Sepi Lagi

Jika boleh curhat, ada beberapa alasan yang membuat saya belakangan ini jarang ngeblog dan blogwalking. Sebetulnya bukan alasan sih, tapi semacam faktor gitu. Jadi mohon maaf kepada narablog yg belum sempat dibalas comment nya atau belum sempat berkunjung balik.

Mungkin yang jadi tumbal pertama itu adalah faktor sibuk. Ini nih alasan yang seringkali menggelontor, padahal gak sibuk-sibuk juga sih. Banyak waktu senggang yang dapat di manfaatkan buat nulis.

Faktor berikutnya adalah miskin inspirasi. Nah ini alasan yang gak tepat juga sih, karena sejak pindah ke daerah selatpanjang ini saya banyak kali menemukan ide. Sayang nya gak sempat ditulis, sehingga ide itu hilang ditelan waktu.

Kalo dua alasan diatas sebetulnya cuma alibi aja sih. Faktor yang sesungguhnya itu adalah faktor koneksi internet. Padahal saya masih beruntung lho, pindah ke kota yang masih bisa dapat akses internet. Jika tengok pulau yang berdekatan dengan kota ini, mungkin sinyal aja kagak ada.

Sayang saya tak bisa memanfaatkan kesempatan tersebut, karena berdalih jaringan internet di koneksi handphone saya lelet amat. Apalagi pas habis kuota internet, leletnya minta ampun. Rasanya mau dilempar aja hp ini ke laut selat malaka sana.

Selain faktor internet tesebut adalagi faktor lain, yakni aplikasi wordpress yang sering kali error. Jadi kagak bisa maksimal nengok postingan narablog sekalian karena kagak keluar di halaman feednya.

Dulu menyiasati hal ini sebelum menggunakan android adalah baca postingan narablog sekalian lewat email. Celakanya sekarang tiap buka aplikasi email untuk android, selalu minta login terus tiap sebentar, gak kayak dulu yang selalu running di handphone tanpa ribet buat login tiap sebentar.

Jadi, terpaksalah harus berpikir ekstra keras dan semangat menggebu buat nulis agar blog ini gak sepi postingan kayak kuburan..

Tengok Sejenak

Di luar sana, ada banyak orang yang memperjuangkan haknya. Di luar sana, ada begitu banyak orang yang bekerja keras menunaikan kewajibannya. Bahkan di luar sana banyak orang-orang melakukan perbuatan yang diluar pikiran kita.

Namun, kita hanya perlu menengok keluar sejenak. Melihat sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Memahami sesuatu yang melewati batas persepsi. Agar menyadari bahwa kita tidak sendiri.

Tidak butuh banyak waktu untuk melihat semua itu. Cuma sejenak, dengan sebuah renungan dimana Tuhan tidak akan pernah mengabaikan doa yang kita panjatkan. Kalaupun kita tidak mendapatkan sesuai keinginan, sudah barang tentu Tuhan akan memberikan sesuai kebutuhan.

Memang tak banyak yang tahu apa yang mereka butuhkan, sebab mereka terlalu banyak keinginan. Padahal kita hanya butuh keyakinan bahwa Tuhan adalah tempat terbaik untuk bersandar tentang berbagai hal.

Meracau

Kamu tak akan pernah tahu bagaimana hati bicara, jikalau kamu tak yakin bahwa Tuhan itu ada. Betapa banyak perasaan yang ditumpahkan di dunia ini. Satupun tak luput dari pendengaran Nya.

Tuhan mendengar apa yang terbetik dalam hati, tapi aku tak berani menyampaikan perasaanku. Biarlah aku dan Tuhan yang tahu, bahwa aku nyaris tak bisa lagi menahan semua ini. Mulutku membisu, jari-jari ku mulai kaku. Ingin ku lepaskan apa yang mengganjal di pikiran.

Aku bukanlah kategori orang yang pasrah. Aku sadar bola yang aku lempar ke dinding pasti akan memantul. Itulah analogi dari takdir dimana setiap bola yang kita lempar pasti akan memantul. Persoalannya adalah seberapa kuat kita melempar bola. Jika bola dilempar semakin kuat, maka pantualanya akan semakin jauh, itulah analogi dari nasib.

Jauh lebih penting lagi jika aku mengetahui apa tujuanku melempar bola. Sehingga aku tak lagi merasa seperti mayat hidup yang bergerak tak menentu.

Untuk itulah aku mesti belajar menyelaraskan hati dan pikiran. Agar aku bisa menemukan tujuan. Mau dibawa kemana arah kehidupan ini.

Ingin Kembali

Jika ada yang bertanya apa yang saya rindu saat ini. Maka jawabannya adalah saya rindu menulis. Memang tekad belum terlalu kuat, tapi suatu saat tekad untuk menulis itu akan terus menancap hingga kokoh. Keyakinan itu harus saya tanamkan pada diri.

Sampai saat ini saya tak pernah tahu apa tujuan menulis. Selalu ada alasan untuk menghindar, entah itu karena sibuk atau tak memiliki inspirasi. Sudahlah, alasan hanyalah sebuah dinamika untuk intropeksi diri.

Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang penulis ternama, ia berpesan jadikan menulis sebagai suatu kesenangan. Jangan pernah jadikan menulis hanya untuk menerbitkan buku. Kalaupun buku sudah terbit, kita tak akan pernah menemukan kebahagian. Begitupun dengan tujuan yang lain, ketika tujuan itu telah tercapai maka tidak tertutup kemungkinan kita puas dan berhenti menulis.

Apabila menulis dijadikan sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka kita tak akan pernah berhenti menulis. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah saya sudah senang dengan menulis?

Nah inilah pertanyaan yang membuat saya harus evaluasi diri. Mungkin saya merasa senang jika tulisan dikomentari para narablog. Atau saya merasa senang kita banyak tulisan yang telah di publish di blog ini. Bisa jadi selama ini saya hanya senang jika tulisan dapat pujian, tapi ketika dikritik saya kesal.

Karena itulah saya harus belajar bagaimana merasakan satu perasaan pada dua hal yang berbeda. Misalkan tetap merasa tenang disaat sulit dan lapang. Seperti halnya bersabar dikala tertimpa musibah dan tetap sabar kala diberi anugerah.

Jadi, apapun yang terjadi saya harus bertekad menjadikan menulis sebagai suatu hal yang menyenangkan. Sebab di dunia ini selalu ada dua sisi dalam setiap cerita.