Menilai Quraish Shihab

Sebetulnya saya tidak mau melanjutkan tulisan ini. Tapi saya tak sanggup lagi membendung arus liar yang ramai di social media beberapa waktu lalu, yakni terkait dengan isu ulama tafsir terkemuka dari Indonesia yang difitnah sesat oleh sekelompok orang.

Salah satu dampak dari isu tersebut secara langsung pada saya adalah terputusnya tali silahturahmi dengan seorang teman. Dia dulu yang memutuskan tali persaudaraan sejak saya meluruskan pendapatnya tentang Quraish Shihab, setelah itu sepertinya ia mendelete contact (delcon) BBM saya.

Selain itu ada satu lagi teman sekolah saya dulu yang begitu gencarnya memposting link dan artikel yang tidak bertanggung jawab di fecebook terkait isu ini. Tentu link yang dia sebarkan itu mendapat tanggapan beragam. Namun, ketika ada yang menanggapi dan meluruskan pendapat yang menganggap Quraish Shihab syiah dan sesat. Si teman ini malah nyuruh orang berbeda dengan pendapatnya untuk mengunfriend facebooknya.
Gila khan! Gara-gara isu ini kita dipecah belah. Persaudaran yang terjalin jadi putus. Maukah kita di adu domba dengan cara seperti ini?

Telisik dari informasi yang berkembang, ternyata yang membuat isu Quraish Shihab syiah dan sesat ini berangkat dari kicauan salah seorang politikus dari partai tertentu di twitter. Bisa jadi ia tidak menyadari apa yang ditulisnya di twiter itu berdampak tidak baik, salah satunya dampak dari apa yang saya alami saat ini dimana tali silahturahmi orang jadi terputus.

Dalam kicauan itu ia menyerang Quraish Shihab dengan kata sesat karena si politikus ini menganggap Quraish Shihab menyebut bahwa Nabi Muhammad SAW tidak dijamin masuk surga dalam dakwah Quraish Shihab di salah satu televisi. Padahal anggapan dia itu sangatlah prematur dan hanya mengutip dan memahami sebagian konteks dari dakwah Quraish Shihab.

Quraish Shihab sendiri sudah mengklarifikasi pernyataan tersebut. Namun, masih banyak saja orang yang memfitnahnya dengan sesat dan syiah. Para pemfitnah pun tidak dapat membuktikan tuduhan mereka. Yang membuat saya takjub dari klarifikasi itu adalah kata penutupnya yang berbunyi “Silakan menyimak ulang penjelasan saya di episode tersebut. Mudah-mudahan yang menyebarkan hanya karena tidak mengerti dan bukan bermaksud memfitnah,” Ia masih sempat mendoakan orang-orang yang menuduhnya dengan kejam.

Saya menilai isu ini merupakan dampak dari Pilpres. Meskipun banyak yang bilang tidak berkaitan sama sekali. Faktanya politikus yang menyerang Quraish Shihab adalah pengikut dari kubu yang bertolak belakang dengan pilihan politik Quraish Shihab. 

Sejujurnya saya kagum dengan ulama tafsir ini. Ada beberapa buku dari Quraish Shihab yang saya koleksi di rumah. Cara penyampaian dakwahnya menentramkan hati, kata yang diucapkanya mampu memotivasi diri untuk lebih baik dalam menjalankan perintah Allah. Ketika membaca bukunya, saya tidak menemukan tuduhan yang dialamatkan padanya terkait soal jilbab, syiah dan bahkan soal isu yang merebak belakangan ini.

Namun saya cukup terkejut kita Quraish Shihab menyampaikan aspirasi politiknya pada Pilpres yang lalu dimana ia secara tidak langsung “mendukung” salah satu capres. Sebetulnya itu adalah hak politiknya selaku pribadi yang berkewarganegaran Indonesia. Itu adalah pilihan pribadinya. Jika dicermati ia mendoakan kedua capres kok dan mendoakan Indonesia mendapatkan pemimpin yang terbaik.

Waktu itu sesungguhnya saya berharap Quraish Shihab tidak ikut dalam hiruk pikuk politik pada Pilpres. Setidaknya beliau tidak mengeluarkan statemen politik yang bisa ditangkap sebagai dukungan kepada salah satu calon. Saya pikir waktu itu beliau bersikap netral, tapi pilihan politik yang terdapat dalam diri beliau telah mengemuka di publik. Sehingga beliau menjadi korban politik dari efek Pilpres di negeri ini.

Jangan pernah lelah untuk berdakwah ya pak Quraish Shihab.

Pintu WC di Mesjid

image

Pintu Ditutup

Satu hal yang jarang kita perhatikan dari mesjid adalah bagian Toilet atau tempat berwuduk. Tempat ini adalah tempat yang paling penting sebelum kita masuk mesjid karena disinilah tempat kita menyucikan tubuh. Namun, masih banyak masyarakat atau pengurus mesjid yang mengenyampingkan tempat ini. Sehingga tak sedikit tempat wuduk yang kotor dan toilet yang terkunci. Untung saja bukan pintu mesjid yang dikunci.

