Gak Penting Yaa

Anak dan Orang Tua

Jalan penghubung antara Pariaman dan Bukittinggi itu tampak mulus dan lancar. Jika ditelisik lebih mendalam akan ditemukan beberapa lubang menganga yang sewaktu-waktu bisa mengancam keselamatan pengendara. Macet bukan menjadi persoalan, karena kedua kota bukanlah kota besar, seperti ibukota Jakarta. Tapi salah satu kota itu pernah menjadi “ibukota” negara pada masa pergolakan kemerdekaan Indonesia.

Kondisi jalan terasa berbeda takkala kita berbelok menuju desa-desa yang terletak di pedalaman. Bila hujan turun, jalan desa yang tak beraspal itu bagaikan kubangan kerbau. Genangan air lebih banyak daripada marka jalan. Cuaca cerah tak menjamin genangan air itu bakal kering.

Ditengah genangan itulah seorang anak kecil bermain bersama kakaknya. Kedua anak kecil itu tampak asik menghabiskan waktunya dijalanan becek yang berlinang air kotor. Namanya anak kecil, tentu belum kenal mana yang baik dan mana yang buruk. Sepertinya ibu kedua anak itu tidak mempedulikan keselamatan anak-anaknya yang bermain ditengah jalan. Bahkan ibu kedua anak itu tersenyum senang menyaksikan aktifitas anak-anaknya.Idealnya seorang ibu sedini mungkin menanamkan nilai-nilai baik dan buruk kepada anaknya.

Menyalahkan kedua orang tua, terutama ibunya, tentu bukan keputasan yang tepat. Cara pandang ibu terhadap anaknya akan mempengaruhi tindakan sang ibu dalam mendidik dan membesarkan anaknya. Anak-anak yang bermain di “kubang” jalan tak dapat pula disalahkan, karena mereka belum patut untuk dihukum dengan kesalahan. Oleh karena itu, persoalannya kemudian tertuju kepada cara orang tua membesarkan, mendidik dan mengawasi anak-anaknya.

Cara itulah yang kemudian menjadi landasan bagi anak untuk bersikap terhadap kedua orang tuanya. Bila orang tua mendidik anak-anaknya dengan prilaku santun  dan sopan, tentu sang anak akan bersikap seperti itu pula kepada orang tua dan orang-orang sekitarnya. Ketika Orang tua mengajarkan hal-hal berbau kekerasan, maka sikap anak-anaknya akan mengarah pula pada tindakan kekerasan. Hal ini memang tidak selalu menjadi faktor mutlak karena lingkungan akan ikut mempengaruhi sikap seseorang dalam bertindak.

Ketika anak sudah beranjak dewasa, sementara orang tua mereka sudah semakin termakan usia dan mengalami demensia (pikun). Maka kesabaran anak akan diuji untuk merawat orang tuanya. Saat mereka masih kecil, kesabaran orang tua yang diuji. Saat anak sudah dewasa giliran kesabaran anak yang akan diuji terhadap kedua orang tuanya. Inilah sekelumit gambaran bahwa ternyata Tuhan Maha Adil.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s