Gak Penting Yaa

Insiden Nyontek

Segala kebobrokan, kecurangan dan ketidakjujuran merajalela disegala lini kehidupan. Tidak hanya kehidupan bernegara saja yang menjadi sumbu kebobrokan. Kehidupan personal terkadang disusupi oleh berbagai ketikdajujuran dan kecurangan.

 

Saya sebagai seorang manusia mengakui bahwa dalam perjalanan hidup ini kadangkala diisi oleh hal-hal yang berbau kecurangan. Contoh sederahana terjadi ketika masa menempuh pendidikan di sekolah, dimana mencontek, bikin jimat dan bahkan mengintip buku disaat ujian menjadi rutinitas yang tak terhindarkan.

 

Ketidakjujuran yang distimulus oleh konsesus tak langsung dari lingkungan sekitar, membuat saya terjebak dalam kubang kegelapan. Ketika “proses” ditempatkan pada posisi yang lebih rendah dari pada “hasil”, maka kemungkinan untuk berbuat curang akan semakin lebar.

 

Prilaku demikian menjadi pelajaran bagi kita sebagai pribadi untuk belajar menghargai proses. Dengan demikian, penyimpangan dan kecurangan akan dapat dihindari. Seringkali saya berpikir, untuk apa kita berbohong dan kenapa kita harus bersikap jujur???

 

Tadi, insiden yang terjadi saat ujian CPNS Kementerian Agama (Kemenag) beberapa waktu yang lalu membuat saya tergelitik untuk mengangkat fenomena kebohongan dan kecurangan ini.

 

Dibangku kanan paling belakang duduk seorang perempuan yang mengenakan jilbab. Didepannya duduk seorang laki-laki dengan setelan kemeja lengan panjang dan celana bahan. Kedua orang ini tidak saling kenal.

 

Saat ujian berlangsung, perempuan tadi protes kepada pengawas ujian yang tidak bekerja dengan baik. Perempuan tadi meminta pengawas tidak duduk saja, ia berharap agar pengawas berpatroli memeriksa dan mengawasi peserta ujian. Permintaan tersebut dilatarbelakangi kecurigaan atas gerak gerik pria didepannya yang melihat contekan dari temannya.

 

Perempuan ini tentu resah dengan kecurangan yang dilakukan laki-laki yang duduk di depannya. Sementara, pengawas yang tidak bekerja maksimal membuat wanita itu berpikir bahwa terjadi pembiaran dan ketidakadilan dalam ruangan ujian tersebut. Yang menarik dari protes wanita tersebut ialah masih ada orang yang berani berbuat curang dalam mengikuti ujian sekelas Kementerian Agama.

 

Perempuan itu berujar dengan lantang “Ini ujian untuk masuk sebagai calon pegawai di Kementerian agama, kenapa anda masih berani mencontek. Ingat, ini institus agama. Kalau ujian di tempat lain (CPNS di Kementerian yang lain) gak pa-palah. Ingat ini agama”. Teriakan tersebut membuat ujian terhenti sejenak, dan pengawas pun kaget dengan protes tersebut. Setelah itu pengawas tidak mampu membuktikan kecurangan yang dilakukan pria yang dicurigai.

 

Raut muka perempuan yeng berani itu dihiasi dengan kekecewan. Ia menginginkan pria yang ketahuan didepan mata kepalanya berbuat curang itu dicatat namanya dan digugurkan dari seleksi penerimaan CPNS Kemenag ini. Namun, keinginan ini tak terwujud karena tidak ada alat bukit yang kuat.

 

Dalam hal ini saya mengapresiasi apa yang telah dilakukan perempuan pemberani tersebut. Namun, saya sedikit kecewa dengan sebagian pernyataanya yang diutarakannya. Khususnya pernyataan “Kalau ujian di tempat lain gak pa-palah”. Pernyataan ini seakan membenarkan berbuat curang dan tidak jujur dalam ujian selain dari ujian CPNS Kemenag.

 

Saya yakin ia belum sadar, atau mungkin belum mengetahui, bahwa sebelumnya institusi di  Agama ini banyak terjadi ketidakjujuran dan kecurangan. Di Kementerian agama ini pula terjadi berbagai penyimpangan dari segala level baik di pusat maupun di daerah. Bahkan ada pejabat Kementerian Agama yang terjerat dangan kasus korupsi.

 

Survai integritas sektor publik yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada tahun 2009 menempatkan institusi Kementerian Agama pada peringkat 8 (delapan) terendah dalam pelayanan publik. Data survei integritas sektor publik pada tahun 2010, posisi terendah kembali ditempati oleh Kementerian Agama, khususnya pelayanan administrasi pernikahan di kantor Kementerian Agama.

 

Untuk level daerah, saya mendengarkan langsung keluhan dari seorang guru senior yang mengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) di sebuah daerah. Atas dukungan teman-teman seprofesi, guru senior ini diusulkan oleh rekan-rekannya untuk menjadi kepala sekolah. Amanah ini menjadi pertimbangan oleh guru senior itu untuk mengemban kepemimpinan di sekolah tempatnya mengajar.

 

Akan tetapi, guru senior ini terkendala oleh “prosedur” yang berlaku di institusi yang menaungi MIN tempat dia mengajar. Institusi itu bernama Kanwil Kementerian Agama. Oknum pejabat di institusi agama itu meminta uang kepada guru senior itu supaya bisa diangkat menjadi kepala sekolah. Ironisnya guru senior itu tak mampu melawan tindakan koruptif tersebut, karena hal demikian sudah menjadi rahasia umum. Untuk menjadi kepala sekolah saja harus menyiapkan kantong tebal.

 

Proses terkadang tak seiring dengan hasil yang dicapai. Kejadian yang dialami guru senior itu memperjelas bahwa proses yang ia jalani selama mengajar tidak dibuahi dengan hasil yang maksimal. Ketika kinerja dipinggirkan, maka uang menjadi momok yang menakutkan.

 

Sementara, pria yang diduga mencontek tersebut mungkin lupa bahwa proses yang dilakukannya tidak selalu sesuai dengan hasil yang diinginkan. Kursi yang diperebutkan memang tak banyak. Jika karena mencotek itu dia lolos, bagaimana tanggung jawab dia kepada masyarakat. Bila dengan mencotek itu dia tidak lolos, bagaimana tanggung jawabnya kepada Tuhan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s