Hari Bolgger Nasional, yahh !!!

Eh, ternyata hari ini adalah hari blogger nasional yah. Kok jadi gak update gini sih, rasanya seperti kuper. Padahal udah bertahun-tahun ngeblog tapi gak tau kapan hari blogger nasional itu.

Lebih baik terlambat tahu sih, dari pada tidak tahu sama sekali. Apalagi selama ini suka berkecimpung di dunia perblogan. Walaupun ngeblog sering angin-anginan, kadang semangat nulis dan kadang malasnya tingkat dewa.Wajar sih, sebab hal itu pernah dialami oleh semua orang. Baik saat nulis di blog maupun dalam aktifitas kehidupan lainnya.

Nah disini saya tak mau lagi ngeluh soal blog yang lumutan ini. Saya malah ingin bertanya, khususnya pertanyaan ini di tujukan pada diri sendiri. Namun, bahasa dari pertanyaan nya seperti tertuju kepada orang lain.

Diantara pertanyaan itu adalah apa tujuan kamu ngeblog? Apa yang kamu harapkan dari ngebolg? Seberapa besar komitmen mu untuk terus ngeblog? Apa saja manfaat yang kamu dapatkan dari ngeblog?

Disini bukanlah saatnya saya untuk menjawab pertanyaan itu. Saya hanya ingin pertanyaan itu menjadi pondasi bagi saya untuk mengevaluasi kenapa saya harus bertahan untuk terus ngeblog. Semua orang mempunyai jawaban yang berbeda. Dan jawaban itu adalah motivasi untuk diri sendiri. Bukankah motivator yang hebat itu adalah diri kita sendiri, bukan orang lain.

Selamat hari blogger nasional, semoga kita dapat menebar kebaikan melalui blog. Salam

Kelumpuhan Aksara

Selamat pagi dunia maya, selama ini kenyataan membuat diriku tak cukup waktu untuk singgah di dunia mu. Apalagi di blog yang menjadi ladang mimpi ku ini. Aku tak mau berkeluh kasah lagi. Aku hanya ingin merasakan kenikmatan menulis tanpa mengharapkan sesuatu.

Jujur aku tak tahu harus mulai dari mana. Bahkan aku tak tahu mau buat judul apa. Celakanya aku tak tahu mau menulis apa. Mungkin perasaan membuat jari-jari ku kehilangan kendali.

Betapa banyak cerita yang semestinya aku tuliskan. Tapi jari ku membisu, tak mampu menuliskan sepatah kata pun. Betapa banyak ide yang menggantung di pikiran ku, namun aku tak sanggup mencurahkan kedalam aksara. Disinilah aku merasakan kelumpuhan manfaat dari potensi yang talah di anugrahkan Tuhan.

Memang aku harus keras kepada diriku sendiri. Tidak membiarkan sifat menunda menguasai diriku. Membuang rasa malas yang merasuki jiwa ku. Aku harus ingat, bahwa menulis itu butuh proses. Jangan sampai sifat buruk seperti diatas menghancurkan proses yang aku perjuangkan.

Kita mungkin akan berhenti mengerjakan sesuatu, tapi kita tak akan pernah berhenti untuk menulis. Waktu tak akan pernah menghentikan hasrat menulis. Hanya satu hal yang bisa menghentikan kita menulis, yaitu kematian.

Rasa Bersalah

Setidaknya saya masih bersyukur karena memiliki rasa bersalah telah menelantarkan blog ini dalam beberapa hari belakangan ini. Kesibukan selalu menjadi tumbal, tapi saya tidak mau menyalahkan keadaan karena kesalahan ada pada diri sendiri. Kesalahan itu adalah membiarkan waktu membunuh kesempatan saya untuk menulis.

Bulan kemaren saja cuma empat tulisan yang dipublish, nah bulan ini satu tulisan saja belum ada. Inilah tulisan pertama di bulan ini. Tulisan yang merefleksikan rasa bersalah dalam diri yang sudah amat jarang ngeblog. Bukan hanya menulis, intensitas blogwalking pun sudah turun ke titik nadir. Dalam hal ini yang jadi kambing hitam adalah koneksi.

Memang berasa sekali ketimpangan pembangunan antara daerah pelosok dengan daerah perkotaan. Ketika berada di daerah pelosok, susah kali dapat sinyal untuk internet. Namun, setiba di perkotaan sinyal langsung kencang. Jadi berinternet pun bisa lebih maksimal.

Perbedaan tersebut menjadi sebuah kenyataan yang dihadapi. Hanya butuh sikap bijak untuk menghadapi dua kenyataan yang berbeda itu. Menulis memang membutuhkan komitmen. Apapun keadaannya, menulis mesti menjadi tekad yang kuat. Tak ada akses internet, kertas pun bisa menjadi alat.

Jadi tak ada alasan. Inilah yang mesti saya tanamkan dalam pikiran. Tetap menulis dalam keadaan apapun. Bukankah lebih nikmat berbagi disaat sempit dari pada saat lapang. Seperti berlayar setelah badai akan memberikan kepuasan dari pada berlayar di laut yang tenang.

Salah Pilih Pemimpin

Tertangkapnya Anas Mamun, gubernur Riau terkait kasus korupsi di jakarta menjadi buah bibir di tengah masyarakat Riau. Hal itu saya alami secara langsung karena saat ini masih berdomisili di daerah selatpanjang yang masuk dalam provinsi Riau. Dimana-mana mereka bercerita berita anas tersebut.

Tentunya rakyat yang telah memilih Anas pada pemilihan gubernur beberapa waktu lalu akan merasa sangat kecewa. Kepercayaan mereka dikhianati. Tapi kita seharusnya tetap berpijak pada azas praduga tak bersalah. Kalaupun nanti terbukti bersalah, biarkan sosok yang populer di panggil atuk itu mempertanggung jawabkan perbuatannya.

Entah kebetulan atau tidak, di hari yang sama orang-orang yang kecewa tersebut akan menghela nafas lega karena mereka tak lagi dihantui penyesalan lagi bila salah pilih, karena kedepan pemimpin daerah akan dipilih oleh DPRD, bukan mereka lagi yang langsung memilih. Peraturan ini telah disetujui di sidang DPR yang penuh dengan sandiwara.

Celakanya banyak yang tidak setuju jika pemimpin daerah dipilih oleh DPRD, sebab dikhawatirkan akan menumbuhkan bibit korupsi di legislatif lokal. Berlakunya peraturan tersebut bagaikan kembali pada memori masa orde baru, dimana sistem tersebut jadi ladang korupsi yang sungguh akut.

Tragisnya lagi, jika seandainya pemilihan kepala daerah tetap dipaksakan maka akan ada biaya politik yang amat besar dikeluarkan oleh calon, sehingga ketika mereka berkuasa yang terpikirkan hanya bagaimana mengeluarkan kembali biaya tersebut dengan menguras uang negara.

Buktinya pun selama ini pilkada langsung tidak menjamin korupsi menurun. Faktanya makin banyak kepala daerah yang tersangkut kasus korupsi, nah kasus terakhirnya pas sekali dilakoni oleh atuk.

Jadi yang bagusnya apa donk? Dipilih langsung oleh rakyat atau dipilih oleh anggota DPRD? Bagaimana sih pendapat dari narablog?