Rasa Bersalah

Setidaknya saya masih bersyukur karena memiliki rasa bersalah telah menelantarkan blog ini dalam beberapa hari belakangan ini. Kesibukan selalu menjadi tumbal, tapi saya tidak mau menyalahkan keadaan karena kesalahan ada pada diri sendiri. Kesalahan itu adalah membiarkan waktu membunuh kesempatan saya untuk menulis.

Bulan kemaren saja cuma empat tulisan yang dipublish, nah bulan ini satu tulisan saja belum ada. Inilah tulisan pertama di bulan ini. Tulisan yang merefleksikan rasa bersalah dalam diri yang sudah amat jarang ngeblog. Bukan hanya menulis, intensitas blogwalking pun sudah turun ke titik nadir. Dalam hal ini yang jadi kambing hitam adalah koneksi.

Memang berasa sekali ketimpangan pembangunan antara daerah pelosok dengan daerah perkotaan. Ketika berada di daerah pelosok, susah kali dapat sinyal untuk internet. Namun, setiba di perkotaan sinyal langsung kencang. Jadi berinternet pun bisa lebih maksimal.

Perbedaan tersebut menjadi sebuah kenyataan yang dihadapi. Hanya butuh sikap bijak untuk menghadapi dua kenyataan yang berbeda itu. Menulis memang membutuhkan komitmen. Apapun keadaannya, menulis mesti menjadi tekad yang kuat. Tak ada akses internet, kertas pun bisa menjadi alat.

Jadi tak ada alasan. Inilah yang mesti saya tanamkan dalam pikiran. Tetap menulis dalam keadaan apapun. Bukankah lebih nikmat berbagi disaat sempit dari pada saat lapang. Seperti berlayar setelah badai akan memberikan kepuasan dari pada berlayar di laut yang tenang.

Salah Pilih Pemimpin

Tertangkapnya Anas Mamun, gubernur Riau terkait kasus korupsi di jakarta menjadi buah bibir di tengah masyarakat Riau. Hal itu saya alami secara langsung karena saat ini masih berdomisili di daerah selatpanjang yang masuk dalam provinsi Riau. Dimana-mana mereka bercerita berita anas tersebut.

Tentunya rakyat yang telah memilih Anas pada pemilihan gubernur beberapa waktu lalu akan merasa sangat kecewa. Kepercayaan mereka dikhianati. Tapi kita seharusnya tetap berpijak pada azas praduga tak bersalah. Kalaupun nanti terbukti bersalah, biarkan sosok yang populer di panggil atuk itu mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Entah kebetulan atau tidak, di hari yang sama orang-orang yang kecewa tersebut akan menghela nafas lega karena mereka tak lagi dihantui penyesalan lagi bila salah pilih, karena kedepan pemimpin daerah akan dipilih oleh DPRD, bukan mereka lagi yang langsung memilih. Peraturan ini telah disetujui di sidang DPR yang penuh dengan sandiwara.

Celakanya banyak yang tidak setuju jika pemimpin daerah dipilih oleh DPRD, sebab dikhawatirkan akan menumbuhkan bibit korupsi di legislatif lokal. Berlakunya peraturan tersebut bagaikan kembali pada memori masa orde baru, dimana sistem tersebut jadi ladang korupsi yang sungguh akut.

Tragisnya lagi, jika seandainya pemilihan kepala daerah tetap dipaksakan maka akan ada biaya politik yang amat besar dikeluarkan oleh calon, sehingga ketika mereka berkuasa yang terpikirkan hanya bagaimana mengeluarkan kembali biaya tersebut dengan menguras uang negara.

Buktinya pun selama ini pilkada langsung tidak menjamin korupsi menurun. Faktanya makin banyak kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi, nah kasus terakhirnya pas sekali dilakoni oleh atuk.

Jadi yang bagusnya apa donk? Dipilih langsung oleh rakyat atau dipilih oleh anggota DPRD? Bagaimana sih pendapat dari narablog?

