Empat Petak Ruko atau Empat Orang Cucu

Alkisah. Seorang Ibu begitu bahagia mendengar kabar bahwa putri semata wayangnya bekerja di bank terkemuka. Perawakan putri bernama Rita ini bagaikan bidadari satu-satunya penghuni desa. Rita bersahabat sejak kecil dengan Maya. Secara materi dan kecantikan, Rita lebih beruntung daripada Maya. Namun, Maya lebih dahulu menikah dibandingkan dengan Rita, Maya menikah saat masih duduk di bangku SMA. Suami Maya bekerja sebagai buruh tani dan sekali dalam seminggu menjadi tukang ojek di pasar tradisional.

Ketika Rita telah bekerja di bank, Maya sudah mempunyai empat anak. Walaupun cantik jelita, Rita sedikit susah bergaul dengan laki-laki. Sehingga rata-rata kawannya banyak dari kaum hawa saja. Beda dengan Maya yang mana orangnya luwes dalam bergaul dan mempunyai banyak teman.

Suatu ketika Maya menjodohkan temanya si Rita dengan si Rudi Anak juragan tempe tempat dia bekerja di kampung sebelah. Rudi tidak pula tamat sekolah menengah, tapi meraih sukses sebagai pedagang pakaian di perantauan. Segala jenis pakaian dalam, baik wanita maupun pria ada di tokonya. Bayangkan ruko milik Rudi ada empat petak.

Kalau jodoh emang gak kemana. Si Rita dan Rudi mulai pendekatan dan kemudian semakin intens berkomunikasi di dunia maya. Hanya satu hal yang menjadi penghalang hubungan mereka berdua, yakni pekerjaan. Rita sangat sayang melepas pekerjaanya sebagai bankir yang mana profesi ini merupakan profesi presitisius di kampung kami. Sementara anak juragan tempe juga enggan meninggalkan bisnisnya di perantauan.

Setelah menjalani perdebatan yang cukup panjang. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk tidak melepas masing-masing profesi mereka. Si anak juragan tempe mau mengalah dengan mempercayakan usahanya diperantauan kepada sepupunya dan mengepakan sayap bisnis di kampung calon istrinya yang pagawai bank tersebut. Setelah setahun menjalin kasih via jarak jauh, barulah mereka berdua mengenalkan kepada orang tua untuk membuktikan keseriusan mereka maju ke jenjang pernikahan.

Ibu Rita langsung maangguak (meangguk) ketika mengetahui calon mantu adalah pedagang sukses yang mempunyai banyak toko. Sementara si Madun sang juragan tempe tidak kuasa menolak keinginan anaknya untuk mempersunting bankir cantik dari kampung sebelah. Setelah perkenalan kedua keluarga besar berjalan mulus. Mereka sepakat untuk melangsungkan pernikahan dua hari setelah lebaran.

*****

Di pertengahan bulan Ramadhan, ibu Rita sibuk menyebar undangan ke tetangga dan sanak saudara. Orang yang tidak boleh lupa diundang oleh Ibu Rita adalah Ibunya Maya yang satu kelompok arisan. Saat itu, Ibu Rita bertemu dengan Ibu Maya di lapau sayua (warung sayur). Mereka berdua terlibat percakapan yang menarik.

Ibu Rita: Untuang ado amaknyo Maya disiko. (Untung ada Ibu Maya disini.) Ibu Maya: Ado kaba apo tu buk? (ada kabar apa itu buk?)

Ibu Rita: Iko buk a, anak ambo si Rita ka dipasuntiang dek urang. Jadi aleknyo duo hari setelah rayo. Jan lupo datang yo buk!! (begini buk, anak saya si Rita akan dipersunting sama orang. Jadi, resepsi pernikahanya dua hari setelah lebaran. Jangan lupa datang ya buk!!)

Ibu Maya: Urang mano calon minantu ibuk? Apo karajoe? (Orang mana calon menantu ibuk? apa kerjaanya?)

