Cerita Kita

Sudah seberapa jauhkah kita melangkah, mengelilingi bumi Allah nan luas ini. Meskipun diberikan usia ribuan tahun, mungkin tak akan cukup untuk menjamah satiap jengkal ciptaan Tuhan. Namun, sesungguhnya kita hanya butuh satu tempat untuk memahami semua itu, yaitu lubuk hati yang terdalam.

Ada yang mempunyai hobi mendaki gunung, ada yang suka jalan-jalan ke berbagai negara, ada yang hampir tiap bulan mendatangi kota-kota yang berbeda. Bahkan ditengah teknologi yang semakin canggih ini kita bisa duduk santai di kursi menyaksikan sekilas apa yang terjadi di belahan dunia lain.

Dari semua itu, apakah yang telah didapatkan. Semacam pengalaman hidup yang berbeda dengan orang lain jika diberi kesempatan berkeliling di muka bumi Allah ini. Atau bisa jadi kita hanya mendapatkan sekelumit berita yang terkadang sudah diolah media masa sesuai dengan kepentingan mereka. Sehingga kita cuma mendengarkan kisah yang sepotong. Sayang sekali tak sedikit yang berpikir berita yang mereka baca dan saksikan tersebut sebuah kebenaran mutlak.

Mari tengok sejanak apa yang tengah hangat di negeri ini. Mulai dari larangan membunyikan kaset mengaji di mesjid, diperbolehkan warung makan buka di bulan ramadhan, pembunuhan sadis seorang anak kecil tak berdosa hingga kasus korupsi yang menjerat mantan menteri negeri antah berantah ini. Dan banyak lagi berita lainnya yang membuat kita sadar bahwa inikah dunia fana yang sedang kita huni. Penuh dengan banyak persoalan yang tak pernah berhenti.

Semua itu merupakan cerita yang kita dengar. Kemudian hari akan selalu ada sekelumit persoalan lain yang akan terus kita saksikan. Bagaikan panggung sandiwara yang tak pernah kehabisan lakon. Memainkan peran sesuai dengan jalan takdir yang telah diskenariokan Tuhan.

Sungguh menarik jika melihat apa peran kita sesungguhnya dalam dunia ini, bangsa ini dan negeri ini. Sebab masing-masing kita mempunyai kisah tersendiri yang kelak akan jadi buah bibir untuk anak cucu. Meskipun tak ada yang tahu, walupun tidak diliput media, dan tak pernah diungkapkan. Tetap saja kita punya cerita hidup, yang bisa jadi hanya kita dan Tuhan yang tahu.

Sebuah Tulisan Yang Mempertemukan Kami

Banyak yang bertanya, kenapa kami bisa berjumpa setelah setelah 14 tahun tak ada kabar. Padahal empat belas tahun yang lalu kami kebetulan satu atap dalam menuntut ilmu di sebuah sekolah yang berdiri di bibir pantai pariaman. Kini kami dipersatukan kembali dalam satu ikatan suci, sebagai suami istri.

Jangankan mereka yang bertanya, kami sendiri kehabisan pikir untuk memahami kekuasaan Tuhan terkait dengan jalan jodoh tersebut. Allah telah menjanjikan setiap manusia akan dipertemukan dengan pasangannya dengan berbagai cara yang berbeda. Dalam hal ini kisah kami hanyalah salah satu dari sekian banyak cerita keajaiban jodoh tersebut.

Awalnya bermula dari reuni kecil di sebuah warung kopi di desa toboh palabah antara saya, fadli dan khairul. Karena sudah lama tak berjumpa, kami bercengkrama terkait hal-hal yang dialami selama perantauan. Saat reuni tersebut kita saling berbagi kontak bbm teman satu sekolah lainnya. Dari sanalah saya menemukan kontak bbm seorang perempuan yang kelak akan mengisi cerita hidup saya.

Waktu terus bergulir, sesekali kami berbalas pesan. Entah energi apa yang merasuki jiwa, tiba-tiba muncul getaran yang sangat sulit diungkapkan. Jadi saya menuliskan perasaan itu dalam bentuk tulisan dengan judul “Hari Intropeksi“. Pada prinsip tulisan tersebut merupakan refleksi dari peringatan hari ulang tahun saya.

Gayung bersambut, tanpa disadari keajaiban telah mengarahkan jarinya untuk membuka dan membaca tulisan tersebut. Lantas ia bertanya pada dirinya, apakah ini takdir Tuhan. Setelah membaca tulisan itu, ia pun bertanya dalam lubuk hati terdalam “apakah ini calon suamiku”.

Setelah itu kami semakin sering berkomunikasi, saling berbagi cerita dan membicarakan banyak hal. Salah satu hal yang paling penting adalah membicarakan kemungkinan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius, yaitu pernikahan. Tentu dengan cara tersendiri kami mengaktulisasikannya.

Komitmen berlanjut dengan saling berkenalan diantara kami dan keluarga. Saya berjumpa dengan keluarganya dan ia berjumpa dengan keluarga saya. Kemudian barulah perkenalan diantara dua keluarga. Dan berlanjut sampai ke persiapan menuju pernikahan.

