Secangkir Kopi Pengusir Pagi

Bumi tak pernah lelah untuk berputar. Lalu membisikan satu hal yang membuat kita tidak mengerti, yakni belajarlah pada pagi.

Lihatlah seorang gadis yang duduk di sudut kedai kopi itu. Ia terus memandangi matahari yang kian meninggi. Berharap suatu saat ia bisa seperti matahari yang ikhlas menerangi bumi.

Ketika orang tengah terlelap diselimuti dingin, ia sudah menyibakan selimut yang telah menghangatkan tubuh mungilnya. Pertama yang ia ingat adalah Tuhan, sekejap kemudian ia memulai rutinitas yang biasa dilakukakan.

Salah satunya berjalan menuju kedai milik orang Tionghoa dengan jilbab lusuh. Setiba di sana, ia menggenggam setangkai sapu untuk mengurai debu. Di kedai tersebut ia bukan sekedar menyapu, tapi juga meracik secangkir kopi bagi pengunjung pelabuhan.

Satu cangkir sudah terlentang dihadapanku, menyeruput dengan penuh nikmat. Tegukan pertama membuatku sadar bahwa hari ini sungguh luar biasa. Secangkir kopi yang telah menemani ku mengusir pagi.

image

Secangkir Kopi

Kami Sudah Terbiasa Membeli BBM Mahal

Setiap bahan bakar minyak (BBM) naik, selalu ramai yang membicarakan. Mulai dari media, warung, hingga sosial media. Dua hal yang muncul, yakni pro dan kontra. Sayang sekali kenaikan BBM kali ini sering dikaitkan dengan proses pemilu masa lalu.

Pada zaman sekarang BBM merupakan sumber energi yang teramat penting. Mungkin kita tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika tidak ada BBM. Maka akan timbul kekacauan sosial, perhatikan saja saat BBM langka, banyak masyarakat yang resah.

Kenaikan BBM berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa, baik secara langsung maupun tidak langsung. Rentetan kenaikan BBM seperti efek domino yang merembes ke segala arah. Salah satunya adalah kenaikan ongkos transportasi.

Biasanya ongkos kapal laut dari selat panjang ke pekanbaru cuma 120 rb. Sejak kenaikan BBM ongkos pun naik menjadi 175 ribu. Nah, tentu donk ongkos dari selatpanjang ke batam bakal naik juga. Celakanya, kenapa sebelum BBM naik saya tidak mewujudkan keinginan untuk berkunjung ke batam.

Setelah BBM naik, baru deh nyesal menunda keberangkatan. Kata sebagian orang disini ongkos ke batam disini belum naik. Masih harga yang lama, jadi saya masih punya peluang untuk berkunjung ke batam dengan harga tiket yang lama. Mungkin narablog ada yang berasal dari batam? Ayo kita  kopdar!.. hehehe

Oh ya, orang-orang disini (selatpanjang) mungkin tidak terlalu heran dengan tarif kenaikan bensin dari 6.500 menjadi 8.500, sebab sebulum BBM naik kita sudah terbiasa beli bensin dengan harga 8.000 per liter. Bahkan harga bensin bisa mencapai 10.000 perliter.

Hingga postingan ini diterbitkan, saya tak tahu berapa harga bensin perliter nya. Bisa jadi lebih dari sepuluh ribu. Soalnya sebelum BBM naik, semua motor di kantor sudah full ngisi minyak. Lagian sejak tinggal disini saya tak pernah beli bensin karena kendaraan yang saya gunakan adalah sepeda.

Sementara untuk solar, harga dari 5.500 naik menjadi 7.500. Disini kami sudah terbiasa membeli harga solar dengan harga 9.000 per liter. Sejak diumumkan kanaikan BBM, harga solar melejit menjadi 11.000 per liter.

Jika mereka menderita karena kenaikan BBM maka kami dari dulu sudah merasakan penderitaan, dengan harga BBM yang mencekik. Kini, kami makin tercekik karena harga yang kami keluarkan selalu lebih besar dari pada saudara kami yang hidup di daratan. Beginilah dinamika kami sebagai warga negara kepulauan.

Sungai Ujian

Selamat malam waktu, bolehkah aku pergi ke masa lalu. Masa dimana aku belum terlahir di dunia. Ketika itu hidup sekelompok orang yang kisah mereka abadi hingga kini. Kisah yang sering kali terlupakan oleh kami.