Setengah Penuh atau Setengah Kosong

Aku tak pernah berpikir ternyata masalah dalam hidup ini hanyalah soal sudut pandang. Tidak penting apa, kapan dan dimana masalah itu terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana memandang permasalahan tersebut.

Ibaratnya seperti melihat gelas yang berisi air. Namun air dalam gelas tersebut hanya setengah. Nah, coba bayangkan ada sebuah gelas yang berisi setengah air itu dihadapan kita. Apakah kita melihat setengah kosong atau setengah penuh?

Analogi ini sebetulnya sudah lama aku dengar, yakni ketika masa kuliah dulu. Namun, baru sekarang nyadar ternyata melihat setengah penuh itu lebih luar biasa dari pada melihat setengah kosong.

Artinya, ketika persoalan dan permasalahan hidup datang menghampiri sangat diperlukan pemikiran positif, bahkan untuk mencapai solusinya sangat dibutuhkan sikap optimis. Hal ini menandakan bahwa kita telah melihat gelas itu dengan setengah penuh. 

Orang yang melihat gelas itu setengah kosong akan bersikap sebaliknya, yakni berpikiran negatif dan selalu pesimis dalam menghadapi segala persoalan yang menghadang.

Betapa pentingnya sudut pandang ini karena semua sikap dan tingkah laku yang kita lakukan berawal dari sana, yakni pikiran.

Allah pernah menegaskan dalam firman Nya bahwa Aku sesuai dengan prasangka hamba Ku. Hal ini membuktikan betapa pentingnya berpikir positif dan berprasangka baik. Apapun yang terjadi dan seberapa berat masalah yang dihadapi, akan selalu ada jalan keluar yang terbaik.

Jadi tinggal kita memilih apakah melihat gelas setengah penuh atau gelas setengah kosong.

Sepi Lagi

Jika boleh curhat, ada beberapa alasan yang membuat saya belakangan ini jarang ngeblog dan blogwalking. Sebetulnya bukan alasan sih, tapi semacam faktor gitu. Jadi mohon maaf kepada narablog yg belum sempat dibalas comment nya atau belum sempat berkunjung balik.

Mungkin yang jadi tumbal pertama itu adalah faktor sibuk. Ini nih alasan yang seringkali menggelontor, padahal gak sibuk-sibuk juga sih. Banyak waktu senggang yang dapat di manfaatkan buat nulis.

Faktor berikutnya adalah miskin inspirasi. Nah ini alasan yang gak tepat juga sih, karena sejak pindah ke daerah selatpanjang ini saya banyak kali menemukan ide. Sayang nya gak sempat ditulis, sehingga ide itu hilang ditelan waktu.

Kalo dua alasan diatas sebetulnya cuma alibi aja sih. Faktor yang sesungguhnya itu adalah faktor koneksi internet. Padahal saya masih beruntung lho, pindah ke kota yang masih bisa dapat akses internet. Jika tengok pulau yang berdekatan dengan kota ini, mungkin sinyal aja kagak ada.

Sayang saya tak bisa memanfaatkan kesempatan tersebut, karena berdalih jaringan internet di koneksi handphone saya lelet amat. Apalagi pas habis kuota internet, leletnya minta ampun. Rasanya mau dilempar aja hp ini ke laut selat malaka sana.

Selain faktor internet tesebut adalagi faktor lain, yakni aplikasi wordpress yang sering kali error. Jadi kagak bisa maksimal nengok postingan narablog sekalian karena kagak keluar di halaman feednya.

Dulu menyiasati hal ini sebelum menggunakan android adalah baca postingan narablog sekalian lewat email. Celakanya sekarang tiap buka aplikasi email untuk android, selalu minta login terus tiap sebentar, gak kayak dulu yang selalu running di handphone tanpa ribet buat login tiap sebentar.

Jadi, terpaksalah harus berpikir ekstra keras dan semangat menggebu buat nulis agar blog ini gak sepi postingan kayak kuburan..