Prinsip Pagi

Setiap hari saya melalui pagi yang sama. Bangun lalu berangkat kerja. Entah kenapa tiap pagi saya merasakan hal yang berbeda. Kadang bangun dengan semangat dan terkadang merasa tidak bersemangat. Inikah yang disebut dengan satu kondisi dua perasaan. Kita tinggal memilih bahagia atau tidak.

Kondisi seperti ini seharusnya semakin membuat saya sadar tentang siapa saya. Bagaimana saya menghadapinya. Apakah ini pertanda bahwa pagi selalu mengandung rahasia yang sulit terungkap.

Ada beberapa upaya yang telah saya lakukan. Salah satunya bicara pada diri sendiri bahwa hari ini adalah hari yang luar biasa. Saya bicara dengan diri bahwa saya akan melakukan yang terbaik dalam menjalani hari indah ini.

Namun saya masih kewalahan menanamkan dalam pikiran semacam prinsip hidup. Saya menyebutnya dengan prinsip pagi. Yang mana setiap pagi saya harus menanamkan dalam pikiran bahwa hari ini adalah hari terakhir saya hidup. Jika prinsip tersebut sudah tertancap dalam diri, maka akan selalu ada energi dan kekuatan untuk menjalankan hari indah ini.

Disadari atau tidak, kita tidak pernah tahu kapan hidup ini akan berakhir. Bisa jadi siang nanti, sore, malam esok atau lusa kita telah tiada. Untuk itu lakukanlah yang terbaik agar di ujung usia kita tidak menyesal.

Konon penyesalan seseorang sebelum meninggal bukanlah atas apa yang telah mereka lakukan saat hidup, tapi apa yang tidak mereka lakukan dalam hidupnya.

Misalnya sesorang yang diberi pekerjaan, tapi tidak bekerja dengan baik. Seseorang yang diberi jabatan, tapi tidak amanah dalam menjalankan. Seseorang yang diberi waktu, tapi menyia-nyiakan. Banyak lagi hal-hal terbaik yang tidak dilakukan dalam kehidupan ini.

Meragukan Kejujuran Tukang Service

Sulit bagi saya untuk tidak berprasangka. Kali ini prasangka buruk terhadap seorang tukang service AC. Ceritanya bermula saat si tukang service (si A) menjadi langganan untuk perbaiki AC di kantor. Sebelumnya saya tidak tahu kenapa tidak dipakai lagi jasa tukang service sebelumnya (si B). Katanya sih tukang service sebelum ini sering salah memperbaiki, yang tadinya tidak rusak dibilang rusak.

Sehingga si B ini diganti dengan si A. Beberapa bulan belakangan memang hasil kerja si A cukup bagus dibandingkan si B. Itu komentar dari rekan kerja yang lain. Rencananya ada satu unit ac yang gak berfungsi maksimal yang akan saya kasih job ke si A ini.

Suatu hari, ternyata AC tersebut mendadak rusak. Cuma angin saja yang keluar. Jadi saya panggil si A buat ngecek ke kantor. Ternyata si A ini gak bisa datang karena suatu alasan, lagi hari raya. Jadilah saya panggil tukang service AC yang lain, yakni si C. Eh, ternyata si A ini ngambek ketika dia tahu ac tersebut sebelumnya dia yang diagnosa, tapi diperbaiki sama orang lain.

Saya kasih penjelasan, akhirnya dia bisa terima. Namun, sejak itu selulu ada masalah pada ac lain yang dia cek. Listrik langsung membalik ketika ac dihidupkan. Saya khawatir ini merupakan sabotase. Karena udah terlanjur di cek sama si A ini, maka dialah yang memperbaiki. Setiap dia cek ac yang bermasalah, selalu dia bilang kompresor yang rusak.

Meskipun saya gak tahu soal AC tapi saya gak percaya sama omongan si A ini. Sebab tiap service selalu bilang kompresor gak bisa dipakai lagi. Dalam hitungan saya sudah 4 ac yang dibilang kompresornya rusak.

Puncaknya ketika dia mau service ac di ruangan utama, eh malah listriknya membalik (konslet), lalu di bilang kompresor rusak. Padahal tak pernah sebelumnya konslet gitu, tapi setelah dia pegang kok malah konslet.

Jadi kepercayan saya jadi hilang sama si A ini. Tapi untuk mendapatkan tukang service ac bagus di kota ini cukup susah. Si C yang memperbaiki ac yang bermasalah sebelumnya malah lebih parah lagi. Belum satu bulan, ac yang diperbaikinya malah rusak lagi.

