Salah Pilih Pemimpin

Tertangkapnya Anas Mamun, gubernur Riau terkait kasus korupsi di jakarta menjadi buah bibir di tengah masyarakat Riau. Hal itu saya alami secara langsung karena saat ini masih berdomisili di daerah selatpanjang yang masuk dalam provinsi Riau. Dimana-mana mereka bercerita berita anas tersebut.

Tentunya rakyat yang telah memilih Anas pada pemilihan gubernur beberapa waktu lalu akan merasa sangat kecewa. Kepercayaan mereka dikhianati. Tapi kita seharusnya tetap berpijak pada azas praduga tak bersalah. Kalaupun nanti terbukti bersalah, biarkan sosok yang populer di panggil atuk itu mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Entah kebetulan atau tidak, di hari yang sama orang-orang yang kecewa tersebut akan menghela nafas lega karena mereka tak lagi dihantui penyesalan lagi bila salah pilih, karena kedepan pemimpin daerah akan dipilih oleh DPRD, bukan mereka lagi yang langsung memilih. Peraturan ini telah disetujui di sidang DPR yang penuh dengan sandiwara.

Celakanya banyak yang tidak setuju jika pemimpin daerah dipilih oleh DPRD, sebab dikhawatirkan akan menumbuhkan bibit korupsi di legislatif lokal. Berlakunya peraturan tersebut bagaikan kembali pada memori masa orde baru, dimana sistem tersebut jadi ladang korupsi yang sungguh akut.

Tragisnya lagi, jika seandainya pemilihan kepala daerah tetap dipaksakan maka akan ada biaya politik yang amat besar dikeluarkan oleh calon, sehingga ketika mereka berkuasa yang terpikirkan hanya bagaimana mengeluarkan kembali biaya tersebut dengan menguras uang negara.

Buktinya pun selama ini pilkada langsung tidak menjamin korupsi menurun. Faktanya makin banyak kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi, nah kasus terakhirnya pas sekali dilakoni oleh atuk.

Jadi yang bagusnya apa donk? Dipilih langsung oleh rakyat atau dipilih oleh anggota DPRD? Bagaimana sih pendapat dari narablog?

Setengah Penuh atau Setengah Kosong

Aku tak pernah berpikir ternyata masalah dalam hidup ini hanyalah soal sudut pandang. Tidak penting apa, kapan dan dimana masalah itu terjadi. Yang terpenting adalah bagaimana memandang permasalahan tersebut.

Ibaratnya seperti melihat gelas yang berisi air. Namun air dalam gelas tersebut hanya setengah. Nah, coba bayangkan ada sebuah gelas yang berisi setengah air itu dihadapan kita. Apakah kita melihat setengah kosong atau setengah penuh?

Analogi ini sebetulnya sudah lama aku dengar, yakni ketika masa kuliah dulu. Namun, baru sekarang nyadar ternyata melihat setengah penuh itu lebih luar biasa dari pada melihat setengah kosong.

Artinya, ketika persoalan dan permasalahan hidup datang menghampiri sangat diperlukan pemikiran positif, bahkan untuk mencapai solusinya sangat dibutuhkan sikap optimis. Hal ini menandakan bahwa kita telah melihat gelas itu dengan setengah penuh. 

Orang yang melihat gelas itu setengah kosong akan bersikap sebaliknya, yakni berpikiran negatif dan selalu pesimis dalam menghadapi segala persoalan yang menghadang.

Betapa pentingnya sudut pandang ini karena semua sikap dan tingkah laku yang kita lakukan berawal dari sana, yakni pikiran.

Allah pernah menegaskan dalam firman Nya bahwa Aku sesuai dengan prasangka hamba Ku. Hal ini membuktikan betapa pentingnya berpikir positif dan berprasangka baik. Apapun yang terjadi dan seberapa berat masalah yang dihadapi, akan selalu ada jalan keluar yang terbaik.

Jadi tinggal kita memilih apakah melihat gelas setengah penuh atau gelas setengah kosong.

Sepi Lagi

Jika boleh curhat, ada beberapa alasan yang membuat saya belakangan ini jarang ngeblog dan blogwalking. Sebetulnya bukan alasan sih, tapi semacam faktor gitu. Jadi mohon maaf kepada narablog yg belum sempat dibalas comment nya atau belum sempat berkunjung balik.

Mungkin yang jadi tumbal pertama itu adalah faktor sibuk. Ini nih alasan yang seringkali menggelontor, padahal gak sibuk-sibuk juga sih. Banyak waktu senggang yang dapat di manfaatkan buat nulis.

Faktor berikutnya adalah miskin inspirasi. Nah ini alasan yang gak tepat juga sih, karena sejak pindah ke daerah selatpanjang ini saya banyak kali menemukan ide. Sayang nya gak sempat ditulis, sehingga ide itu hilang ditelan waktu.

Kalo dua alasan diatas sebetulnya cuma alibi aja sih. Faktor yang sesungguhnya itu adalah faktor koneksi internet. Padahal saya masih beruntung lho, pindah ke kota yang masih bisa dapat akses internet. Jika tengok pulau yang berdekatan dengan kota ini, mungkin sinyal aja kagak ada.

Sayang saya tak bisa memanfaatkan kesempatan tersebut, karena berdalih jaringan internet di koneksi handphone saya lelet amat. Apalagi pas habis kuota internet, leletnya minta ampun. Rasanya mau dilempar aja hp ini ke laut selat malaka sana.

Selain faktor internet tesebut adalagi faktor lain, yakni aplikasi wordpress yang sering kali error. Jadi kagak bisa maksimal nengok postingan narablog sekalian karena kagak keluar di halaman feednya.

Dulu menyiasati hal ini sebelum menggunakan android adalah baca postingan narablog sekalian lewat email. Celakanya sekarang tiap buka aplikasi email untuk android, selalu minta login terus tiap sebentar, gak kayak dulu yang selalu running di handphone tanpa ribet buat login tiap sebentar.

Jadi, terpaksalah harus berpikir ekstra keras dan semangat menggebu buat nulis agar blog ini gak sepi postingan kayak kuburan..

Tengok Sejenak

Di luar sana, ada banyak orang yang memperjuangkan haknya. Di luar sana, ada begitu banyak orang yang bekerja keras menunaikan kewajibannya. Bahkan di luar sana banyak orang-orang melakukan perbuatan yang diluar pikiran kita.

Namun, kita hanya perlu menengok keluar sejenak. Melihat sesuatu yang tak pernah terbayangkan. Memahami sesuatu yang melewati batas persepsi. Agar menyadari bahwa kita tidak sendiri.

Tidak butuh banyak waktu untuk melihat semua itu. Cuma sejenak, dengan sebuah renungan dimana Tuhan tidak akan pernah mengabaikan doa yang kita panjatkan. Kalaupun kita tidak mendapatkan sesuai keinginan, sudah barang tentu Tuhan akan memberikan sesuai kebutuhan.

Memang tak banyak yang tahu apa yang mereka butuhkan, sebab mereka terlalu banyak keinginan. Padahal kita hanya butuh keyakinan bahwa Tuhan adalah tempat terbaik untuk bersandar tentang berbagai hal.