Sabar dan Shalat

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolong, sesunguhanya itu berat kecuali bagi orang yang khusyuk, yaitu mereka yang yakin akan menemui Tuhannya dan mereka akan kembali kepada Nya.”

Surat Al Baqarah ayat 45-46 yang saya kutip diatas dapat menjadi bahan renungan dan pelajaran dalam hidup. Aktifitas yang dijalani dan masalah yang dihadapi adalah sebuah alat untuk untuk menguji keyakinan kita kepada Tuhan. Seberapa yakinkah kita pada kekuasaan Nya?

Jika kita yakin kepada Tuhan, kenapa kita merasa sedih pada ketetapanNya. Dikala rezeki yang kita dapatkan tidak mencukupi dan ketika jodoh yang kita nantikan tak kunjungan datang, maka hati merasa sedih, risau dan galau. Bukankah hal itu sudah diatur oleh Nya sedemikian rupa, tapi kenapa merasa khawatir. Itu artinya kita masih belum yakin pada Nya.

Adakah kita bertanya kenapa kata sabar diletakan lebih awal dari kata shalat dalam ayat tersebut?

Sabar adalah ibadah sosial dan shalat merupakan ibadah ritual. Manakah yang lebih berat diantara sabar dan shalat. Silahkan jawab sendiri, karena masing-masing kita mempunyai jawaban berbeda.

Bagi saya sabar lebih berat, karena ibadah ini dijalani kapanpun, dimanapun dan hampir tiap detik. Dalam bekerja sering kali kita dihadapi dengan tekanan, tuntutan dan beban yang seakan tidak sanggup kita emban. Tanpa kesabaran kita tak akan mampu melewati semua itu.

Konotasi sabar bukan hanya sekedar ditimpa musibah saja. Melainkan kesabaran juga dapat diwujudkan saat merasa senang dan berlimpah harta. Banyak orang yang gagal menghadapi ujian kesabaran saat kondisi ini. Contoh sederhana, bila kita telah dilimpahkan rezeki yang cukup, mungkin terasa berat mensedekahkan uang pecahan terbesar jika dalam saku hanya terdapat dua lembar uang, yakni pecahan 100 ribu dan 10 ribu. Uang pecahan berapa yang akan kita sedekahkan?

Sementara shalat adalah ibadah yang telah ditetapkan waktunya. Namun, jangan pernah berpikir bahwa melaksanakan shalat itu mudah, karana untuk mendapatkan kekhusyukan butuh keyakinan yang kuat bahwa saat shalat kita sedang berjumpa dengan Nya. Setelah shalat kita yakin akan kembali pada Nya, sehingga seharusnya kita melakukan apa yang diperintahkan Nya dan menjauhi apa yang dilarang Nya. Untuk melakukan semua itu butuh kesabaran. Tuhan menjanjikan keberuntungan bagi orang yang sabar.

Dua Puluh Empat Jam

Sebagai makhluk hidup yang berakal, kita percaya pada kematian. Namun, kita tak pernah tahu kapan kematian itu akan datang. Sayangnya banyak yang lengah bahkan lupa bahwa mati bisa saja terjadi secara tiba-tiba, tak mengenal usia.

Dalam kajian agama, hidup sesudah mati adalah sebuah keniscayaan. Hal ini dikenal dengan kehidupan sesudah mati. Bagi sebagian kepercayaan ada yang menganut konsep reinkarnasi, hidup kembali dalam tubuh yang berbeda.

Apapun agama yang kita anut, setiap manusia diberi waktu yang sama, yaitu dua puluh empat jam dalam satu hari. Terdapat dua siklus waktu yakni siang dan malam yang terus menerus bergulir hingga batas yang tidak pernah bisa kita ketahui kapan akan berakhir. Kita percaya akhir dari semua itu adalah kiamat.

Meskipun diberikan waktu yang sama, diantara kita tentu melakukan hal yang berbeda. Sehingga memperoleh hasil yang berbeda, nasib yang berbeda dan takdir yang berbeda. Akan tetapi terdapat sebuah sistem manajemen waktu yang sudah ditetapkan, yakni keseimbangan antara tujuan dunia dan tujuan akhirat.

Salah satu ketetapan yang tidak dapat dipungkiri adalah dunia ini adalah tempat menyemai bekal menuju kehidupan akhirat. Tanpa dunia, akhirat tidak akan tercipta.

Lantas yang menjadi pertanyaan adalah seberapa banyak waktu yang digunakan di dunia ini untuk kepentingan akhirat. Dalam dua puluh empat jam, berapa jam digunakan untuk tujuan akhirat? Sebuah pertanyaan yang pantas ditujukan bagi diri saya sendiri sebagai bahan intropeksi.

