Penting Gak Yaa

Kredit Keluarga Berencana (KKB)

Deru ombak pantai ikut meramaikan percakapan kami di sebuah warung. Dendangan syair Iwan Fals sebagai teman setianya. Dalam berdiskusi kami tetap merasa gembira, meskipun pondok tempat kami maota (bercerita) hanya berjarak 100 meter dari bibir pantai yang pernah mengancam keluarga kami dengan tsunaminya.

 

Beberapa diantara kami melepaskan penat kehidupan dunia dengan berbagi cerita. Ada tawa dan sedih, ada suka dan duka. Semua berbaur menjadi satu. Malam terasa singkat dengan hadirnya semangat berbagi diantara kita. Cerita-cerita lucu disampaikan dengan apik dan menarik. Saking lucunya cerita tadi diulang sampai tiga kali. Namun kami semua tetap tertawa.

 

Topik pembicaran berawal dari yang tidak penting sampai kepada hal-hal yang sedikit penting. Masalah cinta, keluarga, kesibukan, lifestyle, agama hingga masalah seksual menjadi isu hangat yang tak pernah lelah untuk kami perbincangkan. Malam itu kami tidak menyinggung persoalan negara, karena terlalu runyam untuk kami berdebatkan. Kami merasa negara tidak pernah hadir dalam lini kehidupan kami. Jadi untuk apa kami mempedulikannya.

 

Di depan warung tempat kami maota berdiri kantor pemerintahan yang katanya mengurusi segala bentuk pembangunan di kota kami. Entah apa yang mereka bangun kami tidak pernah tahu, apalagi merasakan dampak dari pembangunan itu. Untuk modal awal warung ini saja kami harus patungan bersama teman-teman senasib. Dengan modal apa adanya kami merintis usaha kecil-kecilan. Orang sering berkata bahwa yang besar itu berasal dari yang kecil dulu.

Itulah keyakinan yang membakar semangat kami agar terlepas dari belenggu ekonomi.

 

Sebelumnya ada seorang pelanggan kami yang menawarkan kepada kami untuk mengembangkan usaha ini. Ia menyarankan kepada kami untuk menambah modal dengan meminjam uang melalui bank. Saran itu hanya bisa kami tampung, tapi tidak bisa kami telan. Mustahil rasanya kami mengajukan kredit kepada bank, karena ujung-ujungnya kami akan ditagih dengan agunan yang tak pernah kami miliki. Sementara, kredit mikro yang digembar-gemborkan para pejabat itu tak pernah sampai ketelinga kami. Padahal di depan hidung kami berdiri kantor pemerintahan yang begitu megah.

 

Sudahlah, kami tak pernah berharap sedikitpun kepada negara yang tidak memperhatikan orang-orang kecil seperti kami ini. Lebih baik kami bicara masalah lain saja. Kebetulan malam itu kami membahas keterkaitan antara seksual dan agama, yang ujung-ujungnya kami malah berdebat tentang program KB (Keluarga Berencana) yang dianggap oleh sebagian ibu-ibu sebagai program berdosa.

 

Seorang teman begitu ngotot mengatakan bahwa KB itu tidak berdosa. Sedangkan teman satu lagi tak kalah ngotot berargumen bahwa KB itu berdosa, karena sama saja dengan membunuh manusia. Teman yang pro KB berdalil bahwa dahulu kala seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah tentang tindakan mereka yg melakukan ‘azl (mengeluarkan sperma diluar vagina, agar istri tidak hamil), dan Rasulullah tidak melarang sahabat melakukan ‘azl tersebut. ‘azl merupakan tindakan pembenaran dari para pendukung program KB.

 

Sementara itu, teman kontra KB beralasan bahwa didalam QS. Al-Isra ayat 31 yang berbunyi: “Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut kemiskinan. Kamilah yang akan memberi rezki kepada mereka dan juga kepadamu. Sesungguhnya membunuh mereka adalah suatu dosa yang besar”. Dengan melakukan KB itu berarti telah membunuh anak manusia, apalagi dengan alat KB yang membuat wanita tidak akan hamil selamanya. Sedangkan mereka yang berKB dengan alasan takut miskin merupakan bukti bahwa berKB sama saja dengan tidak meyakini rezeki yang diberikan Tuhan, kata teman yang kontra KB dengan bersemangat.

 

Mendengar alasan tersebut, teman pro KB menghela nafas panjang-panjang dan menjawab argumen teman kontra KB dengan tenang dan santai; Ok teman, untuk masalah rezeki biar kita bahas dalam sesi berikutnya.!!!

Pada prinsipnya KB itu upaya untuk menekan ledakan penduduk atau baby bo0m yang berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi di masyarakat. Untuk mengatasi ini setiap masyarakat menghadapinya dengan cara berbeda. Di Cina, persoalan ini direspon dengan kebijakan paksa ‘satu anak cukup’ yang diduga menjadi penyebab terjadinya pembunuhan anak dan pengguguran kandungan. Sedangkan kebijakan ditempat kita tidak demikian karena program KB bersifat persuasif, dimana orang diberi kebebasan untuk berKB atau tidak.

‘azl itu sama saja dengan kebijakan di Cina.!!! Tangkas teman yang kontra KB

Beda teman, ‘azl yang dibolehkan Rasulullah itu tidak membunuh anak, karena sperma yang dikeluarkan itu belum menjadi janin atau anak. Sementara kasus di Cina tersebut baru disebut membunuh anak, karena menggurkan kandungan. Dari pada menggugurkan kadungan lebih baik merencanakan dulu dengan pasangan dengan cara berKB. Yang penting berencana dulu, karena yang menentukan tetap Allah kok. Jika Allah sudah berkehendak, tanpa berhubungan badan, manusia tetap bisa melahirkan seperti kasus Maryam yang melahirkan Isa tanpa Ayah. Jawab teman pro KB dengan meyakinkan.

Mendengar jawaban itu, teman kontra KB terdiam membisu dengan segudang pertanyaan-pertanyaan lainnya. Tapi ia tampak puas dengan jawaban itu dan persepsi dia tentang KB mulai bergeser. Dari proses dialektika itu saya menilai bahwa perbincangan kami ini merupakan bagian dari sosialisasi KB yang seharusnya menjadi tugas pemerintah. Sementara pemerintah tidak pernah mensosialisasikan kepada kami tentang kredit mikro. Padahal kami sudah mensosialisasikan program pemerintah lainnya, seperti program KB ini.(12.11_08.01.11trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s