Gak Penting Yaa

Dihantui Tata Bahasa

Saat ini, kedua bola mataku terasa sulit untuk dipejamkan. Padahal hari sudah menunjukan pukul 23.39 WIB. Idealnya pada jam ini aku seharusnya bias tertidur. Sehingga dalam tidur, aku bisa mendapatkan mimpi yang indah. Akan tetapi apa yang aku harapkan ini sulit tercapai karena banyak hal-hal yang terpikir dalam benakku, sehingga akupun sulit untuk tidur.
Mungkikah aku mengalami penyakit insomia atau mungkin saja yang menyebabkan aku tidak bisa tidur ini dikarenakan aku sudah tertidur terlalu lama di siang hari. Bisa jadi penyebab lainnya ada hal-hal yang tidak jelas terlintas dalam dalam benakku. Oleh karena itu akupun sulit untuk menuju alam bawah sadarku dan menikmati tidur malamku.
Pada intinya banyak faktor yang menyebabkan seseorang untuk tidak bisa tidur. Tetapi bagiku hanya faktor-faktor tersebutlah yang mengganggu pikiranku untuk tidak bisa tidur lelap di malam yang indah ini.
Untuk itu, aku mengisi malam sebelum tidurku dengan mencoret-coret catatanku. Tetapi apa yang kulakukan ini terganggu oleh sebuah aturan yang mengekang ide-ide yang akan aku tuliskan, yakni tata bahasa. Aturan yang ketat dalam sebuah tata bahasa membuat otakku buntu untuk melukiskan kata-kata. Apa yang aku tulis terasa selalu salah jika dilihat dari kaca mata tata bahasa.
Oleh karena itu, saat ini aku tidak mempedulikan yang namanya tata bahasa, yang penting apa yang terlintas dalam pikiranku  mampu aku tuangkan kedalam bentuk kata-kata. Biarkanlah yang namanya tata bahasa ini mentertawakan struktur tulisanku, mencacimaki karyaku atau meremehkan kalimat-kalimatku. Jika aku terpedaya oleh tata bahasa maka aku takakan pernah bisa untuk menuliskan ide-ideku.
Buktinya beberapa hari ini aku sama sekali tidak pernah menulis karena tatabahasa selalu menghantuiku, seakan-akan bersiap untuk mentertawakan setiap kata-kata yang akan saya ukir. Jadi, rasa takut salah dalam sebuah penulisan dilatarbelakangi dengan katakutan terhadap tata bahasa.
Disatu sisi aku memahami bahwasanya tata bahasa memang penting dalam dunia tulis menulis. Untuk bisa mengerti tata bahasa memerlukan waktu yang cukup lama dan latiahan yang keras. Penulis yang hebat sekalipun tidak akan bisa mengerti tata bahasa secara instan, hanya dengan kerja keras dan latihan yang intensif mereka dapat memahami tatabahasa sedikit demi sedikit dengan baik dan benar.
Sedangkan disisi yang lain tatabahasa dapat menghantui seseorang untuk tidak bisa menulis. Jika tidak bisa mengelola ketakutan ini, maka aku akan terpedaya oleh ketakutan, yakni takut salah jika apa yang aku tulis tidak sesuai dengan aturan dalam tata bahasa.
Dengan demikian untuk sementara aku mengabaikan saja tata bahasa dan membiarkan jari-jari dengan leluasa melukiskan kata-kata yang terinspirasi oleh berbagai ide-ide. Jika hal seperti ini dilakukan terus menerus maka tata bahasa, maka tata bahasa secara otomatis akan takluk dengan sendirinya seiring dengan waktu yang berjalan. Aritnya pengalaman akan menuntut untuk bisa mengerti tata bahasa dengan baik dan benar.
Sehingga ada benarnya sebuah pribahasa yang mengungkapkan bahwasanya “orang yang tidak didik oleh orang tuanya akan didik oleh waktu”. Jadi seiring dengan waktu kesulitan tata bahasa dalam menulis, sedikit demi sedikit akan berkurang ditelan waktu.
Sebelum mengakhiri tulisan ini, alangkah baiknya mengingat kembali seorang pemikir islam pada masa lalu yakni ibnu khaldun, yang meluangkan beberapa halaman dalam muqadimmahnya mengenai dunia tulis menulis/ karang mengarang. (lihat muqadimmah hlm 742-748).
Menurutnya manusia memilik potensi berpikir, kemudian dari potensi itu muncullah pengetahuan yang ilmiah, melalui proses realias-realitas yang ada. Kemampuan manusia berpikirpun akhirnya melahirkan situasi problematika yang ia coba memcahkannya secara afrimatif atau negatif.

Apabila suatu gambaran ilmiah telah tegak didalam pikiran didalam pikiran melalui berbagai cara seperti diskusi, curhat, pengajaran dll.
Untuk itu ada dua tingkatan untuk mengkomunikasikan pemikiran. Tingkatan pertama ialah melaui “ekspresi verbal” yaitu suatu pembicaraan melalui kata-kata ucapan, dimana berbagai pemikiran dapat dikomunikasikan satu samalain melalui pembicaraan. Tingkatan kedua yaitu komunikasi melalui tulisan, dimana komunikasi ini terjadi ketika adanya perbedaan ruang dan waktu antara dua pihak yang memiliki pemikiran, tulisan tersebut berbentuk gambar-gambar(kata-kata) yang dibuat dengan tangan. Kemudian khaldun menggambarkan tujuan dari karang mengarang menjadi tujuh bagian.
Perlu disadari baha kita adalah makhluk yang memilik potensi berpikir. Sehingga apa yang kita hadapi dalam kehidupan ini memunculkan suatu probelmatika yang berasal dari pikiran. Untuk keluar dari problematika hidup ini kita melakukan berbagai cara seperti curhat dengan orang lain dengan harapan bia mengurngai masalah yang dihadapi. Namun, adapula yang menghadapi dengan menuliskan problematika hidupnya kedalam sebuah diary.
Dari berbagia cara inilah secara tidak sadar kita sebenarnya sudah mengabaikan tata bahasa yang berlaku. Seringkali seseorang tidak pernah memperhatikan tata bahasa ketika ia curhat dengan orang lain. Begitupula dengan seorang yang menulis diary, dimana dalam menulis ia tidak peduli dengan atauran dalam tata bahasa, yang penting baginya ialah menuliskan apa yang dirasakan dan dipikirkan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s