut. Pernah dalam lubuk hati yang terdalam saya mengadu kepada Tuhan. Saya berharap tuhan memberikan petunjukNYA secara instan maupun secara prosedural. Lima bulan adalah waktu yang panjang untuk mengambil sebuah keputusan antara iya dan tidak. Mungkin saja Tuhan memberikan petunjuk prosedural dalam jangka waktu lima bulan ini. Dan tidak tertutup kemungkinan, Tuhan menurunkan petunjuk instanNYA dilain kesempatan.  Dari sinilah saya belajar bahwa kedua pilihan itu adalah pilihan yang diridhoinya. Mau tak mau saya harus memilih satu dari dua pilihan itu agar kegalauan hati ini segera diakhiri. Pilih lanjutkan atau berhenti sampai disini.?? (11.40_15.01.11trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s