Perayaan Imlek di Selatpanjang

image
Keliling Dengan Becak

Tinggal di negeri yang hampir sebagian besar berpenduduk tionghoa saat imlek itu cukup berkesan. Salah satunya adalah menyaksikan perayaan masyarakat tionghoa menyambut pergantian tahun imlek dengan konvoi keliling kota selatpanjang menaiki becak.

Konvoi nya bukan cuma sehari aja lho, tapi selama seminggu berturut-turut sejak hari pertama di tahun imlek. Tradisi ini sudah mereka lakukan bertahun-tahun yang lalu, tak terkecuali di tahun ini. Beruntung saya bisa menyaksikan gegap gempita masyarakat tionghoa di kota selatpanjang pada tahun ini.

Dalam satu becak biasanya diisi minimal dua orang dan maksimal bisa mencapai 6-8 orang. Bacak tersebut sebetulnya motor yg dimodifikasi untuk empat orang. Sebab, di hari biasa becak digunakan sebagai alat transportasi masyarakat. Disini tidak ada angkot ataupun taksi. Kalaupun ada yang bilang taksi, itulah becak motor yang disebut dengan taksi oleh sebagian masyarakat.

Ongkos berkeliling dengan becak saat perayaan ini sekitar 10 ribu per orang. Kalau yang naiknya ramai, ongkosnya bisa nego. Biasanya abang tukang becak mematok harga 50-60 ribu untuk satu kali keliling. Bisa ditawar menjadi 30 ribu untuk enam orang penumpang. Rute keliling nya tidak terlalu jauh, sehingga abang becaknya bisa 4 kali dalam waktu satu jam. Jadi abang becaknya bisa dapat 100 ribuan per hari.

Nah, saat berkeliling dengan becak ini warga tionghoa membawa persedian air. Ada yang airnya dibungkus dalam plastik, ada yang dimasukan ke ember, ada yang berupa air mineral gelas dan ada pula yang pakai pistol air. Saat berkeliling itulah mereka saling menyiram dengan air. Mereka saling lempar air, bahkan di jalanan warga tionghoa juga ikut menyiram orang-orang yang berkonvoi.

Meskipun mayoritas yang konvoi anak-anak dan remaja, namun banyak juga orang tua yang juga ikutan. Biasanya konvoi dimulai sekitar kurang dari jam lima sore dan berakhir sekitar jam setengah tujuh. Menariknya konvoi ini berlangsung tiap hari selama satu minggu ini. Inilah salah satu hiburan di sore hari saat imlek berlangsung di selatpanjang.

Semangattt

Jika ada yang bertanya tentang Ku, katakan Aku dekat (pada orang yang mengikuti perintah Ku). Jangan sedih, Aku akan memberikan pertolongan pada hamba Ku.

Entah kenapa belakangan ini saya merasa begitu jauh dengan Nya.  Apakah saya tidak bisa menghayati ibadah pada Nya. Apakah saya melakukan larangan Nya tanpa disadari.

Entahlah, saya berpikir harus melakukan yang terbaik di setiap aktifitas yang dijalani. Bagaimanapun, Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik untuk kita di hari ini. Sejak membuka mata saya selalu optimis bahwa hari ini Allah telah menyiapkan yang terbaik.

Satiap pagi saya bercermin dan bicara pada diri sendiri. Berpikir positif di pagi hari akan memancarkan energi positif juga dalam aktifitas pekerjaan. Seharusnya semangat seperti itu yang harus ditanamkan semenjak pagi.

Namun, semangat itu malah naik turun. Pas mau berangkat samangat kali, tapi ketika udah kerja semangat kembali sirna. Lalu bermacam-macam pikiran negatif bermunculan. Rasanya dihampir setiap kesempatan saya merasa diberikan dua pilihan, yakni berpikir positif atau berpikir negatif.

Jangan Salahkan Hujan

Dua tahun lalu saya berkunjung ke jakarta selama tiga minggu. Pada masa itu disambut dengan banjir. Ketika berangkat ke tempat beraktifitas di jakarta pusat, saya sedikit mengeluh dengan macet yang disebakan oleh banjir. Padahal tanpa banjir sekalipun, jakarta tetap saja macet. Saya tahu itu karena sebelumnya pernah menyicipi kemacetan selama enam tahun di jakarta.

Kini di kota yang berbeda, ingatan itu menguak kembali dalam pikiran. Kota Selatpanjang sama dengan kotanya lainnya yang pernah merasakan banjir. Namun, banjir disini sedikit berbeda, selain disebakan oleh hujan, banjir seringkali disebabkan oleh naiknya air laut. Orang disini menyebutnya dengan pasang. Tentu banjir pasang ini adalah banjir musiman yang terjadi setiap tahun.

Terkadang bila hujan turun seharian, ada beberapa jalan yang tergenang air. Air hujan bercampur dengan air pasang. Bahkan banyak pula halaman rumah warga yang terendam banjir, tapi tak sampai masuk rumah kerena banyak rumah panggung.

Meskipun hujan membanjiri kota, masyarakat tetap mengharapkan hujan turun. Sebab air hujan adalah sumber kehidupan mereka. Aktifitas seperti mandi, mencuci, memasak dan aktifitas lainnya menggunakan air hujan. Disini tidak ada air PDAM, sementara air sumur di hampir semua rumah warga berwarana merah dan kuning. Air merah biasanya di daerah yang bertanah gambut, sementara air kuning yang rasanya asin banyak dijumpai di daerah pesisir.

Untuk mengantisipasi supaya air hujan cukup untuk kebutuhan sehari-hari, maka setiap rumah memiliki tangki penyimpan air. Ada yang dibuat dengan bentuk semacam kolam di bawah rumah, mirip seperti septiktank tapi isinya air hujan lho, bukan ampas BAB ya. Katanya untuk bisa membangun tank air hujan ini membutuhkan biaya puluhan juta rupiah. Sebelum membangun rumah, orang sini biasanya lebih dulu membangun tempat penampungan air hujan sebelum membangun rumah.

Sementara bagi yang rumah kayu atau rumah panggung, biasanya tempat penampungan air hujan berupa tong besar. Air hujan yang dari atap rumah disalurkan dengan selang ke dalam tong tersebut. Jadi, di kota ini air hujan adalah sumber kehidupan masyarakat. Jika selama berbulan-bulan tak turun hujan dan persedian air hujan habis, maka masyarakat membeli air bersih.

Bahkan air galon yang dijual di toko-toko bukanlah air pegunungan lho, tapi adalah air hujan yang disuling. Kebayangkan gimana rasanya beli air galon yang isinya air hujan.

Sejak tinggal disini saya belajar banyak hal. Salah satunya adalah belajar pada hujan. Bila saat di jakarta saya mengeluh karena hujan, disinilah saya mengerti betapa pentingnya hujan. Bila sebelumnya saya kesal karena terjebak banjir, maka dari sinilah saya merasakan sabar diterpa banjir.

Untuk itu jangan pernah salahkan hujan. Apapun yang terjadi karna disebabkan oleh hujan, jangan pernah mencaci maki. Bahkan seandainya hujan memberantakan semua rencana yang telah kita susun, tetap jangan salahkan hujan. Sebab kita belum merasakan betapa berharganya air hujan.

image
Banjir Pasang