Gak Penting Yaa

Catatan Dari Khatib Sulaiman

Khatib Sulaiman, adalah nama jalan utama di kota padang. Nama jalan ini diambil dari nama Chatib Sulaiman, seorang pemuda Nagari Sumpur, sebuah nagari yang terletak tak jauh dari danau Singkarak. Chatib Sulaiman adalah seorang pemusik handal yang ikut berjuang melawan agresi Belanda.

Ia hanya sempat mengenyam pendidikan selama dua tahun di MULO, yakni sekolah Belanda yang setingkat dengan SLTP. Meskipun pendidikannya rendah, Chatib Sulaiman merupakan seorang yang cerdas. Disamping bakat seni, ia juga mampu menguasai bahasa Inggris dan Belanda. Ia menjadi salah satu pilar dalam pergerakan nasional di ranah minang.

Kini, nama Chatib Sulaiman diabadikan sebagai nama jalan di kota padang. Di sepanjang jalan Chatib Sulaiman berjejer berbagai pusat perkantoran, baik kantor pemerintahan maupun kantor-kantor swasta. Sehingga jalan ini tak pernah sepi dari lalu-lalang kendaraan dan aktifitas manusia.

Dalam sebuah kesempatan, saya menapaki jalan ini dengan berjalan kaki dari satu tempat ke tempat yang lainnya. Ditengah perjalanan itu saya melihat sesosok perempuan paruh baya yang memeluk dua orang anaknya hidup menggelandang di Jalanan Khatib Sulaiman. Ibu dua anak itu mencoba memperbaiki selendang yang melekat di tubuhnya. Disela-sela itu kedua anaknya dengan gesit melepaskan diri dari pelukan ibunya.

Tanpa dikomandoi, kedua anak itu dengan bebas bermain di trotoar jalan. Sang ibu menatap kedua anaknya dengan tatapan kosong. Entah apa yang ada dalam pikiran ibu itu.

Sementara anak yang masih kecil itu sibuk bermain dengan kakaknya yang tak jauh berebeda umurnya. Dilihat dari perawakannya, umur kedua anak itu tak lebih dari tiga tahun. Anak yang kecil kira-kira berumur dua tahun, sedangkan kakaknya berumur sekitar tiga tahun.

Penampilan ketiga orang ini begitu berbeda dari orang-orang yang ada disekitarnya. Ibu dari dua anak itu mengenakan pakaian apa adanya, lusuh dan jauh dari kata layak. Pakaian kedua anak kecil itupun tak jauh berbeda dengan yang dikenakan ibunya. Sedangkan orang-orang yang ada disekitarnya memakai pakaian yang layak. Nasib menjadi batas pembeda diantara orang-orang tersebut.

Walaupun demikian kedua anak itu semakin asyik bercengkrama dalam permainan. Sementara ibu mereka terlelap dibawah terik matahari. Mereka terus bermain dan tak menghiraukan ibunya yang tengah tertidur.

Dalam benak saya, selalu terbayang akan masa depan anak-anak ini. Apakah kelak mereka akan mengenyam pendidikan yang layak. Ketika tiba waktunya, apakah mereka bisa menikmati masa bermain di sekolah taman kanak-kanak (TK) seperti halnya anak-anak yang lain. Kemudian lanjut ke sekolah tingkat dasar (SD) , tingkat pertama (SLTP) dan tingkat lanjut (SLTA), atau bahkan menduduki perguruan tinggi.

Kalaupun mereka tak diberi kesempatan untuk menikmati dunia pendidikan, saya pun berharap mereka bisa seperti sosok Chatib Sulaiman yang bisa memberikan yang terbaik bagi bangsa dan negaranya walau tak mencicipi pendidikan yang tinggi. Setidaknya kedua anak itu memiliki kecerdasan seperti halnya kecerdasan yang dimiliki Chatib Sulaiman. Dengan kecerdasan itu mereka kelak bisa memberikan manfaat bagi lingkungannya.

Hanya waktu dan alam yang akan mendidik mereka menjadi manusia. Jalan Khatib Sulaiman menjadi saksi bisu, betapa kerasnya kehidupan masa kecil mereka. Tak ada pilihan lain, meskipun hidup di jalanan begitu keras, mereka tetap melewati dengan suka dan duka. Jangan biarkan mereka terlantar begitu saja. ((13.13_05.11.10trt))

Iklan

2 thoughts on “Catatan Dari Khatib Sulaiman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s