Penting Gak Yaa

Makna Pohon Sagu Bagi Orang Mentawai

Piaman laweh adalah slogan yang selalu saya dengar saat saya masih kecil. Dulu saya tidak tahu pasti seberapa luas wilayah pariaman. Kini saya baru sadar bahwa pariaman itu ternyata memang lebih luas dari pada bayangan saya.

 

Buktinya, Kepuluan Mentawai yang terletak di hamparan Samudra Hindia sana masih diklaim sebagai bagian dari Pariaman. Waluapun hanya secara administratif, tetap saja Mentawai dianggap sebagai wilayah Pariaman. Pada masa lampau, Padang yang sekarang menjadi ibu kota provinsi dari Sumatra Barat ikut diklaim sebagai wilayah Pariaman.

 

Tak heran saya jika seorang teman melemparkan joke yang menyatakan bahwa “Jika ingin melihat Pariaman dari Jakarta, maka berdiri saja di pelabuhan Tanjung Priuk. Maka anda akan melihat Pariaman dari sana.” Pernyataan tersebut menyiratkan bahwa Piaman Laweh itu sungguh luas, sehingga luas wilayahnya bisa dilihat dari Jakarta.

 

Ahh.. itu hanya guyonan belaka. Tapi tak bisa dipungkiri bahwa memang Mentawai dulunya pernah menjadi daerah “Jajahan Administratif” dari Pariaman. Situasi demikian tidak terlepas dari konstelasi politik yang terjadi saat itu yang dipegang oleh kekuatan Orde Baru yang memimpin dengan sikap otoriter. Kepemimpinan orde baru yang tersentralisasi di pulau Jawa berakibat pada tersendatnya pembangunan di daerah-daerah yang berada di luar pulau Jawa, salah satu daerah itu adalah Kepulauan Mentawai.

 

Jauh sebelum Pariaman “Menjajah”, Hindia Belanda sudah lebih dulu menduduki daerah ini. Orang Mentawai tadinya merupakan masyarakat yang hidup dipinggir sungai, karena agresi dari Belanda, khususnya kelompok misionaris, masyarakat asli Mentawai mulai terdesak hingga mereka bermukim ke daerah-daerah pesisir.

 

Kepulauan Mentawai yang menurut pandangan para ahli memiliki catatan sejarah gempa dan tsunami yang hebat dimasa lampau. Catatan itu tentunya dibarengi dengan pemahaman tradisional masyarakat Mentawai dalam menyikapi bencana.

 

Menurut sebuah sumber, orang Mentawai memiliki kearifan lokal dalam persoalan gempa. Tapi mereka tidak memiliki pengetahuan tradisional mengenai tsunami, karena pada dasarnya mereka bukan masyarakat pesisir melainkan masyarakat yang hidup di sekitar sungai. Hal ini berbeda dengan kearifan lokal dari masyarakat pesisir Pulau Simeulue, di Aceh. Secara turun temurun, orang Pulau Simeulue memiliki pengatahuan tradisional mengenai gempa dan tsunami.

 

Inilah yang tidak dipahami oleh salah satu elite politik yang melontarnya pernyataan untuk memindahkan orang Mentawai dari pesisir pantai. Mungkin dia tidak sadar bahwa keberadaan orang-orang pantai di Mentawai itu akibat dari keserakahan dari para penguasa. Dahulu mereka dipaksa untuk bermigrasi dari kawasan sungai menuju kawasan pantai. Sekarang, mereka malah diusir dari kawasan pantai, hanya karena ketidakmampuan negara melindungi mereka.

 

Tradisi-tradisi yang dijalankan orang Mentawai kian mempertegas bahwa nenek moyang mereka hidup dan berkembang biak di daerah daratan dan sungai. Tanaman sagu yang biasa tumbuh di sekitar sungai menjadi komoditi pokok orang Mentawai.

 

Disamping sebagai makanan pokok, sagu mempunyai makna simbolik bagi orang Mentawai. Makna ini kemudian dijewantahkan kedalam tradisi titi atau dikenal dengan tradisi melukis tubuh.

 

Pada umumnya motif dari titi Mentawai berkisar pada pohon sagu. Secara kosmologi, sagu dianggap sebagai pohon kehidupan bagi orang Mentawai. Konon, orang Mentawai meyakini bahwa seorang pria menjelmakan dirinya menjadi pohon sagu, pria ini yang kemudian melindungi orang Mentawai dari kekuatan dunia luar.

 

Jauh sebelum tsunami melanda, mentawai sudah terbiasa dengan bencana kebijakan dari pusat. Daerah kepulauan di pesisir barat Sumatra ini seakan tidak tersentuh oleh pembangunan. Penderitaan yang dialami masyarakat Mentawai lebih memprihatinkan dari pada bencana tsunami.

 

Negara tidak pernah menjelma menjadi pohon sagu yang menjadi pelindung bagi masyarakat Mentawai. Ketika bencana terjadi, negara seakan lepas tangan seperti yang tergambar dari tingkah laku para elitnya. (19.09_13.11.10trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s