Ngepos via Hape

Banyak Menulis Banyak Rezeki

Rumah tetangga emang oke deh. Habis ngutak-ngatik kamar orang langsung dapat inspirasi. Lalu inspirasinya ditulis aja, biar gak berserakan di lantai. Dari pada melototin Facebook dan Twitter, mendingan getokin keyboard aja. Habis itu publish deh disini, sekalian sambil belajar dan beramal.

Inspirasi itu datang dari tulisan yang ada di ranjang sebelah. Judulnya provokatif, tapi isinya cukup proaktif. Tulisannya menyinggung masalah rezeki, masa’ penulisnya bilang banyak anak banyak rejeki. Sementara komentator juga ikut-ikutan ngomong “banyak anak banyak rezeki” pula. Jadi, munculah ide banyak anak banyak rezeki di kepala. Sebelumnya sih udah sering dengar ucapan “banyak anak banyak rezeki”

Wujudkan idenya dengan langsung bikin anak dengan istri (suami), upss tunggu dulu!!!. Lagian aku saja belum punya istri, gimana mau bikin anak biar rezekinya banyak. Ya udah, aku mewujudkan ide itu dengan menulis. Bagiku, menulis merupakan sarana untuk berbagi rezeki. Jadi, banyak menulis banyak rezeki.

Dari pemahaman dangkal aku, rezeki terbagi dua, yakni rezeki materi dan rezeki non materi. Bentuk dari rezeki materi itu seperti uang, mobil, rumah, emas, berlian, saham, motor dan sepeda dsb.  Sedangkan bentuk dari rezeki non materi sangat beragam, seperti hujan, pemahaman, pengetahuan, jiwa, oksigen yang kita hirup, dan banyak lagi deh. Bahkan dalam al Quran kenabian juga merupakan rezeki. Rezeki bagi nabi yang diutus, dan rezeki bagi umatnya. Pokoknya rezeki non materi itu banyak deh, cuma kita (maksudnya sih aku) aja yang belum menyadarinya.

**********

Dalam Islam, cara memperoleh rezeki dibagi lagi menjadi dua macam, yakni rezeki halal dan rezeki haram. Cara yang halal maksudnya mencari rezeki dengan cara yang benar, tanpa nyomot punya orang. Kalau nyomot punya orang, itu namanya rezeki haram. Hasan al Bashri, sufi terkenal itu khan pernah ngomong bahwa  aku tahu rezekiku tak akan diambil orang lain ,karena itu hatiku selalu tenang“. Nah, rezeki halal itu takkan pernah diambil sama orang. Kalau orang tetap nekat ngambil punya kita, itu berarti bukan rezeki kita. Tapi rezeki orang itu yang diperoleh dengan cara haram. Toh rezeki kita sudah diatur oleh Allah SWT dan tercatat di Lauhul Mahfuz. Terkait soal bagaimana mendapatkan rezeki, lain lagi ceritanya.

Disini hanya cerita segumpal rezeki. Rezeki yang dibahas disini bukan rezeki materi, tapi rezeki non materi. Nah lho, rezeki non materi khan banyak. Emang mau dibahas semua??. Ya tidak lah. Disini aku coba membahas segelintir bagian dari rezeki non materi, yakni pengetahuan atau ilmu.

Ali bin Abi Thalib, salah seorang konco Nabi Muhammad pernah berkata “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Kalau tidak ditulis, biasanya ilmu (pengetahuan) yang kita dapat akan cepat hilangnya. Syukur-syukur punya ingatan kuat, jika tidak, belum lima menit aja bisa hilang tuh pengetahuan dari otak. Ingatan ini juga bagian dari rezeki non materi lho. Apabila ingatanya kuat, maka ia termasuk kaya. Bila ingatannya tidak kuat, maka termasuk dalam golongan yang berada dibawah garis kemiskinan. Rezeki banyak, pengetahuan tentu banyak. Rezeki sedikit, pengetahuan tentu sedikit pula.

Waktu bersedekah yang paling nikmat disaat rezeki kita sedikit. Artinya, walaupun pengetahuan kita sedikit mari kita berbagi pengetahuan dengan sesama melalui tulisan. Rasulullah mengingatkan kepada kita bahwa sampaikanlah walaupun satu ayat. Ya… cara menyampaikanya bisa dengan ngomel-ngomel, pakai golok dan bisa pula dengan menulis. Terserah kita aja deh…

Gimana caranya kalo gak hafal satu ayat???

Kalau gak paham satu ayat, sampaikan satu kata aja. Maksudnya sih pengetahuan itu tidak dipahami secara utuh, tapi separuh-separuh.. Selama separuh itu bermanfaat, tuliskan aja. Dapat separuh lagi, lalu tulis lagi yang didapatkan tersebut. Sedikit demi sedikit bisa jadi bukit barisan, seperti di pulau sumatra itu. Semakin banyak menulis, maka semakin berbukit rezekinya.

Sederhananya, hal ini sama artinya dengan rajin menabung di bank kesayangan, seperti Bank Century… hehehe… Semakin rajin kita menabung, maka semakin banyak uang terkumpul. Bila uang tak banyak-banyak, padahal udah rajin. Berarti uang kita dikantongin sama orang yang punya bank. Status uang yang hilang itu beralih menjadi uang haram yang dicuri oleh pemilik bank dan itu bukan rezeki kita. Seandainya uang kita aman dan banyak terkumpul. Maka kita berhak membelanjakan sesuai dengan kebutuhan, itulah rezeki kita.

Seperti itu pula dengan pengetahuan kita yang sedikit, mari kita tabung pengetahuan (rezeki) dengan rajin dalam bentuk tulisan. Jika pengetahuan itu tidak dituliskan, artinya kita tidak menabung rezeki yang didapatkan. Tanpa ditabung rezeki yang diperolah tidak tumbuh menjadi banyak. Oleh karena itu, banyak menulis banyak rezeki. Jangan lupa rajin-rajin menabung ya!! nabung uang juga donk, biar bisa …….! ((1102160055trt))

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s