Ngepos via Hape

Ekonomi Prasmanan

Semua masyarakat memiliki sistem ekonomi atau pengorganisasian produksi, distribusi dan tukar menukar barang dan jasa. Setiap masyarakat memiliki sistem ekonomi yang berbeda. Walaupun berbeda, setidaknya ada dua prinsip fundamental yang tak dapat dielakan, yaitu produksi untuk dipakai dan produksi untuk dijual. Produksi untuk dipakai berarti barang tersebut mempunyai nilai guna. Ketika sebuah barang memiliki nilai guna, maka ia akan memiliki nilai jual atau produksi untuk dijual.
Secara ekonomi, apapun jenis barangnya tentu mempunyai nilai guna dan nilai jual. Barang inilah yang kemudian menjadi komoditas yang diperdagangkan oleh manusia dalam sistem ekonomi. Sistem ekonomi disetiap masyarakat sangat beragam dan berbeda. Kali ini saya akan menelaah ekonomi prasmanan. Ekonomi ini tentu berbeda dengan pola ekonomi modern yang selalu mengkodifikas segalah aktifitas ekonominya.

Disinilah titik tolak ekonomi prasmanan yang tidak mempedulikan kodifikasi segala aktivitas ekonomi. Semua terjadi secara alami tanpa ada catatan yang dapat menjadi sumber referensi. Sedangkan sistem ekonomi era sekarang, segala bentuk tingkah laku ekonomi, baik produksi, distribusi dan jual beli selalu dicatat secara rapi dan apik agar bisa menjadi bahan analisa untuk mengevaluasi dan mengembangkan kekuatan ekonomi sebuah usaha. Sederhananya ini mungkin bicara tentang tradisional dan modern, seperti pasar tradisional dengan pasar modern atau pedagang tradisional dangan pedagang modern.

Baiklah kembali lagi kepada persoalan ekonomi prasmana. Mendengar hal ini akan mengingatkan kita kepada istilah hidangan prasmanan atau buffet. Hidangan prasmanan yaitu makanan yang diletakan diatas meja, lalu pengunjung akan mengambil dan memilih sendiri menu makanan yang diinginkan. Di tempat saya hidangan prasmanan ini dikenal dengan hidangan Prancis. Entah dari mana asal kata dari hidangan Prancis, pastinya konsep seperti ini baru berkembang akhir-akhir ini yang berasal dari luar kebudayaan luar.

Dalam ekonomi prasmanan tiadak ada pencatatan sedikitpun, setiap orang bebas mengambil sesuatu tanpa diketahui oleh orang lain. Hasil dari jual beli tidak ada yang dicatat. Barang yang masuk dari suplier tidak dicatat. Pengeluar tak tercatata, pemasukanpun tak pernah pula dicatat. Semua serba tak tercatat. Bagaikan berada dimeja prasmanan, semuanya boleh ambil karena gak ada yang mencatat.  Berbeda halnya dengen pola ekonomi saat ini semuanya dicatat sedetail mungkin. Pencatatan ini tidak sekedar bahan evaluasi, tapi juga merupakan bentuk pertanggungjawaban kepada pemilik modal.

Pola prasmanan inilah yang banyak ditemukan dalam pengorganisasian produksi, distribusi dan pertukaran barang dan jasa dalam masyarakat tradisional. Pola demikan berlanjut hingga sekarang, walaupun zaman sudah modern masyarakatnya tetap berpikir secara tradisional. Tapi itulah dinamika hidup yang beragam, tidak hanya dikuasai oleh satu paham namun banyak pemahaman yang lain. Sesuai tuntutan zaman, pola-pola tradisional tersebut lambat laun akan berevolusi menjadi pola yang lebih modern. Dinamika seperti itu yang saya jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga sulit untuk merubah cara tradisonal tersebut dengan cara-cara yang lebih modern.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s