Meracau

Kamu tak akan pernah tahu bagaimana hati bicara, jikalau kamu tak yakin bahwa Tuhan itu ada. Betapa banyak perasaan yang ditumpahkan di dunia ini. Satupun tak luput dari pendengaran Nya.

Tuhan mendengar apa yang terbetik dalam hati, tapi aku tak berani menyampaikan perasaanku. Biarlah aku dan Tuhan yang tahu, bahwa aku nyaris tak bisa lagi menahan semua ini. Mulutku membisu, jari-jari ku mulai kaku. Ingin ku lepaskan apa yang mengganjal di pikiran.

Aku bukanlah kategori orang yang pasrah. Aku sadar bola yang aku lempar ke dinding pasti akan memantul. Itulah analogi dari takdir dimana setiap bola yang kita lempar pasti akan memantul. Persoalannya adalah seberapa kuat kita melempar bola. Jika bola dilempar semakin kuat, maka pantualanya akan semakin jauh, itulah analogi dari nasib.

Jauh lebih penting lagi jika aku mengetahui apa tujuanku melempar bola. Sehingga aku tak lagi merasa seperti mayat hidup yang bergerak tak menentu.

Untuk itulah aku mesti belajar menyelaraskan hati dan pikiran. Agar aku bisa menemukan tujuan. Mau dibawa kemana arah kehidupan ini.

Ingin Kembali

Jika ada yang bertanya apa yang saya rindu saat ini. Maka jawabannya adalah saya rindu menulis. Memang tekad belum terlalu kuat, tapi suatu saat tekad untuk menulis itu akan terus menancap hingga kokoh. Keyakinan itu harus saya tanamkan pada diri.

Sampai saat ini saya tak pernah tahu apa tujuan menulis. Selalu ada alasan untuk menghindar, entah itu karena sibuk atau tak memiliki inspirasi. Sudahlah, alasan hanyalah sebuah dinamika untuk intropeksi diri.

Ada sebuah pernyataan menarik dari seorang penulis ternama, ia berpesan jadikan menulis sebagai suatu kesenangan. Jangan pernah jadikan menulis hanya untuk menerbitkan buku. Kalaupun buku sudah terbit, kita tak akan pernah menemukan kebahagian. Begitupun dengan tujuan yang lain, ketika tujuan itu telah tercapai maka tidak tertutup kemungkinan kita puas dan berhenti menulis.

Apabila menulis dijadikan sebagai sesuatu yang menyenangkan, maka kita tak akan pernah berhenti menulis. Lalu pertanyaan selanjutnya adalah apakah saya sudah senang dengan menulis?

Nah inilah pertanyaan yang membuat saya harus evaluasi diri. Mungkin saya merasa senang jika tulisan dikomentari para narablog. Atau saya merasa senang kita banyak tulisan yang telah di publish di blog ini. Bisa jadi selama ini saya hanya senang jika tulisan dapat pujian, tapi ketika dikritik saya kesal.

Karena itulah saya harus belajar bagaimana merasakan satu perasaan pada dua hal yang berbeda. Misalkan tetap merasa tenang disaat sulit dan lapang. Seperti halnya bersabar dikala tertimpa musibah dan tetap sabar kala diberi anugerah.

Jadi, apapun yang terjadi saya harus bertekad menjadikan menulis sebagai suatu hal yang menyenangkan. Sebab di dunia ini selalu ada dua sisi dalam setiap cerita.

Jelatik

Awalnya saya berpikir satu-satunya alat transportasi dari pekanbaru ke selat panjang hanyalah kapal jelatik. Ternyata dugaan itu salah, sebab selain jelatik yang merupakan kapal kayu itu masih ada beberapa speadboat yakni kapal cepat. Sejak itu saya sadar bahwa banyak pilihan alat transportasi menuju selat panjang, kabupaten kepulauan meranti.

Untuk mengobati rasa penasaran, saya berniat untuk mencoba naik semua alat transportasi tersebut. Pertama berkunjung ke kota itu, saya naik speadboat. Sebelumnya sih rencana naik kapal jelatik. Namun rencana itu gagal karena saya diburu waktu, sementara perjalanan naik jelatik sangatlah lama. Sedangkan jadwal keberangkatan kapal cuma sekali seminggu, itupun hanya hari jumat.

Niat itu saya simpan saja dalam hati. Sehingga ketika tiba masanya, apa yang diniatkan itu dapat terwujud. Tak lama memang menyimpannya, keinginan untuk naik kapal jelatik itu terwujud jua.

Kebetulan ada acara di pekanbaru, untuk menyesuaikan dengan jadwal acara tersebut, maka kami memutuskan untuk naik kapal jelatik pada jumat sore. Sampai di pekanbaru diperkirakan bisa pada sabtu pagi. Acara berlangsung pada hari sabtu siang. Perjalanan menempuh waktu setengah hari lebih.

Banyak sekali kesan dan pengalaman yang saya dapatkan dengan naik kapal jelatik ini. Maklum baru pertama kali naik, jadai saya agak kaget dengan suasana dalam kapal. Penumpang tidur hanya dibatasi dengan papan.  Tidak ada kursi dalam kapal ini. Mau shalat pun kita harus duduk diatas tempat tidur.

Untung waktu saya naik kapal ini penumpang lagi sepi, jadi bisa dapat sekitar dua petak tempat tidur. Ukuran tempat tidurnya hanya sebesar badan saja. Tidak ada kasur dan tidak ada bantal. Alas tidurnya pun hanya kayu yang dilapisi terpal plastik.

Kondisi itu tidak mengurangi rasa penasaran saya mencoba naik kapal ini. Ini adalah pertama kali saya naik alat transportasi yang sama sekali tak terbayangkan oleh pikiran saya sebelumnya.

image

Kapal Jelatik

image

Ukuran Kamar

Jelatik

Awalnya saya berpikir satu-satunya alat transportasi dari pekanbaru ke selat panjang hanyalah kapal jelatik. Ternyata dugaan itu salah, sebab selain jelatik yang merupakan kapal kayu itu masih ada beberapa speadboat yakni kapal cepat. Sejak itu saya sadar bahwa banyak pilihan alat transportasi menuju selat panjang, kabupaten kepulauan meranti.

Untuk mengobati rasa penasaran, saya berniat untuk mencoba naik semua alat transportasi tersebut. Pertama berkunjung ke kota itu, saya naik speadboat. Sebelumnya sih rencana naik kapal jelatik. Namun rencana itu gagal karena saya diburu waktu, sementara perjalanan naik jelatik sangatlah lama. Sedangkan jadwal keberangkatan kapal cuma sekali seminggu, itupun hanya hari jumat.