Orang-orang tersebut meminta kepada Tuhan untuk mengangkat seorang pemimpin dari kelompok mereka. Tuhan mengabulkan, namun setelah dikabulkan mereka malah menolak pemimpin yang di tunjuk oleh Tuhan. Pemimpin itu bernama Thalut.

Dalam perjalanan Thalut mengingatkan kepada kelompok masyarakat tersebut untuk meminum air sungai dengan secukupnya. Meskipun mereka telah melakukan perjalanan berhari-hari dan merasa kehausan, tetap harus meminum air sesuai dengan kebutuhan.

Namun, banyak diantara mereka meminum air sungai dengan berlebih-lebihan. Hanya sebagian kecil dari mereka yang minum sesuai kebutuhan. Larangan itu bukan berarti tanpa makna. Tuhan telah memperintahkan untuk minum secukupnya, tapi banyak sekali yang ingkar. Itu hanya ujian berupa sungai, belum lagi ujian yang lain. Inilah kisah masyarakat yang diabadikan Allah dalam Al Quran.

Wahai waktu, bolehkah aku pergi ke masa itu dan berbaur dengan orang-orang tersebut. Aku ingin tahu apakah aku akan meminum air sungai secukupnya atau aku malah minum sebanyak-banyaknya sebagaimana kebanyakan orang yang mengabaikan perintah Tuhan.

Waktu, jika engkau tak mengizinkan ku untuk kembali ke masa itu, maka ajarilah aku untuk memetik makna dari kisah tersebut. Di masa ini maupun pada masa yang akan datang. 

Pada masa kini air sungai itu telah menjelma menjadi rupa yang bermacam-macam. Diantaranya berupa nikmat harta, rezeki sampai pada aneka ragam musibah yang mendera manusia. Semua itu adalah bentuk ujian Tuhan, layaknya seperti sungai di masa Thalut.

Sanggupkah aku menghadapi semua ujian hidup tersebut? Baik sekarang maupun yang akan datang. Mungkin hanya waktu yang mampu menjawab pertanyaan itu.

Kini Kotak Itu Telah Bergambar

11 November merupakan tanggal yang tak pernah terlupakan dalam ingatan. Pada tanggal itu aku berani mengambil keputusan yang penting dalam hidup. Mengubah jalan masa depan dengan meninggalkan kebiasaan yang aku bangun di masa lalu.

Saat itu tepat pada 11 November 2007, aku melawan diri sendiri. Bergelut dengan persepsi yang selama ini merusak otak. Maut seakan begitu dekat, menjilat jiwa dalam sebuah kamar kosong di sudut gang semanggi.

Aku tak mengerti apa yang telah ku perbuat, sehingga hukum alam menimpaku di kala itu. Ketidaksanggupan menahan rasa sakit membuat aku bicara pada diri sendiri. Jika Tuhan mengangkat penyakit ku di malam itu, maka aku bertekad tidak akan mengulangi kebiasan buruk lagi.

Sebuah keajiban menghinggapi di pagi yang indah itu. Tuhan mendengar tekad yang tertancap kuat dalam kalbu. Sejak hari itu, aku tak lagi meneruskan kebiasan merokok. Pada tanggal itu aku berhenti merokok.

Hampir tiap tahun aku memperingati tanggal tersebut dengan sebuah tulisan. Meskipun di tahun ini aku tidak menuliskan pada tanggal tersebut, tapi setidaknya tak pernah terlambat menuliskannya. Apalagi memulai berhenti bagi saudara yang berkeinginan untuk merokok.

7 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merajut tekad. Selama itu aku betul-betul merasakan perubahan dalam hidup. Merubah diriku sendiri dengan melawan nafsu yang membujuk ku merokok di masa-masa sebelumnya.

Kini sudah jauh berubah dibandingkan tujuh tahun yang lalu. Salah satunya adalah kemasan rokok yang bergambar menyeramkan. Percayalah gambar itu tak akan mengubah pikirian seorang perokok, sebab yang bisa mengubah adalah diri mereka sendiri.

Namun, kita harus mengapresiasi orang-orang yang berjuang memasukan gambar kedalam  bungkus rokok dengan membuat regulasi berkekuatan hukum.  Setidaknya gambar tersebut membuat orang mulai menyadari bahwa kebiasaan merokok amat berbahaya.