Gak Penting Yaa

Tabuik dan Timnas Indonesia

 

Kemarin (19/12/10) ada dua perhelatan yang membuat ribuan manusia berkumpul pada satu tempat yang sama. Pertama, perhelatan Tabuik yang diselenggarakan di Pariaman telah menyedot ribuan pengunjung. Kedua, pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Philipina dalam leg kedua semifinal piala Asean Football Federation (AFF) yang berlangsung di stadion Gelora Bung Karno Senayan-Jakarta yang dihadiri puluhan ribu penonton. 

Perhelatan pertama disatukan oleh semangat budaya yang telah menjadi tradisi turun temurun di Pariaman. Sementara helat kedua bergelora karena tumbuhnya semangat nasionalisme dalam dunia olah raga. Meski disatukan oleh motif yang berbeda, kedua perhelatan itu sama-sama menyuguhkan hiburan bagi yang menontonya. Apalagi Timnas Indonesia memenangkan pertandingan dengan skor 1-0.

 

Sebagian pengunjung pesta budaya tabuik mungkin tahu bahwa beberapa menit setelah tabuik dibuang akan diadakan pertandingan sepakbola antara Indonesia melawan Philipina. Namun, sebagian besar penonton di Gelora Bung Karno tidak tahu bahwa pada saat bersamaan berlangsung pesta budaya tabuik di kota Pariaman.

 

Saya memperkirakan bahwa kebanyakan penonton yang hadir langsung di Senayan pernah mendengar kata Pariaman tapi tidak pernah mendengar kata tabuik, terkecuali bagi penonton yang berasal dari Padang. Mereka mengenal Pariaman dari pemberitaan gempa dahsyat yang melanda Sumatra Barat beberapa waktu yang lampau. Selanjutnya mereka kenal dangan kata pariaman dari gerobak sate yang tersebar di berbagai pelosok Jabodetabek. Sayangnya para penjual sate yang berlabel Pariaman ini tak memiliki waktu luang untuk mempromosikan tabuik dari kampungnya, karena mereka disibukan dengan tusuk satenya.

 

Jika anggapan saya ini tidak meleset, maka ini akan menjadi sebuah evaluasi untuk penyelenggaran berikutnya. Bagaimana mungkin Pesta Budaya tabuik bisa menarik wisatawan dari luar negeri, jika masyarakat dalam negeri saja tidak kenal dengan Tabuik. Semakin ironis lagi bahwa ada orang yang tinggal di Sumatra Barat, tapi tidak tahu menahu bahwa tabuik diselenggarakan hari minggu kemaren. Bahkan ada orang yang berdomisili di Pariaman sendiri tidak tertarik atau jenuh untuk melihat tabuik, karena tidak ada hal yang menarik dalam penyelenggaraannya.

 

Walaupun demikian, pesta budaya tabuik tetap ramai dikunjungi oleh para wisatawan terutama wisatawan lokal. Jika promosinya dimaksimalkan, maka pengunjungnya bisa lebih banyak dari pada sebelumnya, bahkan bisa melebihi penonton di Gelora Bung Karno. Upaya promosi yang telah dilakukan oleh perantau yang berasal dari Pariaman tidak dapat pula dipungkiri. Terkadang mereka membuat Tabuik mini yang merepresentasikan tabuik sesungguhnya di perantauan. Tapi wisatawan -khusunya luar negeri- belum menjadikan kunjungan ke ke Pariaman sebagai prioritas. (02.54_20.12.10trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s