Gak Penting Yaa

Rebab dan Sekolah

Pada suatu pagi yang tidak begitu cerah, terlihat sekumpulan orang berkerumun di sudut sebuah pasar tradisional di kota Pariaman. Dengan rasa penasaran, aku pun menghampiri keramaian tersebut. Memang dari kejauhan terdengar lantunan musik yang tak asing bagi telinga. Komposisi suara yang menarik dan unik menjadikan musik ini sebagai musik yang memiliki ciri khas tersendiri, ditambah pula dengan lirik-lirik yang senada dengan logika. Kami menyebutnya dengan rebab (musik tradisonal khas melayu), tapi sekilas musik itu terdengar seperti musik saluang dangdut.

 

Entah apa jenis kelamin dari musik itu, kami tidak terlalu peduli. Empat orang yang menjadi perhatian dari warga itu mampu membuat kami terpikat dan kagum. Namun, dibalik kekaguman itu tersimpan rasa prihatin dan kepiluan yang mendalam.

 

Batapa tidak, tiga dari empat orang yang memainkan musik tradisional itu masih anak-anak, satu diantaranya adalah perempuan. Semestinya, di pagi itu mereka bertiga harus duduk di  bangku sekolah dan mengenyam pendidikan yang telah dijanjikan oleh negara. Namun, apalah daya, perempuan yang berambut panjang itu hanya bisa melantunkan lagu ciptaan bapaknya di tengah hiruk pikuk kampanye pendidikan gratis.

 

Dari parasnya, anak perempuan itu terlihat lebih tua dari dua anak laki-laki lainnya. Salah satu dari kedua laki-laki itu dengan tanang duduk disamping bapaknya yang asyik menggesek alat musik rebab. Sesekali kedua bersaudara itu itu bergantian melanjutkan lirik lagu yang didendangkan oleh sang bapak. Sementara itu, si bungsu dengan lincah menggoyangkan badan dan pinggulnya agar seirama dangan alunan musik.

 

Nyanyian mereka bagaikan rintihan akan ketidakadilan. Suara mereka seakan terdengar penuh dengan pemberontakan terhadap realita hidup. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak mereka sebagai warga negara menjadi sirna. Akumulasi pengetahuan orang tua semakin memperdalam lubang penderitaan bagi mereka agar terjebak dalam jurang kebodohan.

 

Eksploitasi anak secara gamblang dipertontonkan di hadapan publik. Selayaknya orang tua menjadi garda terdepan bagi anak untuk meperoleh hak mereka sebagai anak. Namun, ketidakberdayaan secara ekonomi membuat bapak tiga anak itu kehabisan akal untuk menyekolahkan anaknya.

 

Berbekal kemampuan memainkan alat musik rebab, sang bapak berjuang untuk terlepas dari jerat kemiskinan. Dengan musik rebab, bapak itu berupaya dengan gigih untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Musik rebab menjadi mata pencarian bagi mereka untuk dapat meraup pundi-pundi dari para dermawan.

Rebab, Riwayatmu Kini.

Bila melihat napak tilas dari rebab ini, ditemukan perjalanan sejarah yang cukup panjang. Alat musik rebab berasal dari timur tengah, masuknya alat musik ini seiring dangan  masuknya Islam di Asia Tenggara yang dibawa oleh masayarakat Arab dan India yang kemudian membaur dengan budaya lokal, seperti budaya Siam dan Melayu.

 

Di Indonesia, alat musik rebab ini bukan merupakan hal yang baru. Jauh sebelum masuknya rebab di Indonesia, masyarakat Sunda telah menggunakan alat musik Tarawangsa, yakni alat musik gesek yang memiliki dua dawai yang terbuat dari kawat baja atau besi. Jadi, keberadan Tarawangsa jauh lebih tua dari pada alat musik rebab. Sementara itu, masyarakat melayu menggunakan rebab sebagai alat musik untuk maratok (meratap), yaitu untuk mengiring apabila sanak saudara menangisi anggota keluarga yang meninggal.

 

Seiring dengan waktu  rabab berkembang menjadi kesenian tradisional yang digunakan untuk melantunkan cerita-certita rakyat. Ditengah arus moderenisasi ini, rebab kurang mendapatkan tempat dalam masyarakat. Kesenian tradisional ini digeser oleh berbagai macam  budaya dari luar, seperti halnya budaya barat.

 

Maka tak mengherankan bila bapak dari tiga orang anak yang memiliki kompetensi dalam memainkan rebab, berupaya untuk bertahan di tengah arus moderenisasi. Keluarga ini bergeriliya untuk memainkan dan mempromosikan musiknya dari satu pasar ke pasar yang lain. Tiga orang anak kecil itupun mengikuti jejak langkah ayah mereka untuk memainkan musik tradisional di pinggiran jalan. Dengan kondisi seperti itu, anak yang semestinya bersekolah itu harus merelakan waktunya habis di jalanan.

 

Memprihatinkan memang, ketika dalam waktu bersamaan kami menyaksikan kombinasi antara kebudayaan tradisional yang terpinggirkan dan tercabutnya hak seorang anak untuk menikmati pendidikan dasar. (02.02_16.10.10trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s