Gak Penting Yaa

Anak Jalanan Yang Masih Balita

“Hidup adalah perbuatan”, itulah slogan yang selalu didengungkan oleh Sutrisno Bachir di media masa. Nampaknya, slogan ini tidak berlaku bagi dua bocah kecil yang sedang mangais rezeki dengan mengamen di atas mobil Kontas Bima 102 jurusan Tanah Abang-Ciputat.

Baginya hidup adalah perjuang, bukan perbuatan. Perjuangan yang tak seharusnya dibebankan kepada bocah kecil yang belum berumur 5 tahun ini. Dengan umur yang sekecil itu, ia telah membanting tulang untuk mengais rezeki dijalanan dengan kakaknya yang umurnya tidak terpaut jauh (sekitar 8-9 tahunan).

Ketika menaiki mobil, kedua bocah ini saling berebutan dengan penumpang lainnya. Saat menaiki mobil, sang kakak dengan sigap mengendong adiknya menuju mobil. Kebetulan saat itu, penumpang Kontas Bima 102 tidak terlalu banyak, sehingga kedua bocah ini tidak kesulitan untuk menaiki mobil.

Walaupun tidak sulit untuk berdesakan dangan penumpang lain, namun kedua bocah ini kesulitan untuk menarik simpati dari para penumpang dengan keterampilan mengamennya. Dengan peralatan seadanya, sang kakak mengalunkan tembang dalam negeri yang sedang hits di televisi. Sedangkan adiknya bertugas untuk membagikan beberapa amplop kecil kepada penumpang.

Sang kakak berharap amplop yang dibagikan oleh adiknya akan diisi oleh penumpang dengan uang. Namun, sang adik tidak peduli dengan amplop yang dibagikanya. Bahkan ia belum mengetahui untuk apa ia membagikan amplop itu kepada penumpang. Mungkin ia menganggap bahwa amplop itu berisikan uang yang akan dibagikan kepada penumpang.

Anak-sekecil itu belum terlalu mengenal uang. Hal itu terlihat ketika ia mengabaikan uang koinnya yang terjatuh. Ia bahkan tidak peduli dengan uangnya yang terjatuh tersebut. Nah, yang menjadi pertanyaan kenapa anak yang sekecil itu harus berada di jalanan untuk mencari uang. Kenapa orang tuanya begitu tega membiarkan anaknya berkeliaran dijalanan.

Mungkin, faktor ekonomi menjadi alasan bagi orang tua untuk membiarkan anaknya mengemis di jalanan. Tetapi faktor ekonomi saja tidak cukup, karena faktor pendidikan dari orang tua juga berpengaruh terhadap perlakuan orang tua yang membiarkan anaknya tersebut.

Akankah kita akan selalu menemukan anak jalanan di sepanjang jalanan negeri ini. Seberapa banyakah orang tua di negeri ini membiarkan anak-anaknya untuk mengemis dijalanan. Sangat rumit sekali untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tetapi ada suatu harapan yaitu semoga jalanan dinegeri ini terbebas dari anak jalanan.

http://gustiramli.com/content/view/54/1/lang,en/

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s