Gak Penting Yaa

Awal Perjumpaan

Ibra, seorang anak yang lahir dari keluarga yang taat pada tradisi. Ibra adalah anak yang sangat cerdas dan ramah. Diusianya yang belia, Ibra mampu berpikir layaknya orang dewasa. Pemikiran Ibra jauh melampaui zamannya. Ia adalah anak yang pendiam dan suka menyendiri.

 

Aku mengenal Ibra semasa duduk dibangku sekolah dasar (SD) di Kantar. Sekolah kami terletak tak jauh dari pusat kota. Kantar adalah kota yang memiliki sumber daya alam yang melimpah. Menurut para peneliti, dibawah sekolah tempat kami mengenyam pendidikan terkandung berlian hitam yang tak akan habis digali dalam jangka ratusan ribu tahun.

 

Penguasa negeri Kantar belum mengeksplorasi berlian yang mengendap dibawah lantai sekolah kami. Pemerintahan Kantar tidak melirik berlian sebagai sumber daya yang dapat menyokong perekonomian. Karena minyak dan gas sebagai sumber pemasukan utama bagi pemerintahan sudah cukup untuk mensejahterakan rakyat Kantar.

 

Dengan kebijakan tersebut tentu kami merasa bahagia, karena sekolah tampat kami belajar tidak jadi digusur. Tapi kami selalu merasa waswas. Bila keserakahan hadir dalam benak penguasa Kantar, maka kami harus merelakaan sekolah kami. Untung saja, minyak dan gas yang melimpah di seluruh pelosok Kantar menjadi angin segar bagi kami untuk tetap bersekolah di tanah kelahiran.

 

Di Kantar hanya ada 2 (dua) sekolah dasar. Salah satu sekolah tersebut berada dekat dari tanah kelahiran kami, yakni di kampung Teraju. Sementara sekolah dasar satunya lagi terletak di kampung Jaraka yang berjarak 40 km dari Teraju. Jika sekolah kami dirobohkan, maka kami dipindahkan ke sekolah di kampung Teraju.

 

Kekhawatiran itu tampak nyata di mata buk Nuraini, kepala sekolah SD kampung Teraju. Sebelumnya seorang asisten pemerintahan kota Kantar sudah mewanti-wanti buk Nuraini untuk bersiap siaga jika pemerintah merubah kebijakan energi dengan seketika. Sinyalemen itu semakin memperkuat kecurigaan warga kampung Teraju yang mencium ada ketidakberesan dalam pemerintahan Kantar.

 

Semua guru yang mengajar di SD Kampung Teraju merasakan kegelisahan yang dirasakan buk Nuraini. Hebatnya, para pahlawan tanpa tanda jasa ini mampu menutupi kegalauan yang menimpa mereka. Saat mengajar mereka sama sekali tidak menunjukan mimik wajah yang tertimpa masalah. Mereka tetap menampilkan keceriaan saat mengajar kami.

 

Diantara semua murid di SD Kampung Teraju, hanya ibra yang mampu membaca bahasa tubuh para pengajar. Ibra tahu bahwa para guru menyimpan sebuah rahasia besar. Dibalik senyuman itu tersimpan kesediahan yang mendalam. Ibra sadar, sekolah yang dapat mengangkat harkat martabat kami akan digusur oleh pihak yang berwenang.

 

Ibra tak ingin menguak rahasia yang disembunyikan oleh pihak sekolah. Oleh karna itu, ia menyimpan segala pengetahuannya tentang kondisi SD Kampung Teraju dalam benaknya. Di taman belakang sekolah, Ibra dengan tenang duduk diatas kursi kayu meranti merah yang dibuat oleh John Shore.

 

Di taman itulah awal pertemuanku dengan Ibra. Tipikal Ibra sudah tampak dari semula aku bertemu dengannya. Ia tidak banyak bicara dan sangat ramah kepada siapapun, termasuk kepada orang yang baru kenal. Aku lebih banyak bertanya kepadanya. Berbagai pertanyaan yang ku lemparkan kepadanya dijawab secara filosofis dan diplomatis. Tutur katanya sistematis dan tersusun dengan rapi, sehingga perkataan yang terlontar dari mulutnya bersumber dari pengatahuan yang telah membeludak di dalam otaknya. (01.36_22.11.10trt)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s