Kondisi seperti ini membuat saya sedikit risau. Sebab ruang utama ini butuh pendingin agar tidak menggangu pelayanan. Nyari tukang ac bagus dan jujur susahnya minta ampun.

Oleh karena itu saya tidak boleh dihantui oleh kondisi seperti ini. Saya harus mengadapi dengan pikiran positif. Berupaya untuk tidak berprasangka macam-macam. Meskipun sulit bagi saya mengenyampingkan fakta yang terjadi diatas yang membuat saya berprasangka buruk.

Mungkin ini pengalaman bagi saya untuk belajar mengendalikan pikiran tanpa prasangka. Ternyata hasil bagus saja tidak cukup, mesti jujur pada pelanggan.

Tekad Kuat Untuk Melawan Rasa Malas

Mumpung gak ada topik spesifik yang mau dibahas, maka saya jadi pengen nulis asal aja. Dimulai dari weekend beberapa hari yang lalu di pekanbaru. Pulang ke pekanbaru masih terasa mahal, sebab ongkos kapal aja sudah habis ratusan ribu rupiah, belum lagi transportasi daratnya. Soalnya bukan masalah uang sih, tapi masalah waktu. Lagi pula di pekanbaru cuma 30 jam. Kalau gak ada tujuan yang penting, saya lebih memilih untuk stay di selatpanjang saja.

Nah, karena kemaren itu pengen jemput dokumen untuk syarat ngurus pasport, maka sayapun berangkat ke pekanbaru jumat sore naik kapal “titanic” versi orang selatpanjang. Berangkat jam 4 sore, sampai di pekanbaru jam 7 pagi. Gak kebayang capeknya, sebab penumpang mesti tidur beralaskan kayu karena kapal “titanic” yang disebut dengan kapal jelatik ini terbuat dari kayu.

Sampai di pekanbaru bingung mau kemana. Ujung-ujungnya pergi ke pusat perbelanjaan buat beli kebutuhan skunder selama merantau di negeri pulau melayu ini. Nah, kebetulan singgah di toko buku. Sulit sekali membendung hasrat untuk membeli sebuah buku motivasi yang saya incar begitu lama. Buku karya Anthony Robbins yang berjudul unlimited power.

Dengan membaca buku ini saya berharap dapat meningkatkan motivasi untuk menulis dan ngeblog. Dengan buku ini saya berharap dapat mengembangkan diri. Menggali kekuatan diri untuk dapat dijadikan sebagai peluru untuk menghadapi segala realitas kehidupan.

Sesampai buku di tangan, makin banyak saja godaan untuk malas membacanya. Jadi buku baru yang dibeli makin numpuk dalam koleksi antrian. Memang butuh tekad yang kuat untuk melawan rasa malas.

Pengen Cepat Hari Senen?

Ketika diatas kapal tadi, saya merasakan kegelisah di dalam hati. Tiba-tiba muncul rasa takut untuk menginjakan kaki di negeri rantau ini. Negeri pulau yang terhampar di sebelah timur pulau sumatera. Tidak seperti biasanya, dimana saya melangkah dengan semangat.

Namun, saya tersadar bahwa saya harus melalui suratan takdir ini. Saya harus mengubah nasib menjadi seorang yang terus belajar mengembangkan diri. Tidak takut pada masa depan dan jangan terpenjara oleh masa lalu.

Saya tak pernah tahu besok itu seperti apa, apa yang akan terjadi pada diri saya. Jika intropeksi diri, mungkin saya masih membiasakan untuk menunda-nunda. Baik dalam pekerjaan maupun dalam aktifitas keseharian. Ketika bangun tidur untuk shalat subuh, malah bangun cuma buat matikan alarm sehingga shalat subuh malah tertunda.

Entah dimana, saya pernah membaca pernyataan seorang motivator ternama, bahwa untuk mengatasi stres yang kita alami di dunia kerja adalah dengan tidak menunda pekerjaan. Rasa tidak nyaman bekerja itu sebetulanya disebabkan oleh diri kita sendiri, bukan orang lain. Salah satu penyebabnya suka menunda pekerjaan.

Bagi saya mengukur nyaman atau tidaknya bekerja, khususunya karyawan, adalah dengan melihat bagaimana seseorang menyambut hari dimana mulai kembali bekerja setelah hari libur, yaitu hari senen. Jika seseorang pengen cepat hari senen atau ingin cepat masuk kerja, maka bisa dikatakan orang tersebut sedang menikmati pekerjaannya.
Melakukan pekerjan yang sesuai dengan kesenangan kita, itu sudah merupakan nikmat Tuhan yang amat luar biasa.