Gak Penting Yaa

Jepang dan Pesantren

Tadi saya mampir di sebuah pondok pesantren salafiah di sebuah kampung. Awalnya, maksud hati hanya ingin berbelanja di warung yang terletak di sekitar kompleks pesantren. Belanjaan yang dibeli gak terlalu banyak, hanya satu bungkus wafer dan dua bungkus kwaci yang masing-masing seharga 500 rupiah.

Sewaktu berada di warung itu, tanpa sengaja saya melihat sebuah pamflet yang tertempel di dinding. Benda itu membuat saya menjadi penasaran, sehingga saya mendekati secarik kertas yang menempel di dinding pondok tersebut. Setiba disana saya membacanya dengan cermat.

 

Dari judulnya, pamflet itu merupakan peraturan yang ditempel pengurus pesantren. Sudah barang tentu peraturan itu ditujukan kepada siswa/santri dari pondok itu. Yang menarik perhatian saya disini bukan pamfletnya. Tapi aturan yang tertuang didalam pamflet itu.

 

Di dalama aturan itu terdapat delapan (8) poin peraturan yang mesti ditaat oleh santri. Diantara kedelapan peraturan itu, ada beberapa poin aturan yang membuat saya mengerinyitkan dahi. Setidaknya ada dua poin yang agak mengganjal di dalam benak saya.

 

Keganjilan itu terdapat dalam poin pertama (1) dan poin keenam (6). Dalam poin pertama tertulis: “santri dilarang bergaul terlalu dekat dengan orang kampung”. Sementara poin keenam berbunyi. “orang kampung dilarang menginap/mondok di Pesantren, kecuali mereka ikut pula mengaji”. Lalu, peraturan itu ditutup dengan kutipan filosofi, yakni “dima bumi dipijak disitu langik dijunjuang (dimana bumi di injak, disitu langit dijunjung)” dan satu filosofi lainya, tapi saya lupa isinya.

 

Setelah membaca peraturan itu, sayapun merasa heran. Aturan yang dibuat itu seakan menggambarkan bahwa pondok pesantren tersebut terkesan ekslusif, sehingga mereka menutup diri dari dunia luar. Sehelai kertas yang tertempel itu mempertegas bahwa mereka menolak pengaruh modrenisasi dan interaksi dengan dunia luar.

 

Secara praktis, saya tidak tahu persis apa yang terjadi disana. Benarkah mereka/santri itu menutup diri dari pengaruh luar. Namun, aturan yang tertuang dari pengurus pondok tadi menjadi jawabaannya. Ketika aturan itu hanya sekedar tertuang dalam kertas, tanpa ada implementasinya. Maka saya menduga bahwa para santri itu pada akhirnya akan terpengaruh juga dari dunia luar.

 

Apabila para santri sudah didoktrin dengan nilai ketertutupan terhadap dunia luar, maka saya khawatir mereka akan sulit menghargai nilai perbedaan yang tumbuh dalam masyarakat. Tentunya hal ini akan berdampak buruk dalam kehidupan sosial yang berujung dengan ketertinggalan. Lebih parah lagi akan berdampak pada sikap-sikap yang ekstrim dan radikal.

 

Terkait hal ini, saya teringat dengan politik isolasi (sakoku) yang diterapkan oleh Jepang pada awal abad ke-17. Kekuasaan yang melekat ditangan keluarga kekaisaran mulai tergerus oleh kekuatan para shogun (pemimpinan militer) yang dipimpin oleh Tokugawa Ieyasu.

 

Semenjak kepemimpinan shogun Tokugawa,  Jepang mengisolasi diri dari pengaruh dunia luar. Hampir dua abad Jepang bertahan dengan cara menutup diri dari dunia luar. Kebijakan tersebut membuat Jepang menjadi negara terbelakang dan tak diperhitungkan dalam percaturan dunia.

 

Pada akhirnya politik isolasi yang diterapkan Jepang ini berakhir juga. Masuknya pengaruh barat yang dibawa oleh perwira AL Amerika Serikat, Matthew Perry  pada tahun 1854 membuat shogun Tokugawa harus merelakan kekuasaannya. Jatuhnya kekuasaan keshogunan Tokugawa ke tangan kekaisaran menadai Restorasi Meiji.

 

Resotrasi Meiji ini merupakan pertanda terbukanya interaksi antara Jepang dengan dunia luar. Tiga puluh (30) tahun setelah restorasi meiji tersebut, Jepang berkembang menjadi negara industri yang maju. Interaksi Jepang dengan dunia luar berdampak terhadap kemajuan ilmu, teknologi dan pembangunan, sehingga Jepang tumbuh menjadi negara yang kuat.

 

Wilayah Jepang tidak terlalu luas, tapi mereka lahir menjadi negara maju dan kuat. Bahkan negara mungil ini sudah berani menjajah negara yang jauh lebih luas dari pada negaranya.

 

Ketertutupan yang dipertontonkan Jepang selama dua abad hanya menghasilkan keterbelakangan yang mengakibatan Jepang tertinggal dari negera lain. Ketika kran dibuka, Jepang lahir menjadi negara hebat. Hal ini tak terlepas dari kiat Jepang dalam belajar dari dunia luar. Bila Jepang bersikukuh dengan kebijakan isolasinya, maka kita tidak akan menemukan negara Jepang seperti yang sekarang ini.

 

Kisah diatas menjadi palajaran bagi kita bahwa tidak semuanya yang ada di dunia luar itu buruk. Setidaknya ada sesuatu yang bermanfaat dari dunia luar yang bisa kita ambil.

 

Bila pesantren yang menjadi pilar pendidikan Islam tersebut masih bersikukuh dengan ketertutupannya, maka ketertinggalan akan menjadi momok yang menakutkan. Perlu ditekankan bahwa tak semua yang ada di dunia luar itu haram. Ada hal-hal yang bermanfaat yang bisa dipetik untuk kemajuan pendidikan Islam itu sendiri. (2.06_13.11.10trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s