“Foto ini diikutsertakan dalam Lomba Foto Blog The Ordinary Trainer”

image

Prespektif Lain Dari Tanggung Jawab

Sepertinya, selama ini saya cukup keliru memahami makna dari tanggung jawab. Saya berpikir seseorang bisa menjadi tanggung jawab diri kita. Mungkin narablog sekalian dapat membantu saya untuk memahaminya.

Cerita berawal dari tadi siang ketika pergi ke sebuah toko buku. Saya lupa judul bukunya. Disitu saya tertarik pada pembahasan tentang tanggung jawab. Dimana penulis mengatakan bahwa “kita bertanggung jawab pada diri sendiri, bukan pada orang lain”. Kalaupun ada seseorang yang merasa orang lain merupakan tanggung jawabnya, itu berarti ia telah merampas sebagian dari diri orang itu.

Contohnya tanggung jawab orang tua kepada anak. Banyak diantara kita sepakat dengan pernyataan itu. Namun, tidak selamanya tanggung jawab itu melekat pada orang tua. Tanggung jawab orang tua hanya sampai pada masa anak itu mandiri, dimana mandiri itu adalah sang anak sudah tiba masa ia bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Islam menyebut dengan istilah balig.

Analoginya seperti bapak yang mengajarkan anaknya berjalan. Jika tak mau anak tersebut terjatuh, maka si bapak harus memegang tangannya sampai ia bisa berjalan sendiri. Seandainya si bapak memegang terus tangan si anak hingga anak itu dewasa, maka sang anak tak akan pernah pandai berjalan.

Itu berarti si bapak telah marampas hak sebagian dari diri anaknya, sehingga sang anak tidak bisa bertanggung jawab pada dirinya sendiri. Si anak tak bisa berjalan, tidak bisa mandiri dan terus bergantung pada kedua orang tua mereka.

Hal ini senada dengan pesan dalam Al Quran yang menyatakan bahwa “seseorang yang berdosa tidak dapat memikul dosa orang lain.” (QS 17 : 17) Masing-masing kita bertanggung jawab pada diri kita sendiri.

Sekecil apapun perbuatan yang dilakukan di dunia ini, kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Bahkan niat yang terbetik dalam hati sekalipun akan mendapatkan ganjaran di akhirat. Tuhan telah menugaskan dua malaikat untuk mencatat semuanya, dimana catatan itu akan dibuka dan dipertanggung jawabkan.

Oleh sebab itu, jikalau boleh menyimpulkan maka saya menilai bahwa surga bukanlah tempat menyenangkan dan neraka bukanlah tempat penyiksaan. Kedua tempat itu adalah tempat pertanggung jawaban atas setiap amal perbuatan dari setiap makhluk Nya.

Hal ini selaras dengan surat ar Rahman dimana surga merupakan nikmat Allah dan neraka pun juga nikmat Allah yang berulang kali tertulis disana.

Bukankah menanam pohon apel akan berbuah apel juga. Pohon apel tidak pernah menghasilkan buah jeruk. Sesorang akan mempertanggung jawabkan apa yang telah diperbuat semasa hidup.

Kita bertanggung jawab pada diri sendiri, orang lain bertanggung jawab pada diri mereka sendiri.

Peraturan Tuhan

Sebelum terlupakan, alangkah baiknya saya meringkas lagi tausyiah ramadhan yang tadi disampaikan oleh Dr. Mawardi Saleh. Pesan yang disampaikan sungguh jadi penyejuk kalbu ini.

Jika seandainya kita diberikan pena dan kertas, lalu menuliskan nikmat Allah. Maka apa urutan yang pertama yang akan kita tulis. Apakah nikmat sehat? Nikmat hidup? Nikmat oksigen? Urutan pertama yang ditulis adalah nikmat iman, lalu nikmat islam.

Kalaupun isi tinta pena itu sebanyak air di samudera, maka tidaklah cukup untuk menuliskan nikmat Allah. Iman adalah fitrah yang telah diberikan kepada setiap hamba Nya. Untuk itu diwajibkan untuk orang-orang beriman mengerjakan aturan Nya. Aturan tersebut cuma dua yakni menjalankan perintah Nya dan menjauhi larangan Nya.

Perintah Nya itu tak lain adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri. Tak sedikit pun ada kepentingan Allah, kalaupun semua orang itu taat, maka tidak akan pernah mengurangi kekuasaan Allah. Sementara menjauhi larangan Nya tak lain adalah demi kepentingan manusia agar selalu tetap menjaga akal sehat mereka.

Contoh saja larangan minuman keras, Allah melarang karena minuman keras dapat membuat akal tidak sehat. Sedangkan mengerjakan perintah Nya tak lain bermanfaat bagi manusia sendiri, contoh seperti puasa yang dapat melatih diri berpikir positif.

Pilihan cuma dua, yakni mengikuti aturan Nya atau mengikuti bujuk rayu setan. Jika tidak mengikuti aturan Allah maka itu artinya mengikuti setan. Pilihan sederhana bukan?