Gak Penting Yaa

Pos Polisi Simbol Kezaliman Negeriku

Dalam tulisan sebelumnya, aku begitu getol membela pelacurku. Aku gerah dengan tudingan para otoritas agama di kampungku yang menuduh pelacurku sebagai biang keladai bencana gempa dahsyat 30 September yang melanda tanah kelahiranku.  Aku tidak mau pelacurku dijadikan sebagai kambing hitam dari bencana ini, aku tidak mau pelacurku sebagai tumbal atas kezaliman pemimpin negeri ini.

Bila para otoritas agama menohok lebih mendalam, maka banyak ditemukan kezaliman para pemimpin terhadap rakyatnya. Korupsi merajalela, keadilan terasa hampa dan kebohongan menjadi hal biasa. Herannya lagi, pemimpin yang diingatkan oleh rakyatnya malah kelabakan menutup bobrok mereka.

Satu diantara kezaliman itu terlihat nyata saat menyaksikan sebuah foto pos polisi yang berdiri di atas trotoar jalan di persimpangan jalan ke kampungku. Seharusanya trotoar itu diperuntukan bagi pejalan kaki, tapi nyatanya pos polisi itu dengan angkuh berdiri menghalangi para pejalan kaki. Kepentingan ekonomi yang melekat dari pos tersebut membuat celengan penghuninya semakin gendut.

Hak pejalan kaki dirampas oleh kelalaian para pemimpin. Ketika para pemimpin membiarkan pos polisi itu merampas hak rakyatnya, maka kita telah menyaksikan kezaliman yang ditelanjangi oleh penguasa.

Supaya lebih afdal mari kita lihat foto pos polisi tersebut yang telah lama diposting oleh Zakirman Tanjung di akunnya. Atau  foto tersebut dapat dilihat di lampiran tulisan ini. Dalam foto tersebut tampak dua orang ibu-ibu terpaksa berjalan di jalan raya untuk menghindari pos polisi yang dibangun diatas trotoar itu. Siapa yang bertanggung jawab jikakalau ibu-ibu tadi diserempet kendaran. Bukankah yang bertanggung jawab itu pemimpinnya?? Pemimpin yang membiarkan bangunan itu menzalimi hak warganya.!!

1296298672675928231

Tuhan dengan tegas memperingatkan manusia bahwa azab-Nya tidak menimpa orang yang  berbuat zalim saja, melainkan kepada semua orang, baik yang zalim maupun yang tidak. (QS 8:25). Yah, gempa yang menggoyang negeriku ini merupakan praktek lapangan dari ayat tersebut. Kategori kezaliman itu sendiri dibagi menjadi dua macam, yakni menzalimi diri sendiri dan menzalimi orang lain. Ketika pemimpin tidak menunaikan hak warga yang wajib ditunaikan maka mereka telah menzalimi orang lain.

Nah, menzalimi orang lain lebih berbahaya karena kelak mereka yang dizalimi bakal menuntut di akhirat sana. Lagi-lagi aku teringat dengan pesan Tuhan bahwa bisikan dari dalam hati saja akan dipertanggung jawabkan di alam akhirat, apalagi urusan umat seperti pos polisi tadi. Hak yang mestinya melekat bagi pejalan kaki tidak ditunaikan oleh para pemangku kepentingan, itu sama halnya dengan menzalimi hak orang lain.

Pola-pola seperti inilah yang selayaknya jadi argumen bagi otoritas agama menjustifikasi bencana yang melanda. Kezaliman pos polisi itu hanya segelintir dari pelanggaran hak azazi publik di negeri ini. Diluar itu, banyak kezaliman yang dipertontonkan secara vulgar oleh petinggi negeri.

Apalagi yang kau sedihkan, wahai pelacurku. Engkau hanya menzalimi dirimu. Sementara para pemimpinmu tidak hanya menzalimi diri mereka sendiri, tapi menzalimi rakyatnya. Jangan malu pelacurku, engkau hanya menelanjangi tubuhmu. Sedangkan mereka menelanjangi tubuh saudara-saudara mereka. (15.47_29.01.11trt)

Iklan

One thought on “Pos Polisi Simbol Kezaliman Negeriku

  1. naif amat nih tulisan…. persoalan yg terjadi mmg jauh lebih besar, lebih masif, lebih sistemik daripada sekedar pos polisi di atas trotoar…… lagipula kok ekstrim amat dg pembandingnya dg pelacur, ini naif-nya, atau sengaja menambah rusak tatanan moral dan etika …. kalo ada yg gak beres di suatu sistem, bkn berarti semua yg haram jadi halal……. apakah selalu kemiskinan penyebab pelacuran? lg2 naif… sama dg alasan jd preman karena sulit dapat kerja….. begitu banyak tukang syomai keliling dg sepeda dg barang dagangan pinjaman dari toke, gitu jg tukang jamu gendong, setelah keliling seharian paling dapat untung 20 ribu……. mrk milih kerja keras dan gak jadi pemalak, gak jadi preman, gak jadi pelacur…. bandingkan dg preman dan pemalak bakan pelacur yg bisa dapat > 100 ribu/hari. jadi jgn naif, masalahnya bkn krn takdir atau kemiskinan belaka, toh banyak yg jadi tukang jamu, bubur, syomai, mie ayam, dll, kok gak semua jd preman dan pelacur krn miskin???? jgn sesatkan opini spt lagu kupu2 malam itu yg salahkan takdir menjdkan pelacur…..tulisan di atas sama aja, jadikan keburukan negeri ini sbg kambing hitam jg utk halalkan profesi pelacur…..

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s