Uang Minyak Untuk Pak Polisi

English: mobil polisi

English: mobil polisi (Photo credit: Wikipedia)

Jika ada yang berpikir tulisan ini mendiskreditkan polisi. Itu pikiran yang salah. Maksud dan tujuan tulisan kali ini bukan menyudutkan polisi yang kini tengah mengalami segudang persoalan hukum. Tulisan ini merupakan pertanyaan saya atas ketidaktahuan pada masalah hukum karena saya adalah orang awam yang tidak tau apa-apa.

Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Beberapa waktu lalu saya mendapat kemalangan yang tidak diharapkan. Perusahaan tempat saya bekerja dibobol maling. Pelakunya bukan orang luar, melainkan karyawan dari dalam. Entah ini disebut pencurian atau penggelapan, yang jelas karyawan tersebut telah melakukan tindakan pidana.

Bukti atas tindakan pelaku sudah gamblang. Ada dua alat bukti yang cukup kuat dan beberapa orang saksi. Karena kedok pelaku telah terbongkar, maka ia melarikan diri. Perusahaan rugi jutaan rupiah.

Kini pelaku tidak jelas rimbanya. Alamat pelaku yang ada di data perusahaan tidak membantu, sehingga susah untuk mendeteksi keberadaan pelaku. Entah kenapa perusahaan tidak melaporkan pelaku ke pihak kepolisan.

Terdengar kabar bahwa managemen enggan untuk melaporkan ke pihak kepolisian. Sebab biaya yang dikeluarkan untuk mencari pelaku kemungkinan lebih besar dibandingkan kerugian perusahaan.   Karena pakainya logika bisnis, maka pelaku masih bebas berkeliaran karena belum dilaporkan oleh perusahaan. Kalaupun pelaku tertangkap, belum tentu uang yang digelapkan bakal kembali. Malahan perusahaan harus mengeluarkan biaya lagi untuk berperkara di meja hukum.

Faktor inilah yang dimanfaatkan oleh oknum kepolisian. Bila melapor atas nama perusahaan tentu biaya operasionalnya diminta lebih banyak. Oknum tidak bakal mau bilang berapa biaya jalan untuk menangkap pelaku. Cukup bayar uang minyak (bensin) saja dan uang jajan di lapangan buat mengintai pelaku.

Teman saya sesama orang awam pernah bilang, polisi gak bakal jalan kalau gak dikasih uang. Sekedar lapor saja gak bayar, bila polisi bergerak menangkap pelaku baru bayar uang pelicin. Saya antara percaya atau tidak dengan ucapan teman ini, sebab proses hukum itu cukup panjang mulai di kepolisian yang berawal dari sidik lalu penyelidikan dan kemudian lanjut ke kejaksaan sebelum disidang di pengadilan. Dari semua itu yang paling penting adalah proses pembuktian. Disinilah dituntut kemahiran aparat polisi untuk membuktikan sesuai fakta atas tindakan pidana yang ditangani. Bukan mahir memeras uang rakyat.

Sebagai aparat hukum, polisi dibiayai oleh negara melalui pajak yang berasal dari uang rakyat. Ketika rakyat mengalami persoalan hukum, maka polisi berkewajiban melayani dan mengayomi. Entah kenapa, masih ada beberapa oknum yang mencari penghasilan dari musibah yang menimpa rakyat.

Ketakutan rakyat kecil berurusan dengan polisi masih terjadi di tengah masyarakat. Jangankan untuk jadi saksi, sebagai korban tindakan pidana saja masih ada masyarakat yang takut melaporkan ke polisi. Ketakutan seperti ini membuktikan bahwa polisi belum bisa memberikan rasa aman bagi rakyat kecil.

About these ads

25 thoughts on “Uang Minyak Untuk Pak Polisi

  1. Mas ajo sudah pindah kerja ya?

    Kalau pelakunya memang sudah diketahui orang dalam, menurutku tidak usah pakai polisi mas, dipanggil saja dan di ajak rundingan, barangkali memang dia mau damai. :)

    Sepertinya jika sudah melibatkan polisi memang seperti itu mas, membayar dengan jumlah tertentu itu sudah menjadi sebuat prosedur. Tak tau itu prosedur baik atau buruk. Tak tau juga uang tersebut masuk kas negara atau tidak. :)

    • Belum mbak Idah, masalahnya pelaku sudah kabur/buron sehingga tidak bisa diajak berunding lagi.. karena itu, pengenya sih lapor polisi, tapi kendalanya biaya yang “prosedural” gitu

  2. Hmmm perihal kayak gini udah jadi rahasia umum mas di masyarakat kita, ntar barang yang hilang nggak seberapa, uang minyaknya malah berapa-berapa… Miris memang :(

    Kadang iri kalo lihat di film2 luar negeri, polisinya memang sebagai pelayan masyarakat :(
    *itu juga nggak tau deh beneran gitu apa nggak, kan film….

  3. yah begitulah fakta yang ada, kejadian yang sama pernah dialami oleh teman saya dan yang ada juga keengganan untuk melapor dengan dalih apa yang hilang tidak sebanding dengan apa yang nanti akan dikeluarkan kalau melapor.

  4. kalau begitu polisi belum bisa melayani dan mengayomi rakyat sebagaimana amanat yg di tugaskan ya gan ? lebih ke malayani dan mengayomi yang siap memberikan uang..

  5. masuk gratis keluar bayar…sy jg pernah dulu kena tilang,jd petugas lantas minta uang 25rb pd sy..sy g mau memberinya n sy minta tilang pengadilan..n di pengadilan sy kena biaya 15rb…
    pernah teman sy bercerita wkt dia nganterin keponakannya sekolah TK..jd dijalanan bnyk polisi,bertanyalah si keponakan td : ”muniang manga polisi bnyk bana?? lantas temanku td menjawab: ”polisi cangok uang”..jd sepanjang jalan si keponakan td bernyanyi nyanyi kecil sambil berkata:”polisi cangap(mklum anak TK) uang….polisi cangap uang….sampai2 teman sy itu malu krn si keponakan td bernyanyi jg didekat polisi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s