Gak Penting Yaa

Masih Berani Merokok???

Bulan November memberikan kesan tersendiri dalam hidup saya. Tiga tahun silam, tepat pada 11 November 2007 saya mengambil sebuah keputusan yang sangat berat. Keputusan itu ialah memulai untuk berhenti dari ketergantungan merokok. Tanggal itu menjadi momen yang tapat bagi saya untuk mengawali hidup tanpa rokok.

 

Sebelumnya, saya sudah berkomitmen untuk berhenti merokok yakni dengan dilandasi dengan ilmu. Yang menjadi persoalan kemudian adalah ilmu apakah yang bisa membuat seseorang untuk berhenti merokok. Mungkin tidak ada ilmu khusus yang membahas tentang ini.

 

Pada suatu ketika terbesit dalam pikiran saya untuk mencari segala hal yang berkaitan dengan rokok dan berhenti merokok. Pikiran yang sangat bodoh saat itu ialah mencari siapa yang pertama kali menciptakan rokok dan mengetahui siapa yang pertama kali menghisap rokok. Tentunya mendapatkan ilmu yang demikian merupakan pekerjaan yang sia-sia, itu sama halnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami.

 

Saya berkeyakinan menemukan ilmu tersebut. Berbekal keyakinan akhirnya saya memperoleh ilmu bagaimana supaya terlepas dari ketergantungan nikotin. Ilmu yang saya peroleh itu terpahat dari sebuah buku yang berjudul Hipnoterapi: Quit Smoking! dari Romy Rafael, seorang hpynoterapy terkenal di indonesia.

 

Dalam buku tersebut saya tidak menemukan siapa pertama kali yang menghisap rokok, dan siapa pertama kali yang menciptakan rokok. Malahan yang saya temukan dalam buku itu hanya sebuah Compact Disc (CD) yang memandu pembaca untuk masuk ke alam bawah sadar. Dalam alam bawah sadar itulah pembaca diajak untuk melepas kecanduan merokok.

 

Bukunya belum sempat saya baca, tapi CD nya malah hilang. Parahnya lagi, file CD yang saya copy di komputer juga lenyap entah kemana.

 

Buku itu tidak terlalu tebal, mungkin karena tipis itu hasrat untuk membacanya sampai tamat seakan tak pernah terealisasi. Apalagi CD yang menunjang isi dari buku tersebut sudah raib. Namun, sedikit demi sedikit akhirnya buku mungil itu selesai juga dibaca. Tapi untuk mempraktekanya rasanya semakin mustahil dengan hilangnya CD yang akan membawa ke alam bawah sadar.

 

Setelah merenungkan untaian kata-kata yang tersirat dalam buku itu, akhirnya pikiran sadar saya berupaya untuk mensiasati agar bisa mempraktekan apa yang telah ditulis dalam buku tersebut. Beberapa kali saya mencoba, tapi selalu gagal untuk memulai berhenti merokok. Setelah mencoba lagi saya akhirnya menemukan kuncinya, sehingga saya pun menuangkannya kedalam sebuah artikel yang berjudul “Mudahnya Berhenti Merokok”.

 

Kiat-kiat dalam artikel yang terinspirasi dari buku mungil itu yang mengeluarkan saya dari jebakan nikotin. Tanpa perlu masuk ke alam bawah sadar dangan bantuan CD dari Romy Rafael, saya tetap bisa menghentikan kecanduan rokok. Hal ini kian mempertegas bahwa untuk berhenti merokok itu bisa dilakukan dengan mudah dan murah.

 

Kini, 11 November 2010, sudah masuk tahun ketiga saya terbebas dari rokok. Dalam masa tiga tahun itu saya mengalami banyak hal dan banyak cobaan yang berat.  Tahun pertama adalah tahun yang terberat dari pada dua tahun sesudahnya.

 

Menurut penelitian, di tahun pertama,  terdapat  90%  kemungkinan untuk terjebak kembali pada kenikmatan yang sangat adiktif  tersebut.  Sementara di tahun-tahun berikutnya kemungkinan itu semakin berkurang.

 

Oleh karena itu, yang terpenting dari berhenti merokok itu adalah melatih pikiran untuk menjauh dari keinginan merokok. Nikotin yang masuk kedalam aliran darah dapat merangsang otak sehingga menimbulkan sensasi positif  terhadap rokok, yang pada akhirnya mengarah pada kecanduan. Sensasi positif  ini meski diubah menjadi sensasi negatif, sehingga pikiran akan terbebas dari keinginan merokok.

 

Ada lagi riset yang menjelaskan bahwa seorang perokok memiliki 70% resiko lebih tinggi terjadi diabetes di tahun ketiga setelah berhenti dibandingkan dengan seorang yang tidak merokok. Tentunya kesahihan penelitian ini perlu diuji kembali. Sayangnya ditahun ketiga ini saya belum mengecek gula darah saya, apakah ada indikasi terkena diabetes atau tidak.

 

Sebagai tambahan, dalam riset itu dijelaskan bahwa kemungkinan diabetes itu akan terjadi apabila terjadi peningkatan berat badan semenjak berhenti merokok. Hal ini yang menjadi angin segara bagi saya, karena semenjak tiga tahun yang lalu tak ada peningkatan yang berarti yang berkaitan dengan berat badan. Sehingga seorang teman bertanya kepada saya, “Udah tiga tahun berhenti merokok kok berat badanya gak naik-naik??”. Dengan enteng saya menjawab, “Kemaren saya timbang badan, hasilnya naik 1 Kg kok. Setelah itu saya langsung buang air besar (boker), eh habis boker ditimbang lagi malah turun 1 kg lagi .. hehehehe

 

Semua penelitian itu mengingatkan kepada kita untuk tidak merokok. Beruntunglah bagi orang yang tidak pernah menghisap rokok, dan jangan pernah untuk mencoba untuk merokok karena akan berakibat fatal. Sementara seorang yang sudah terlanjur kecanduan merokok, saatnya untuk mengakhiri penderitaan dengan cara mulai berhenti secepat mungkin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s