Waktu yang sempit untuk membaca

Dulu sehabis resign dari tempat kerja, saya pergi ke toko buku terkemuka. Begitu banyak buku tergelatak di rak dengan label harga yang beragam. Di situ saya merasakan kesedihan yang luar biasa. Dengan apa saya akan membeli buku tersebut, sementara penghasilan saat itu tengah terhenti.

Biasanya ketika pergi ke toko buku, patang bagi saya pulang tanpa membelinya. Dalam satu bulan, selalu ada budget pengeluaran untuk membeli buku. Beberapa persen dari gaji sudah disiapkan buat beli buku. Ketika gaji itu terhenti, maka mimpi untuk punya buku seakan terhenti.

Kini, beberapa tahun kemudian. Kerisauan kala itu mulai terjawab. Rezeki yang saya khawatirkan tak mampu beli buku bukanlah penghalang terbesar untuk dapat mengembangkan minat membaca. Ternyata waktu dan kemauan adalah bentuk rezeki yang teramat penting bagi seseorang.

Ketika seseorang diberi kelimpahan uang buat beli buku, maka bisa jadi mereka diberikan kesempitan waktu untuk membacanya. Namun ketika seseorang mempunyai waktu luang untuk membaca buku, maka bisa jadi mereka mendapatkan kesulitan untuk memperoleh dan membeli buku. Beruntunglah orang yang diberikan kedua kesempatan itu, yakni kemampuan membeli dan waktu untuk membaca.

Memang untuk bisa membaca tidak harus membeli buku, dengan meminjam di perpustakaan dan meminjam ke orang lain dapat menjadi solusi. Butuh kemauan yang cukup kuat untuk menumbuhkan minat baca. Tanpa minat baca yang kuat, kaki terasa berat melangkahkan kaki ke perpustakaan.

Rasanya saya seperti berjuang melawan diri sendiri. Menumbuhkan minat baca yang tinggi, menancapkan tekad yang kuat untuk menulis. Melawan rasa malas dan belajar menyiasati waktu agar selalu ada kesempatan untuk membaca, walaupun hanya satu paragraf atau satu kalimat.

Sungguh celaka kiranya ketika ada buku yang akan dibaca, tapi muncul dorongan rasa malas yang entah tiba dari mana. Sehingga buku tersebut terlantar begitu saja. Di situ kadang saya merasa sedih.. :D

Perayaan Imlek di Selatpanjang

image
Keliling Dengan Becak

Tinggal di negeri yang hampir sebagian besar berpenduduk tionghoa saat imlek itu cukup berkesan. Salah satunya adalah menyaksikan perayaan masyarakat tionghoa menyambut pergantian tahun imlek dengan konvoi keliling kota selatpanjang menaiki becak.

Konvoi nya bukan cuma sehari aja lho, tapi selama seminggu berturut-turut sejak hari pertama di tahun imlek. Tradisi ini sudah mereka lakukan bertahun-tahun yang lalu, tak terkecuali di tahun ini. Beruntung saya bisa menyaksikan gegap gempita masyarakat tionghoa di kota selatpanjang pada tahun ini.

Dalam satu becak biasanya diisi minimal dua orang dan maksimal bisa mencapai 6-8 orang. Bacak tersebut sebetulnya motor yg dimodifikasi untuk empat orang. Sebab, di hari biasa becak digunakan sebagai alat transportasi masyarakat. Disini tidak ada angkot ataupun taksi. Kalaupun ada yang bilang taksi, itulah becak motor yang disebut dengan taksi oleh sebagian masyarakat.

Ongkos berkeliling dengan becak saat perayaan ini sekitar 10 ribu per orang. Kalau yang naiknya ramai, ongkosnya bisa nego. Biasanya abang tukang becak mematok harga 50-60 ribu untuk satu kali keliling. Bisa ditawar menjadi 30 ribu untuk enam orang penumpang. Rute keliling nya tidak terlalu jauh, sehingga abang becaknya bisa 4 kali dalam waktu satu jam. Jadi abang becaknya bisa dapat 100 ribuan per hari.

Nah, saat berkeliling dengan becak ini warga tionghoa membawa persedian air. Ada yang airnya dibungkus dalam plastik, ada yang dimasukan ke ember, ada yang berupa air mineral gelas dan ada pula yang pakai pistol air. Saat berkeliling itulah mereka saling menyiram dengan air. Mereka saling lempar air, bahkan di jalanan warga tionghoa juga ikut menyiram orang-orang yang berkonvoi.

Meskipun mayoritas yang konvoi anak-anak dan remaja, namun banyak juga orang tua yang juga ikutan. Biasanya konvoi dimulai sekitar kurang dari jam lima sore dan berakhir sekitar jam setengah tujuh. Menariknya konvoi ini berlangsung tiap hari selama satu minggu ini. Inilah salah satu hiburan di sore hari saat imlek berlangsung di selatpanjang.

Semangattt

Jika ada yang bertanya tentang Ku, katakan Aku dekat (pada orang yang mengikuti perintah Ku). Jangan sedih, Aku akan memberikan pertolongan pada hamba Ku.

Entah kenapa belakangan ini saya merasa begitu jauh dengan Nya.  Apakah saya tidak bisa menghayati ibadah pada Nya. Apakah saya melakukan larangan Nya tanpa disadari.

Entahlah, saya berpikir harus melakukan yang terbaik di setiap aktifitas yang dijalani. Bagaimanapun, Tuhan telah mempersiapkan yang terbaik untuk kita di hari ini. Sejak membuka mata saya selalu optimis bahwa hari ini Allah telah menyiapkan yang terbaik.

Satiap pagi saya bercermin dan bicara pada diri sendiri. Berpikir positif di pagi hari akan memancarkan energi positif juga dalam aktifitas pekerjaan. Seharusnya semangat seperti itu yang harus ditanamkan semenjak pagi.

Namun, semangat itu malah naik turun. Pas mau berangkat samangat kali, tapi ketika udah kerja semangat kembali sirna. Lalu bermacam-macam pikiran negatif bermunculan. Rasanya dihampir setiap kesempatan saya merasa diberikan dua pilihan, yakni berpikir positif atau berpikir negatif.