Es Kosong

Pada prinsipnya jika air dipanaskan maka takdirnya akan jadi uap, bila air didinginkan maka akan jadi es. Kalau sebuah benda jatuh ke air, maka benda itu akan basah. Begitulah takdir air, zat yang amat dibutuhkan oleh manusia.

Bicara air, maka tidak bisa dilepaskan dari bulan ramadhan. Biasanya orang yang puasa berbuka dengan air, entah itu air mineral maupun air dalam bentuk lain yang sudah diracik dalam berbagai bentuk makanan, misal kolak, cendol dan sebagainya.

Lebih segar lagi bila air yang kita minum dicampur dengan es supaya dingin. Nah, es ini beragam juga macamnya. Ada es kristal ada as batu dll. Biasanya yang sering terdengar itu adalah es batu. Kalau di kampung saya, es batu ini disebut juga dengan es kosong. Gak tau sih kenapa sampai dibilang es kosong. Mungkin es nya gak ada isi kali yak.

Satu hal yang selalu membuat saya khawatir beli es batu adalah sumber airnya. Apakah berasal dari air mentah atau air yang sudah masak. Kalau airnya dimasak, tentu rugi donk sebab harga batu es gak seberapa, tapi biaya untuk masaknya amat mahal. Jadi saya berasumsi air yang digunakan adalah air mentah.

Bila airnya sudah difilter sesuai dengan standart kesehatan seperti air galon, ya gak masalah sih. Tapi jika airnya langsung diambil dari air PAM atau air sumur, maka inilah yang membuat saya galau. Sembari menyimpan sebuah pertanyaan, sehat gak sih air mentah itu didinginkan menjadi batu es.

Waktu beli es batu, saya agak segan juga nanya ke pedagang sumber air yang digunakan. Takut menyinggung perasaan si penjual, apalagi beli es cuma satu biji.

Celakanya, sewaktu berbuka puasa tadi saya mengalami kecelakaan karena es batu ini. Pas mau pecahkan es tersebut menggunakan palu, yang terpukul bukan es nya tapi tangan saya pemirsa… aduhhhh sakitnya minta ampun. Meskipun gak mengalami cedera yang serius, tatap aja sakit. Mungkin lagi gak fokus karena seharian belum minum… hehehe..

Cerita Kita

Sudah seberapa jauhkah kita melangkah, mengelilingi bumi Allah nan luas ini. Meskipun diberikan usia ribuan tahun, mungkin tak akan cukup untuk menjamah satiap jengkal ciptaan Tuhan. Namun, sesungguhnya kita hanya butuh satu tempat untuk memahami semua itu, yaitu lubuk hati yang terdalam.

Ada yang mempunyai hobi mendaki gunung, ada yang suka jalan-jalan ke berbagai negara, ada yang hampir tiap bulan mendatangi kota-kota yang berbeda. Bahkan ditengah teknologi yang semakin canggih ini kita bisa duduk santai di kursi menyaksikan sekilas apa yang terjadi di belahan dunia lain.

Dari semua itu, apakah yang telah didapatkan. Semacam pengalaman hidup yang berbeda dengan orang lain jika diberi kesempatan berkeliling di muka bumi Allah ini. Atau bisa jadi kita hanya mendapatkan sekelumit berita yang terkadang sudah diolah media masa sesuai dengan kepentingan mereka. Sehingga kita cuma mendengarkan kisah yang sepotong. Sayang sekali tak sedikit yang berpikir berita yang mereka baca dan saksikan tersebut sebuah kebenaran mutlak.

Mari tengok sejanak apa yang tengah hangat di negeri ini. Mulai dari larangan membunyikan kaset mengaji di mesjid, diperbolehkan warung makan buka di bulan ramadhan, pembunuhan sadis seorang anak kecil tak berdosa hingga kasus korupsi yang menjerat mantan menteri negeri antah berantah ini. Dan banyak lagi berita lainnya yang membuat kita sadar bahwa inikah dunia fana yang sedang kita huni. Penuh dengan banyak persoalan yang tak pernah berhenti.

Semua itu merupakan cerita yang kita dengar. Kemudian hari akan selalu ada sekelumit persoalan lain yang akan terus kita saksikan. Bagaikan panggung sandiwara yang tak pernah kehabisan lakon. Memainkan peran sesuai dengan jalan takdir yang telah diskenariokan Tuhan.

Sungguh menarik jika melihat apa peran kita sesungguhnya dalam dunia ini, bangsa ini dan negeri ini. Sebab masing-masing kita mempunyai kisah tersendiri yang kelak akan jadi buah bibir untuk anak cucu. Meskipun tak ada yang tahu, walupun tidak diliput media, dan tak pernah diungkapkan. Tetap saja kita punya cerita hidup, yang bisa jadi hanya kita dan Tuhan yang tahu.