Ibu Rita: Inyo urang kampuang subalah, anak si Madun juragan tempe. Inyo manggaleh, rukonyo ampek petak. (Dia orang kampung sebelah, anak si Madun juragan tempe. Dia berdagang, rumah toko (ruko)nya saja empat petak)

Ibu Maya: Yo baruntuang ibuk ko yeah… ampek petak ruko minantu ibuk. Ambo baru cucu se nan ampek nyeh.. (Beruntung sekali ibuk ini ya… empat petak ruko menantu ibu. Saya cuma cucu saja yang empat)

Mendengar percakapan tersebut yang punya warung tidak tahan lagi menahan tawa sehingga menghentikan percakapan ibu Rita dengan ibu Maya saat itu juga. Ibu Rita langsung pula beranjak dari warung menuju rumah lain untuk menyebarkan 3.000 undangan yang dicetaknya, masing-masing satu undangan ditinggalkan untuk Ibu Maya dan pemilik warung sayur.

*****

Sementara itu di rumah, Rita dan bapaknya sibuk mengurus segala perlengkapan untuk baralek. Rita bersikukuh dengan bapaknya hanya gara-gara sewa pelaminan. Rita ingin sewa pelamianan yang mahal karena fasilitasnya lengkap. Sementara bapak Rita pengen yang biasa saja. Karena Rita ngotot, maka terpaksa bapaknya mengalah apalagi sebelumnya Ibu Rita rela menguras tabunga untuk pernikahan anak satu-satu itu.

Tadinya calon suami Rita ingin pulang kampung seminggu sebelum hari pernikahan mereka menggunakan pesawat terbang. Namun, sanak saudara anak juragan tempe ini menahan agar pulang kampung bareng saja dengan mereka menggunakan mobil pribadi. Calon pengantin pria ini awalnya bimbang pulang dengan pasawat atau dengan mobil. Tak lama berselang ia menurut dengan ajakan sanak saudaranya.

Seminggu sebelum hari pernikahan mereka sudah tiba di kampung halaman. Saat itu Rita tidak sabar lagi bertatap muka untuk pertama kali dengan calon suami. Begitu juga dengan anak juragan tempe tersebut. Meski baru pertama kali bertemu secara langsung, mereka berdua sudah tampak akrab dan saling mengenal. Begitulah hebat teknologi zaman sekarang yang bisa mempersatukan cinta dua insan manusia hanya lewat jalur virtual.

Hari yang ditunggu semakin dekat, tinggal satu hari lagi. Sayang sekali, untung tak dapat diraih dan malang tak dapat ditolak. Malam sebelum pernikahan mereka, Rudi mengalami kecelakaan hebat. Saksi mata melihat pengendara mobil tengah asyik menggunakan handphone sambil nyetir sehingga dipersimpangan jalan sopir langsung kaget ketika ada truk pasir datang tiba-tiba dari sisi sebelah kanan mobil yang dikendarai Rudi. Calon pengantin pria tersebut mengalami pendarahan hebat dan harus dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan menuju rumah sakit Rudi meregang nyawa diatas ambulans.

Sesampai di rumah sakit Rita langsung histeris melihat calon suaminya terbujur kaku di ruangan IGD. Ia sangat menyesal sekali malam itu. Bukanya menyesal telah menghabiskan uang untuk resepsi pernikahan mereka yang gagal tersebut. Tapi Rita menyesal sekali karena telah bbm-an dengan Rudi sesaat sebelum kecelakaan.

****

Dua puluh tahun kemudian, Rita menjalani hidup seorang diri tanpa menikah. Sudah banyak laki-lak yang melamar, bahkan tak bisa lagi dihitung. Semuanya ditolak mentah-mentah. Karir Rita sebagai bankir semakin menanjak. Sementara kisah asmara gadis ini jalan ditempat. @garammanis

About these ads

8 thoughts on “Empat Petak Ruko atau Empat Orang Cucu

  1. ohh..kok ceritanya berakhir tragis ya ..Awalnya saya pikir ini sebuah kisah komedi yang berakhir lucu..
    Sedih sekali membacanya..dan juga jadi semakin diingatkan agar hati-hati menggunakan alat komunikasi saat berkendara..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s