Penting Gak Yaa

Manifestasi Syukur Dalam Keluarga

Ketika persalinan, seorang Ibu bertaruh nyawa dan menahan rasa sakit yang sangat berat saat melahirkan. Sementara seorang bapak seakan tidak merasakan sakit atas kelahiran anaknya.. Dimanakah keadilan Tuhan??? Haruskah seorang perempuan menanggung beban semuanya?

Jawabanya, Tidak. Perempuan tidak akan dibebankan untuk menanggung semuanya. Karena, setelah anak lahir, beban itu beralih dari ibu kepada ayah. Jika tadinya seorang ibu menanggung beban dengan manahan rasa sakit, maka ayah dibebani agar bertanggung jawab dalam mendidik anak yang telah dilahirkan tersebut.

 

Peralihan itu dapat dianalogikan seperti pergantian waktu antara siang menuju malam dan malam menuju siang. Dalam Islam, pergantian waktu ini ditandai dengan kumandang azan sebagai pertanda masuknya waktu shalat, baik itu shalat subuh maupun shalat magrib. Hal ini selaras dengan ritual yang dilakukan oleh seorang ayah ketika menyambut kelahiran anaknya, yakni dengan mengumandakan azan dihadapan sang bayi.

 

Kumandang azan itu merupakan awal pembuktian bagi ayah untuk mendidik anaknya. Setalah hampir sembilan bulan bernaung dalam janin dengan penuh kegelapan, maka lantunan azan akan menjadi pertanda bagi anak untuk mulai memasuki alam yang penuh cahaya. Lalu sang anak bakal kembali melewati siklus waktu, yakni kembali menghadapi alam kegelapan. Oleh karena itu, seorang ayah harus menjadi lentera bagi anaknya agar tidak tersesat dalam kegelapan hidup.

 

Anak adalah anugerah dan amanah yang diberikan oleh Tuhan. Oleh karena itu, anugerah ini meski disyukuri oleh kedua orang tua. Bersyukur atas kehadiran anak bukan hanya sekedar mengucapkan Alhamdulillah. Untuk mensyukuri kahadiran seorang anak, orang tua harus mendidik anaknya dengan mengembangkan potensi-potensinya sehingga ia dapat mengenal Tuhan dan berguna bagi lingkungannya.

 

Bila dilihat dari dimensi politik, maka peran ayah sebagai nahkoda dalam keluarga akan sangat menentukan arah perlayaran bagi keluarganya. Kepemimpinan yang diemban oleh seorang ayah merupakan amanah dari Tuhan. Sejatinya, tanggung jawab seorang ayah begitu besar untuk membimbing keluarganya dalam perlayaran hidup.

 

Aristoteles pernah menegaskan bahwa ayah adalah struktur yang tertinggi dalam tatanan politik. Dalam kerajaan, ayah bagikan raja dan anak bagaikan warga negara. Dalam aristokrasi, suami bagian dari kelompok pengatur (pemerintahan) dan istri laksana kelompok yang diatur (rakyat).

 

Kelak, kepemimpinan itu akan diminta pertanggung  jawabannya. Seorang presiden akan memberikan pertanggung jawaban kepada parleman yang merupakan representasi dari suara rakyat. Seorang raja akan mempertanggung jawabkan kepemimpinannya dihadapan rakyatnya. Sehingga tak mengherankan bila seorang raja digulingkan oleh rakyatnya karena tidak mampu memimpin.

 

Sementara itu, seorang ayah akan diminta pertanggung jawabnya oleh tuhan yang telah mengkaruniai anak. Dengan pertanggung jawaban itu, tuhan mempertegas bahwa keadilan yang telah melekat pada diri-NYA begitu nyata. Tuhan tidak akan membebankan penderitaan di pundak perempuan semata.(02.20_18.10.10trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s