Gak Penting Yaa

Gempa, Antara Isu dan Ilmu

Belakangan ini muncul isu akan terjadi gempa besar pada tanggal 15 November 2010(hari ini). Isu tersebut membuat warga di pesisir pantai Sumatra, khususnya warga Pariaman menjadi resah. Keresahaan semakin lengkap ketika hadir kabar yang mengatakan bahwa anak-anak sekolah diliburkan dan kedai-kedai (toko) di pasar Pariaman tutup pada tanggal 15 tersebut.

 

Parahnya lagi, isu tersebut terkadang dikaitkan dengan hal-hal mistis. Misalnya, seorang nenek yang bisa menghilang dan meninggalkan pesan bahwa negeri ini akan dilanda bencana besar. Hebatnya berita tersebut dihubungkan pula dengan isu gempa pada tanggal 15 November 2010.

 

Isu gempa susulan yang besar juga beredar pasca terjadinya gempa hebat yang melanda Pariaman pada 30 September 2009 silam. Setelah diterjang gempa 7,9 SR, berkembang rumor bahwa akan terjadi gempa susulan yang lebih kuat dari pada sebelumnya. Nyatanya, isu tersebut diatas tidak terbukti kebenarannya. Saat itu memang sering terjadi gempa susulan, tapi gempa susulan habat tersebut ternyata hanya hisapan jempol belaka.

 

Ketika masyarakat sedang dalam tahap pemulihan, kembali lagi beredar kabar bahwa para ahli memprediksi bahwa disepanjang pesisir pantai Sumatra berpotensi terjadi gempa yang bisa mencapai 8.8 SR. Prediksi tersebut tentu berdasarkan penelitan yang mendalam dari data-data yang ada. Disini para ahli menekankan bahwa mereka tidak bisa mengetahui kapan terjadi gempa tersebut, tetapi mereka memperkirakan bahwa daerah ini masih berpotensi gempa.

 

Satu diantara ahli gempa tersebut adalah Dr. Danny Hilman Natawijaya. Ia menemukan teori bahwa ada hubungan antara pertumbuhan terumbu karang yang hidup di pantai-pantai barat Sumatera dengan siklus kegempaan. Bentuk-bentuk terumbu karang dan umurnya menjadi indikator adanya siklus gempa dan gelombang tsunami.

 

Temuan tersebut mendekati kenyataan ketika perkiraan itu benar terjadi di Kepulauan Mentawai beberapa waktu yang lalu. Gempa dan Tsunami yang meluluh lantakan Mentawai merupakan indikator bahwa siklus kegempaan dan gelombang tsunami dapat dibaca dari terumbu karang. Pastinya, di terumbu karang tersebut tidak tertulis tanggal, bulan dan tahun terjadinya gempa dan tsunami.

 

Secara religius, kejadian demikan sudah termaktub dalam al Quran melalui ayat pertama yang memerintahkan kita untuk membaca (iqra). Membaca tidak hanya menelaah dan memahami teks kitabiyah (teks tertulis) saja, tapi dapat pula memahami dan menelaah teks kawniyyah, yakni teks yang terhampar dalam alam semesta. Bukankah hal ini selaras dengan pepatah orang Minang bahwa alam takambang jadi guru.

 

Untuk itu, hendaknya kita menggunakan akal dan nalar sebaik-baiknya untuk memahami ayat-ayatNYA, baik itu yang tertulis maupun yang tidak tertulis seperti halnya dalam jagat semesta yang membentang ini. Dengan ilmu kita bisa memahami fenomena bencana yang terjadi disekitar kita. Dengan isu kita semakin terjebak dalam lubang kemusyrikan. Pilih ilmu atau isu??? (19.21_15.11.10trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s