Ngepos via Hape

Merekonsturksi Tradisi Kawin Bajapuik Di Pariaman

Belum banyak penelitian yang mengkaji tentang tradisi kawin bajapuik di pariaman, ditambah lagi dengan sangat sulitnya untuk mencari buku-buku yang membahas tentang tradisi perkawinan ini. Ditengah kekeringan itu masih ada beberapa referensi yang bisa dijadikan bahan rujukan sementara diantaranya ialah studi kasus dari Welhendri Azwar yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul matriolokal dan status perempuan dalam tradisi bajapuik.
Dalam buku ini azwar menulis hasil wawancaranya dengan ulama pariaman yakni Bagindo M. Letter, bahwa tradisi bajapuik di pariaman sebenarnya sesuai dengan apa yang dipraktekan Nabi Muhammad SAW, dimana Nabi sewaktu menikah dengan Khadijah dibayar (dijemput) oleh khadijah dengan seratus onta (hal 57). Legitimasi teologis inilah yang menjadi pembenaran dalam tradisi bajapuik, disamping itu ada kepentingan lain, seperti kaum bangsawan (borjuis) untuk mempertahankan eksistensi kebangsawannya.
Disisi yang lain, tradisi bajapuik ini dianggap mendiskriminasikan kaum perempuan. Hegemoni patriaki telah mensubordinasikan kaum perempuan, dan lebih parahnya lagi realitas cultural ini telah terlembagakan dalam lembaga perkawinan dan memaksa masyarakat. Jadi dalam tradisi bajapuik ini kaum perempuan merasa dirugikan oleh system adat. Padahal dalam system adat kita menganut system matrilineal yang cendrung menguntungkan kaum perempuan. Tapi kenapa dalam tradisi bajapuik ini terjadi malah sebaliknya.
Oleh karena itu, apakah kita harus menghilangkan tradisi bajapuik ini atau kita mempertahankanya. Jika kita menghilangkan tradisi bajapuik ini, maka secara tidak langsung kita telah menghilangkan identitas budaya kita sebagai orang pariaman. Untuk itu, seharusnya kita jangan menghilangkanya melainkan merekonstruksi kembali tradisi bajapuik ini. Jika demikian, solusi apa yang dapat kita lakukan.
Jalan keluarnya mungkin kita membongkar legitimasi teologis yang dibangun selama ini. Tahap awalnya yang harus dilakukan ialah medekonstruksi persepsi cultural yang telah menjadi darah daging bagi masyarakat pariaman. Selama kawin bajapuik itu di pahami secara konservatif, maka tradisi ini akan selalu memarginalkan kaum perempuan. Untuk itu dekonstruksi persepsi cultural ini sangat penting sebagai pondasi awal untuk konstruksi kawin bajapuik.
Kemudian, kawin bajapuik yang selama ini dikamuflase oleh nilai-nilai baru seperti “uang hilang”, yang terstruktur dalam lembaga perkawinan harus di dekonstruksi pula. “Kebenaran” uang hilang yang selama ini dipaksakan atas dasar cultural, harus diruntuhkan.
Struktur yang telah didekonstruksi tersebut kemudian harus direkonstruksi kembali, agar menghasilkan struktur yang baru yang lebih segar dan lebih bermakna. Rekonstrusi ini dapat pula menciptakan nilai-nilai dan hakikat dari kawin bajapuik itu sendiri.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s