Berangkat dari sebuah tulisan tersebut Tuhan mempertemukan dua umat manusia yang telah dijanjikanNYA. Masing-masing kami tak pernah menyadari kenapa saya bisa menulis tulisan tersebut dan kenapa ia tergerak untuk membacanya. Inikah rahasia Tuhan yang selama ini menjadi misteri jodoh kami. Percayalah Allah telah memiliki cerita tersendiri dalam mempertemukan jodoh kita. Namun kita tak bisa menyingkap tabir tersebut sebelum akad nikah terucap.

Hampir Batal Menikah

image
Buku Nikah

Suatu pagi yang cerah, tiba-tiba handphone berdering di dalam saku celana. Entah angin apa yang berhembus, si penelpon menyuruh saya pulang segera, katanya ada hal yang ingin dibicarakan. Padahal waktu itu saya sedang bertarung melawan waktu, satu hari tersisa sebelum akad nikah untuk menyebar undangan.

Tanpa ada rasa curiga, saya bergegas menuju rumah. Menanyakan dengan tenang apa yang terjadi. Dengan mengehela nafas panjang, kakak yang menelpon tadi bertanya kenapa uang pendaftaran nikah belum disetorkan ke bank. Padahal hari itu (kamis) kelender merah dan bank tutup, sementara besok pada hari jumat akan dilangsungkan akad nikah. Jika tidak disetorkan, maka penghulu tidak bisa menikahkan.

Kabar belum disetorkan uang pernikahan tersebut didapatkan oleh kakak langsung dari kepala kantor urusan Agama (KUA) pada malam sebelumnya. Sehingga pagi-pagi ditanyai dan berhasil membuat saya galau tingkat tinggi, sebab esok adalah hari akad nikah.

Seketika itu kami menguhubungi pihak keluarga pengantin perempuan, sebab proses pendaftaran terakhir dilakukan oleh pihak keluarga perempuan. Ternyata mereka lupa menyetorkan karena slip setoran bank tersebut terselip diantara dokumen pengurusan nikah.

Untung saja pada hari jumat itu kelender gak merah, jadi kami bisa setor di pagi harinya ke bank. Soalnya dari informasi yang berkembang, setoran sebesar Rp. 600.000 ke kas negara tersebut tidak bisa di transfer lewat ATM. Harus langsung lewat teler biar ada bukti transfer yang jadi pegangan bagi kantor KUA. Seandainya hari jumat tersebut bank tutup, tentu kami batal menikah, padahal undangan sudah tersebar.

Enam jam sebelum akad nikah kami pergi setor ke bank, setelah itu langsung menuju kantor KUA untuk melapor dan mendapatkan pengarahan dari petugas KUA. Dengan sangat menyesal mereka bilang kepada kami buku nikah tak bisa selesai hari itu juga.

Jadi dengan terpaksa kami tidak bisa berfoto sambil memegang buku nikah, sabagaimana pose yang banyak diabadikan oleh para pengantin setelah akad nikah. Tapi masih mending tak bisa berfoto tanpa megang buku nikah dari pada gagal menikah karena lupa bayar uang pendaftaran.

Titik Awal Seorang Suami

image

Sedikitpun tak pernah menyangka Mei merupakan bulan yang tak terlupakan dalam kehidupan saya di masa yang akan datang. Sama halnya seperti mengingat bulan Agustus pada masa lalu, dimana saya mulai terlahir di dunia ini. Di bulan Mei 2015, kami (saya dan istri) dipertemukan dalam janji suci, tepatnya di tanggal 15-5-15 pada hari Juma’t.

Dengan menjabat tangan seorang bapak, saya berjanji untuk melanjutkan tanggung jawab beliau selama ini atas seorang perempuan, yakni tanggung jawab sebagai suami. Perempuan yang kelak berproses bersama saya untuk menuju husnul khatimah. Janji tersebut merupakan titik awal saya sebagai seorang suami.

Pernikahan bagaikan perahu yang akan mengarungi samudera kehidupan. Tentunya terdapat banyak pulau yang akan kami lalui, banyak rintangan yang harus dilewati, ombak besar yang harus kami terobos. Semua itu hanya menuju satu tujuan, yaitu akhirat. Atas dasar itu kami sepakat melanjutkan kehidupan bersama.

Pada mulanya kami berencana melakukan syukuran secara sederhana. Namun, masing-masing keluarga besar berharap lebih dari apa yang direncanakan. Mereka ingin perhelatan layaknya seperti tradisi yang berlangsung di lingkungan masyarakat kami, baralek.

Keinginan tersebut tak dapat dibendung. Tentu dengan konsekuensi yang mana kami tak bisa membantu persiapan karena keluarga ingin baraleknya di kampung halaman, sementara kami sedang di perantauan. Sehingga sebagai mempelai kami hanya terima bersih, semuanya diurus oleh keluarga besar.

Alhamdulillah, akad dan baraleknya berjalan lancar. Mohon maaf, jika ada teman-teman tak terundang karena keterbatasan waktu dan tempat. Dibalik kelancaran tersebut terselip beberapa kisah yang Insya Allah akan saya tulis, salah satunya kisah hampir batal nikah.