Gak Penting Yaa

Cerita dari Kampung Sate

Jarum jam sudah menunjuk pukul 16.00 WIB. Ayah dari tiga orang anak itu bergegas untuk menjual dagangannya menggunakan gerobak yang sangat sederhana. Rumah yang sedianya ditempatkan bersama keluarga hancur luluh lantak diterpa goncangan gempa dahysat beberapa waktu lalu. Kini ia mengontrakĀ  dekat dari rumahnya semula. Rumah kontrakan itu tak luput pula dari ganasnya gempa, tapi masih layak untuk dihuni. Dari rumah kecil itulah ia meracik segala macam bumbu-bumbu untuk dijadikan sate khas pariaman.

 

Lingkungan tempat bapak itu tinggal dikenal dengan julukan kampung sate, karena disana banyak masyarakat yang menggantungkan nasibnya dengan berjualan sate. Ada yang berjualan sate dengan gerobak, dan adapula yang berjualan sete dengan menetap di kedai-kedai sederhana. Bagi saya, sate yang paling enak adalah sete yang dibuat oleh orang-orang kampung sate ini.

 

Sebut saja Arabi sebagai panggilan akrab bapak tiga anak penjual sate keliling itu. Arabi mengaku bahwa ia berjualan sate hingga tengah malam dan mendorong gerobak hingga 10 km dari rumahnya. Sepulang jualan sete, Arabi membawa pulang uang sekitar 300 ribu dengan catatan semua dagangannya habis terjual. Bila daganganya tak habis maka ia harus membawa uang ala kadarnya untuk anak bini di rumah. Dagangannya tidak hanya sate, tapi diimporvisasi dengan menjual kerupuk yang digoreng sendiri oleh istrinya. Dengan inovasi itu Arabi merasakan peningkatan pendapatannya dari pada sekedar menjual sate saja.

 

Belakangan ini Arabi merasa pendapatanya sedikit menurun karena persaingan yang begitu ketat. Dulu jam sambilan malam lah habis sete awak, kini sampai jam duo baleh awak manggaleh sate alun juo habis-habis lai. (Dulu jam sambilan malam udah habis sate saya, sekarang sampai jam dua belas belum habis jua) Keluh Arabi.

 

Baa kok sampai baitu pak??? (Kenapa bisa begitu pak???) Tanya saya.

 

Dahulu seketek urang yang manggaleh sate nyeh. Kini lah banyak urang rantau nan pulang ka kampung, tibo di kampung inyo manggaleh sate. (Dahulu sedikit orang yang jualan sate. Kini sudah banyak orang yang merantau pulang kampung, sesampai di kampung dia jualan sate.) Jawab Arabi.

 

Arabi sadar bahwa kapitalisme yang menggerogoti segala lini kehidupan di kampungnya sangat sulit untuk dibendung. Persaingan yang menjadi kata kunci dalam kehidupan liberalisme membuat ia sulit untuk bertahan dengan modal yang amat terbatas. Ia merasa dirinya bagian dari kaum proletar yang berhadapan vis a vis dengan para pemilik modal. Setidaknya Arabi merasa bangga karena karena presiden Barack Obama sebagai pemimpin tempat tumbuh suburnya liberalisme dan kapitaliseme adalah penikmat sate.

 

Arabi mengaku keahlian yang ia punya hanya membuat sate. Tak mungkin baginya baralih ke usaha lainnnya. Jangankan bicara teknologi dan manejemen yang dapat diterapkan dalam usaha satenya, untuk baca tulis saja Arabi masih ketar ketir. Walaupun pendidikanya rendah, Arabi begitu bersemangat untuk menyekolahkan anaknya. Anak sulungnya saat ini duduk di bangku sekolah dasar.

 

Program sekolah gratis yang diterapkan pemerintah saat ini membuat Arabi tersenyum sumringah, karena ia tidak dipusingkan lagi dengan biaya sekolah anaknya. Tapi Arabi tetap was-was karena sekolah gratis itu hanya dilevel sekolah dasar saja, tapi tidak berlaku untuk tingkatan taman kanak-kanak (TK). Untuk uang masuk TK saja harus mengeluarkan gocek yang mencapai juta-an rupiah. Mustahil bagi Arabi untuk mengumpulkan uang sebanyak itu untuk anak bungsunya. Ia tentu akan lebih pusing lagi jika nanti ketiga anaknya mau menginjak perguruan tinggi yang bisa menelan biaya hingga puluhan juta rupiah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s