Penting Gak Yaa

Bersetubuh dengan Pelacur

Tulisan ini berawal dari update status di facebook yang berisi “Kibarkan kutang-kutangmu agar tidak tersesat dibelantara bulu-bulu”. Kata-kata itu terinspirasi setelah membaca novel filsafat dan puisi WS Rendra. Kibarkan kutang-kutangmu adalah kata-kata yang tertuang dalam puisi Rendra yang berjudul Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta. Sedangkan, dibelantara bulu-bulu adalah buah imajinasi dari cerita fiksi karya Jostein Gaarder yang menggambarkan bahwa sesungguhnya kita ber’ada’ diantara bulu-bulu kelinci.

Walapun update status tersebut terkesan vulgar dan “kasar”, tapi saya menulisnya dengan sadar berdasarkan prinsip dari facebook, yakin apa yang anda pikirkan??, bukan apa yang anda rasakan atau yang anda inginkan?? Meskipun keinginan untuk menikmati sembilan pelacur dari Mekkah dan merasakan dekapan pelacur dari Keramat Tunggak datang menggoda, namun benak saya selalu memikirkan pelacur, pelacur dan pelacur.

Revolusi pelacur yang dilontarkan oleh Rendra menggelitik syahwat. Kutang-kutang yang tersangkut diujung galah merupakan simbol gerakan pelacur kota Jakarta. Bagi masyarakat pra Arab sudah menjadi hal lumrah ketika kutang menjulang didepan rumah para pelacur.

Wahai para pelacur. Dalam Taurat jerih payahmu dihargai dengan seekor kambing. Sekarang kamu dibayar dengan uang kertas yang nilainya jauh dibawah harga seekor kambing. Rendra pernah bilang naikan tarifmu dua kali lipat agar mereka kelabakan. Tarif pelacur didikan Abdulah ibn Ubay saja dihargai dengan seratus ekor unta. Materi yang kamu terima mungkin tak sebanding dengan rasa sakit yang mendera batinmu.

Di negeri ini keberadaan pedagang nafsu sepertimu seringkali digusur oleh “polisi birokrasi” dan “polisi agama”. Pelacur dianggap sampah, pelacur dipandang hina dan pelacur merupakan sumber dosa. Adapula yang menganggap pelacur sebagai sumber bencana, bahkan penyebab terjadinya gempa. Ingat, membubarkan para pelacur tak semudah membubarkan partai politik.

Sungguh malang nasib kau wahai para pelacurku. Urusan gempa saja kau dituding  sebagai biang kerok. Bagaimana mungkin goyangan yang kau buat bisa mengalahkan goyangan yang diciptakan Allah.

Tuduhan yang mereka lontarkan kepadamu, mengingatkanku pada musibah yang menimpa Aisyah, istri Rasulullah, yang dituduh melacurkan diri. Bahtera rumah tangga Rasulullah dan Aisyra diuji oleh Allah. Setelah diselidiki, tuduhan zina itu tidak terbukti sama sekali. Lalu Aisyah “dihibur” dengan (QS. 24:26) yang berbunyi ;

“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)”

Ayat ini menunjukan kesucian Aisyah ra. Rasulullah adalah orang orang baik, tentu mempunyai istri yang baik pula. Dengan ayat ini, segala tuduhan kepada Aisyah gugur dengan sendirinya.

Melalui Ayat ini Allah menegaskan kepada kita bahwa laki-laki baik mendapatkan wanita yang baik, wanita yang baik mendapatkan laki-laki yang baik pula. Wanita yang keji mendapatkan laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji mendapatkan wanita yang keji pula.

Untuk itu, jadilah orang yang baik agar kita mendapatkan pasangan yang baik. Sehingga pertanyaannya bukan pantaskah kau menjadi miliku?, tapi pantaskah aku menjadi milikmu?.

Pertanyaan itu mengungkit kisah asmaraku dengan salah satu dari sembilan pelacur itu.  Lamaran yang tadinya ditujukan kepada pelacur cantik itu ditolak mentah-mentah oleh kedua orang tuaku. Kalaupun memaksakan kehendak untuk menikahi pelacur yang telah mengisi celah dihati ini, maka aku tidak lagi dianggap sebagai anak oleh kedua orang tua. Alasan mereka sederhana, yakni, “dan perempuan pezina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki pezina atau laki-laki musyrik” (QS 24:3).

Memang, semenjak mengenalmu aku tidak pernah menyentuh “perhiasan”mu. Bahkan berpikir untuk memegang tanganmu saja aku tidak berani, apalagi medekap pundakmu. Dari lekuk tubuhmu, hanya matamu yang dapat aku nikmati. Dalam matamu aku melihat sebagian jiwaku terpancar dari tatapanmu.

Melalui matamu pula aku menemukan kesamaan antara kamu dan aku. Kamu pencinta kebenaran, akupun cinta kebenaran. Kamu haus pengetahuan, akupun haus pengetahuan. Kamu begitu benci dengan kezaliman, akupun benci kezaliman. Kamu merindukan keadilan, akupun rindu keadilan.

Tapi kesaaman itu saja tidak cukup menyatukan kita, karena dibatasi oleh dinding-dinding realitas. Aku berharap kau kibarkan kutang-kutangmu, agar aku tidak tersesat dibelantara bulu-bulu realitas ini. Sehingga pertanyaan kepada diriku, bukan, pantaskah pelacur sepertimu untuk kumiliki?? Tapi, pantaskah aku menjadi milik pelacur sepertimu?? (06.06_28.01.11trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s