Gak Penting Yaa

Ohh Tuhan!!! Hukuman Gayus Cuma 7 Tahun Penjara

Gayus Halomoan Tambunan, itu nama yang santer beredar di berbagai media di Indonesia.Gayus, nama itu begitu melekat sebagai simbol mafia hukum dan koruptor di negeri ini. Berbagai kasus hukum menimpa pegawai pajak bergolongan rendah ini. Mulai dari kasus korupsi, penggelapan pajak, pelasiran ke Bali dan luar negeri, menyuap polisi, jaksa dan Hakim. Terakhir kali kasus paspor palsu, tentu korban yang disuapnya pun akan bertambah pula.

Dari sekian banyak kasus itu, masyarakat semakin gerah dengan tingkah polah para koruptor di negeri ini. Keresahan masyarakat tersebut ada yang dilampiaskan melalui berbagai cara, seperti konser, tulisan, demo hingga menciptakan lagu.

Ujung-ujungnya para koruptor yang ketahuan tetap akan merasakan dinginya hawa penjara. Tapi kita tidak tahu apakah mereka bahagia didalam penjara. Dari kasus yang sudah-sudah, tampaknya para koruptor menikmati hidupnya didalam penjara, seperti kasus Artalita yang ketahuan nyuap jaksa tapi hidup berlimpah fasilitas di dalam selnya.

Sekrang simbol mafia hukum, yakni Gayus Tambunan, telah divonis 7 tahun penjara ditambah denda 300 juta rupiah. Kalau gak sanggup bayar denda bisa diganti dengan kurungan penjara 3 bulan.

Mendengar putasan tersebut membuat saya selalu berpikir bahwa inilah yang disebut dengan negara para koruptor. Dari angkanya saja, hukuman tersebut begitu kecil. Apalagi prakteknya nanti, belum lagi dikurangi dengan segala tetek bengek seperti remisi dan revisi… (heheheh revisi, emang nulis ya?? ckckckck)

Jangankan 7 tahun, hukuman yang tidak sampai 1 tahun saja bisa membuat gayus bisa liburan ke luar negeri dan pulau bali. Setidaknnya ada 5 tempat yang disinggahinya. Jika kita kalkulasikan 1 tahun mengunjungi 5 tempat, maka 7 tahun menjadi 35 tempat… (ahhh, kok berandai-andai gini sih)

Sekarang saya kembali ke persoalan hukuman gayus aja deh. Dalam benak kadang saya berpikir apakah vonis itu sudah adil atau tidak??

Kayaknya harus kembali buka buku pelajaran ilmu kalam lagi neh, atau buka-buka buku filsafat, terutama pembahasan yang berbicara tentang keadilan. Untuk lebih mudahnya, membuka buku rakyat jelata aja deh. Buku ini begitu jujur, karena ditulis diatas ketidakadilan yang mereka peroleh. Mungkin bahasa sederhananya, vonis tersebut dilihat dari kaca mata rakyat awam sajalah. Jangan dilihat dari kaca mata teori hukum, karna kita akan dibuat pusing dengan sendirinya.

Sebagai masyarakat awam, hukuman  yang telah dijatuhkan kepada mafia hukum itu terlalu ringan. Keadilan yang didambak-dambakan tak pernah berpihak kepada rakyat kecil. Hukum di negara ini selalu berpihak kepada rakyat yang berduit saja. Semakin banyak uang yang dipunyai, semakin kecil pulalah hukumnya. Kiranya begitulah logika keadilan dimata rakyat jelata. Tak salah memang keadilan yang sangat nyata itu hanya keadilan Tuhan. Semoga tuhan mencurahkan sifat adilNYA kepada umatNYA yang hidup di negeri para koruptor ini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s