Penting Gak Yaa

Pengen Nikah

Satu persatu teman-teman semakin mekar dan dewasa. Jenjang kehidupan baru mulai ditapaki dengan suka cita. Jika sebelumnya beban kehidupan dihadapai sendiri, maka setelah memasuki kehidupan baru beban itu terasa ringan kerena dibangun diatas pondasi yang bernama keluarga. Hadirnya keluarga baru ditandai dengan ritual yang berbentuk pernikahan.

Orang bijak berkata bahwa jangan akhiri cinta dengan pernikahan, karena subtansi cinta sangat abadi. Bahkan kematian sekalipun tak bisa mengakhiri cinta, apalagi dengan pernikahan yang hanya sekedar simbol. Hal ini berlaku takala cinta ditafsirkan secara mendalam. Berbeda halnya bila cinta dipahami secara dangkal yang dilatarbelakangi oleh gejolak nafsu dan syahwat.

Dalam sebuah hadist ada syarat-syarat untuk memilih pasangan hidup, yakni berdasarkan harta, nasab, paras/kecantikan dan agama. Diantara syarat-syarat itu agama menjadi pilihan yang harus dikedepankan agar termasuk dalam golongan orang beruntung. Disini tidak ditemukan kata cinta, untuk urutan terakhir sekalipun tak ada tersurat kata cinta.

Setiap orang memiliki kriteria tersendiri dalam memilih pasangan hidupnya.  Tapi ajaran Islam menuntut agar memprioritaskan agama terlebih dahulu. Sementara makna agama bisa multi tafsir. Apakah yang dimaksud dengan agama itu memilih pasangan yang seiman atau seagama, bukankah dalam alquran dibolehkan seorang pria muslim menikah dengan seorang wanita ahli kitab. Atau mungkin memilih pasangan yang rajin beribadah, karena agama selalu diidentikan dengan orang yang rajin beribadah. Marx pernah memandang bahwa agama bagaikan candu yang membuat manusia selalu bergantung kepada tuhan.

Seperti kita ketahui bahwa agama tidak hanya sekedar ibadah, buktinya porsi ayat-ayat ibadah ritual yang terkandung dalam alquran jauh lebih sedikit daripada ayat-ayat sosial. Sebagai contoh, seorang koruptor yang rajin beribadah tapi secara sengaja melakukan tindakan korupsi, hal demikian merupakan perbuatan yang dilarang oleh agama. Sehingga orang tersebut belum dikategori sebagai orang yang taat beragama, kecuali sudah bertobat dari perbuatannya.

Saya tidak berpretensi untuk mengenyampingkan ibadah ritual. Walau bagaimanapun ibadah ritual itu juga penting. Akan tetapi ibadah ritual perlu diimbangi dengan ibadah-ibadah sosial. Dalam agama manapun ibadah ritual merupakan bagian yang tak terpisahkan dari agama. Oleh karena itu, korelasi antara ibadah ritual dangan ibadah sosial perlu terjalin erat. Cinta merupakan unsur yang dapat menjembatani antara ibadah ritual dengan ibadah sosial tersebut.

Hakikat cinta menurut Ibn Hazm al- Andalusi adalah jembatan penghubung antara jiwa-jiwa manusia yang berbeda corak dan kecendrungannya. Cinta adalah jembatan penghubung antara manusia dengan tuhan. Cinta adalah jembatan penghubung antara manusia dangan manusia lainnya. Cinta adalah jembatan penghubung antara manusia dengan lingkungan sekitarnya.

Orang-orang yang bisa membangun “jembatan” inilah yang termasuk dalam ketegori orang yang “beragama”.  Untuk membangun sebuah jembatan saja diperlukan pengetahuan yang cukup, apalagi membangun “jembatan” antara dua manusia yang diikat dengan pernikahan. Jadi ilmu pengetahuan dan cinta adalah dua sisi mata uang tidak dapat dipisahkan. Dalam Islam, orang yang berilmu memperoleh derjat yang tinggi. Manusia yang cinta ilmu mendapatkan tempat terhormat disisi tuhan. (19.40_04.01.11trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s