Penting Gak Yaa

Baca Ini Dulu, Sebelum Bunuh Diri

12954882861999236439

Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu lebih baik bagiku, dan wafatkanlah aku jika sekiranya itu lebih baik bagiku” (HR Bukhari dan HR Muslim)

Penggalan hadist diatas menjelaskan bahwa jangan sekali-kali menginginkan mati jika ditimpa kesusahan. Kalaupun keinginan mati itu tak terbendung, maka berdoa seperti penggalan hadis tersebut. Doa ini menegaskan bahwa kehidupan dan kematian terletak di tangan Tuhan, bukan di tangan manusia. Apalagi ditangan sendiri, itu namanya bunuh diri.

Hadist diatas diperkuat dengan dalil “Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu” (QS. An-Nisa’ : 29). Dalam ayat yang lain Allah menjelaskan bahwa  “Maka (apakah) barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al Qur’an)” (QS. Al-Kahfi ; 6). Jadi, secara tegas tergambar bahwa Islam melarang perbuatan bunuh diri.

Tidak hanya Islam, agama lain seperti Kristen, Yahudi, Buddha dan Hindu pada dasarnya melarang bunuh diri. Namun, faktanya dalam catatan sejarah fenomena bunuh diri begitu marak terjadi semenjak munculnya agama. Terkadang adapula sebagian kepercayaan yang tidak begitu tegas melarang bunuh diri, seperti dalam ajaran Shinto di Jepang. Pemahaman seperti ini tentu tak bisa dilepaskan dari konsep ajaran Shinto itu sendiri.

Bunuh diri merupakan fenomena universal bagi kehidupan manusia. Selain agama, faktor kebudayaan suatu masyarakat turut mempengaruhi orang untuk bunuh diri. Pada masa dahulu kala, berbagai tradisi bunuh diri baik secara personal maupun secara kelompok banyak dijumpai diberbagai tempat dengan motif yang amat beragam. Sedangkan sekarang fenomena bunuh diri lebih dominan secara personal, walau ada sebagian kecil yang bunuh diri secara masal seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Dalam masyarakat India Kuno bunuh diri malah diwajibkan bagi istri yang ditinggal mati suaminya. Tradisi ini dikenal dengan Suttee, yaitu istri membakar diri kedalam api pembakaran jenazah suaminya. Konon tradisi seperti ini juga pernah terjadi di Bali yang mayoritas masyarakatnya menganut agama Hindu. Belakangan tradisi bunuh diri itu dihapus oleh kolonial Inggris. Walaupun tradisi itu telah dimusnahkan, sebagian kecil orang di India masa sekarang masih melakukan kebiasaan tersebut.

Sementara itu, fenomena bunuh diri juga berkembang pada masa awal penyebaran agama Kristen. Berawal dari kisah bunuh diri Judas Iscariot (dalam Islam Judas dikenal dengan Yudas yang mengkhianati Nabi Isa). Kisah bunuh diri Judas Iscariot sebagai bentuk penyesalannya karena telah mengkhianati Yesus. Kemudian berkembang menjadi kelompok Donatis, yaitu kelompok yang mempercayai dengan bunuh diri akan memengantarkan mereka menuju surga. Hal ini membuat Santo Agustinus gerah, sehingga dalam karyanya The City of God, St Agustinus melarang dan mengutuk perbuatan bunuh diri.

Berbeda halnya dengan Jepang yang mayoritas masyarakatnya meyakini ajaran Shinto. Dalam Shinto, konsep neraka dan surga tidak dibahas secara jelas, seperti agama lainnya yang meyakini adanya surga dan neraka. Tidak adanya kepercayaan akan surga dan neraka ini membuat tradisi bunuh diri (harakiri) tumbuh subur.

Fenomena menarik justru terjadi dalam agama Buddha. Kultur harakiri nampak merasuki para penganut Buddha yang mengakhiri ketertindasan dengan cara bunuh diri. Seorang biarawan Buddha aliran Mahayana, Thich Quang Duc membakar dirinya sebagai bentuk protes atas diskriminasi agama yang dilakukan oleh pemerintahan Ngo Dinh Diem pada tahun 1963 di Vietnam. Kemudian aksi Thich Quang Duc ini diikuti oleh biarawan lainnya.

Bunuh diri karena motif ketertindasan politik juga terjadi di beberapa negara muslim. Pada umumnya bunuh diri terjadi di negara muslim yang sedang didera konflik berkepanjangan, yakni dengan cara bom bunuh diri. Ketidakadilan yang dilakukan penjajah berujung kepada tindakan bom bunuh diri yang dilakukan oleh mereka yang tertindas.

Dari berbagai fenomena bunuh diri tersebut, tak jarang sebagian masyarakat menganggap bunuh diri sebagai perbuatan yang hina. Ada beberapa kelompok masyarakat yang melarang untuk menyentuh jasad orang-orang yang telah bunuh diri, bahkan pohon yang digunakan untuk gantung diri harus ditebang. Ada pula sebagian masyarakat menganggap bahwa orang yang mati karena bunuh diri akan berubah menjadi hantu, dan tempat ia bunuh diri akan menjelma menjadi sebuah tempat yang angker dan menyeramkan. Pemahaman ini tak terlepas dari pengaruh ajaran hinduisme.

Tak sedikit bunuh diri disandarkan kepada agama tertentu. Padahal setiap agama telah tegas melarang orang untuk bunuh diri. Namun, penafsiran atas agama telah menjustifikasi pembenaran untuk melakukan tindakan bunuh diri.

Diluar alasan agama, tindakan bunuh diri banyak dilakukan karena motif keputusasaan, asmara, penderitaan karena sakit, susah menanggung beban hidup, dan kemiskinan. Motif demikian membuat orang banyak tergoda untuk mengakhiri hidupnya. Dengan motif tersebut setan begitu mudah menghembuskan hawa bunuh diri ke dalam setiap manusia. Bagi orang yang terbujuk ocehan setan tersebut tentunya ia akan mengakhiri hidup dengan berbagai cara. Tak sedikit pula kita dengar Tuhan menggagalkan upaya bunuh diri umatNYA, sehingga mereka gak jadi masuk neraka.

Doa yang dikutip diatas adalah upaya yang ampuh untuk menjawab rayuan bunuh diri yang dibisikan setan. Jangan sampai rayuan setan direspon dengan minum Baygon. Karena didunia ini masih banyak hak ekonomi, hak sosial dan hak politik yang dapat kita perjuangkan. Mati ditengah perjuangan itu merupakan tindakan yang tak kalah hebat dengan para syuhada yang tewas di medan perang. (8.40_20.01.11trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s