Penting Gak Yaa

Dialektika di Kurai Taji

 

Seorang novelis terkemuka pernah berkata bahwa orang melayu itu pemalas. Ketika malas, orang melayu biasanya pergi ke lapau (warung). Lapau adalah tempat dimana terjadi hubungan sosial, interaksi ekonomi dan tempat bercengkrama berbagai masalah sosial, budaya dan politik. Seringkali lapau dijadikan tempat untuk bermalas-malasan.

Menurut saya persoalan malas tidak hanya terjadi pada orang melayu saja. Semua orang pernah bersentuhan dengan malas, baik secara sadar maupun tidak. Jadi, generalisasi terhadap orang melayu sebagai pemalas tampaknya tidak tepat. Karena malas itu persoalan pribadi dan tergantung kepada diri sendiri.

Sementara itu, lapau bukan sekedar tempat bermalas-malasan. Lapau biasanya menjadi tempat dimana terjadi transaksi ekonomi dan berbagai hubungan sosial. Walau tidak tertutup kemungkinan lapau menjadi tempat untuk membuang-buang waktu secara sia-sia. Akan tetapi lapau bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk bertukar pikiran dan menyelesaikan berbagai persoalan.

Di lapau tidak ada sekat-sekat yang membatasi orang untuk berpendapat. Lapau menawarkan kebebesan berekspresi bagi semua orang. Disinilah menariknya lapau, sesuatu kebebasan yang tak pernah kita dapatkan dari Negara. Dalam negara setiap tindakan, ucapan dan tingkah laku selalu dibatasi oleh sekat konstitusi.

Bila anda berkunjung ke kampung saya, maka tak lengkap rasanya kalau tidak mampir ke lapau. Salah satu lapau yang harus didatangi itu adalah lapau di Kurai Taji yang dikenal dengan Los Lambuang. Begitu sampai ditempat itu lambung kita akan dimanjakan dengan berbagai makanan dan minuman maknyos. Sambil menikmati makanan dan minuman itu kita bisa memanjakan logika dengan berdialektika. Inilah yang saya sebut dengan dialektika di Kurai Taji.

Dalam masyarakat Yunani kuno dialektika berarti “seni berdiskusi” atau “seni berdebat”. Dari tangan Hegel dialektika jadi kian bermakna, bagi Hegel dialektika adalah suatu keniscayaan sejarah yang merupakan dinamika antara tesis dengan anti tesis yang berbuah menjadi Sintesis. Semantara itu, Tan Malaka yang sekampung dengan saya menguraikan panjang lebar tentang dialektika dalam Madilognya. Tan Malaka menilai dialektika mengandung empat hal, yakni waktu, seluk beluk (pertalian), pertentangan dan gerakan (timbal balik)

Ketika sebuah pertanyaan tidak bisa dijawab dengan logika, maka dialektika menjadi solusinya. Menurut logika ya itu ya ; tidak itu tidak ; ya itu bukan tidak. Dari sisi dialektika, sebuah pertanyaan tidak harus dijawab dengan ya dan tidak saja. Tapi terkait dengan yang seharusnya dan tidak seharusnya.

Sebagai contoh, seorang hakim sebut saja namanya Arif Bijaksana telah memvonis seorang koruptor yang mencuri uang rakyat triliunan rupiah dengan hukuman 5 tahun penjara, sedangkan dalam waktu yang berlainan sang hakim menghukum seorang pencuri seekor ayam seharga dua puluh ribu rupiah dengan hukuman 5 tahun penjara pula.  Adilkah putusan hakim tersebut?? Jawabannya bisa ya bila dipandang dari sisi para koruptor, akan tetapi jawabannya akan menjadi tidak jika dilihat dari sisi pencuri ayam karena mereka sama-sama mencuri. Jadi, jawabanya bukan sekedara adil atau tidak adil saja. Dari sinilah kita mesti memerlukan dialektika, dimana dialektika mengarah kepada berapa hukuman seharusnya dan tidak seharusnya bagi koruptor dan pencuri ayam. Dengan dialektika pula kita dapat memahami bahwa ‘adil’ itu ada karena adanya ‘kezaliman’. Seperti halnya adanya gelap, karena ketiadaan cahaya.

Berbagai permasalahan hidup tidak bisa saya jawab dengan logika, untuk itu saya memerlukan dialektika agar dapat terlepas dari persoalan tersebut. Dari lapau di Kurai Taji itu saya memahami pertentangan di dalam otak saya ini. Menurut Hegel pertentangan di dalam otak kita berasal dari ide semata-mata, sehingga dialektika Hegel dikenal dengan dialektika idealisme. Sedangkan Marx memandang bahwa pertentangan di dalam otak kita merupakan cerminan/bayangan dari pertentangan benda yang ada di alam semesta, yang dikenal dengan dialektika materialisme. Begitulah sekiranya pemahaman dialektika yang disempurnakan oleh para pemikir seperti Hegel dan lain-lain.

Bila dialektika dipahami dari sudut pandang masyarakat Yunani Kuno, maka dialektika di Kurai Taji merupakan sebuah tempat untuk mengasah seni berdiskusi yang bisa melepaskan kita dari persoalan hidup yang menjerat keseharian kita. Dialektika di Kurai Taji merupakan bukti bahwa tak selamanya lapau menjadi sebuah tempat bermalas-malasan. (20.36_17.010.11trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s