Gak Penting Yaa

Kalau Nurdin Halid Mundur, Siapa Penggantinya??

1295678301927914405Setelah membaca berita di Kompas, saya jadi bertanya-tanya. Kalau Nurdin Halid mundur, siapa yang jadi penggantinya?? Pertanyaan itu berangkat dari gaya kepemimpinan Nurdin Halid yang tak bisa digoyang oleh manusia, bahkan “tuhan” sekalipun.

Desakan agar Nurdin Halid mundur dari kursi kepemimpinan di PSSI datang dari berbagai kalangan. Mulai dari grassroot sampai para pejabat publik secara vulgar menuntut agar Nurdin Halid mundur. Tapi desakan ini tak pernah dihiraukan dan ditanggapi seperti angin lalu saja.

Entah apa yang ada dalam pikiran Nurdin Halid. Tampaknya Nurdin merasa ia masih pantas sebagai garda terdepan dalam perubahan sepakbola di Indonesia. Hasil kerja keras Nurdin di PSSI selama ini tak lagi menjadi pendukung baginya untuk bisa bertahan. Di mata publik yang mengemuka hanya kegagalan dan miskin prestasi di tubuh PSSI. Walaupun kurang berprestasi, Nurdin merasa nyaman di kurisnya.

Kerasnya desakan agar Nurdin mundur bukan karena semangat perubahan sepakbola Indonesia saja. Tapi lebih daripada itu, publik tidak mengkehendaki kepemimpinan di negeri ini diisi oleh orang-orang yang cacat moral. Maksud dari cacat moral disini adalah orang-orang yang terlibat korupsi.

Seperti kita ketahui, Nurdin pernah merasakan dinginnya jeruji penjara karena tersandung kasus korupsi. Ternyata dari dalam penjara itu Nurdin masih bisa memimpin organisasi tertinggi sepakbola di Indonesia. Praktek mafia seperti ini semakin menegaskan bahwa ketidakadilan di negeri ini begitu nyata. Kasus demikian hanya contoh kecil dari banyaknya praktek mafia di negeri ini.

Tekanan publik yang begitu kuat bukan merupakan ancaman bagi para mafia seperti Nurdin. Kalaupun nanti kehilangan jabatan, tetap saja para mafia masih bisa mengendalikannya dibelakang layar.

Kalaupun Nurdin turun dari Ketua PSSI, tentu penggantinya harus berasal dari orang-orang yang tidak bisa disentuh oleh pengaruh para mafia. Semangat perubahan saja tidak cukup, karena pengganti ideal itu adalah orang yang bersih dan “suci” dari praktek mafia dan korupsi. Jika penggantinya masih dari kalangan mafia juga, maka itu sama saja tidak ada gunanya. Lalu kemudian muncul lagi pertanyaan lain, siapakah orang yang bersih dan “suci” tersebut???

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s